KH Fahrurrodzi di Jepara: Menemukan Jalan Lurus Melalui Makna Surat Al-Fatihah
PWMJATENG.COM, JEPARA – Suasana sejuk Ahad dini hari menyelimuti Masjid Al-Istiqomah Tahunan, Jepara. Sejak sebelum azan Subuh berkumandang, jamaah memadati masjid tersebut. Melalui program Ahad Barokah, takmir masjid sukses menggelar Shalat Subuh berjamaah serta menyuguhkan kajian keislaman mendalam.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara, KH Fahrurrodzi, hadir sebagai penceramah utama. Beliau mengajak seluruh jamaah menadabburi Surat Al-Fatihah secara komprehensif. Surat tersebut tidak sekadar menjadi bacaan wajib dalam shalat, melainkan doa kehidupan yang menuntun setiap muslim menuju rida Allah SWT.
Makna Mendalam di Balik Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah memegang posisi istimewa karena umat Islam membaca surat ini minimal tujuh belas kali setiap hari dalam shalat fardhu. Meskipun demikian, sebagian masyarakat kerap melafalkannya tanpa memahami kandungan doa yang agung di dalamnya.
“Setiap shalat, setiap waktu, surat itu kita baca minimal tujuh belas kali setiap hari. Surat Al-Fatihah merupakan sebuah doa dan harapan,” ungkap KH Fahrurrodzi di hadapan ratusan jamaah.
Inti permohonan agung tersebut terletak pada kalimat Ihdinaṣ-Ṣirāṭal Mustaqīm. Frasa ini merepresentasikan permohonan terbesar manusia agar senantiasa memperoleh petunjuk serta terhindar dari kesesatan dunia.
Mengawali Amal dengan Basmalah
Sebelum mengupas makna jalan yang lurus, beliau mengulas pentingnya kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar setiap pekerjaan baik dimulai dengan menyebut nama Allah agar mendatangkan keberkahan.
Seorang muslim hendaknya tidak memisahkan urusan dunia dan akhirat. Berdasarkan teladan Rasulullah SAW, setiap aktivitas positif harus diawali dengan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah. Kebiasaan mulia ini berfungsi menghadirkan nilai ibadah dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari.
Golongan Penerima Nikmat Allah
Allah SWT memberikan jawaban langsung atas permohonan jalan yang lurus melalui firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 69. Berdasarkan ayat tersebut, terdapat empat golongan manusia yang memperoleh nikmat Allah SWT.
-
Para Nabi: Golongan utama yang dipilih Allah untuk membawa risalah kebenaran.
-
Ash-Shiddiqin: Orang-orang yang senantiasa menjaga kejujuran dan ketakwaan dalam komunitas yang baik.
-
Para Syuhada: Pejuang yang membela agama dan kehormatan semata-mata mengharap rida Allah.
-
Orang-Orang Saleh: Hamba yang senantiasa bersegera melakukan kebaikan dan mendidik keluarganya dengan nilai Islam.
Sedekah sebagai Bekal Kehidupan
Pada sesi penutup kajian, KH Fahrurrodzi menekankan pentingnya mempersiapkan amal saleh sebelum batas akhir kehidupan tiba. Ketika menghadapi kematian, manusia tidak meminta tambahan harta, melainkan kesempatan untuk kembali bersedekah.
Melalui momentum Ahad Barokah ini, jamaah menyerap pelajaran berharga untuk menjadikan Surat Al-Fatihah sebagai pedoman hidup nyata. Pemahaman yang utuh terhadap surat ini melahirkan generasi yang istiqamah, jujur, serta senantiasa berada dalam naungan petunjuk Allah SWT.
Kontributor: Muslim
Editor: Al-Afasy



