Kolom

Bayang-Bayang Jurnal Fast Track: Ketika Kampus Mulai Kehilangan Peneliti

Oleh: Heri Isnaini

“Pak, jurnal yang paling cepat memberikan Letter of Acceptance (LoA) yang mana?”

Pertanyaan itu meluncur santai dari seorang mahasiswa yang sedang mempersiapkan tugas akhirnya. Mendengar hal itu, saya sempat tertegun sejenak.

Semula, saya menduga ia akan mengajak berdiskusi tentang rumusan masalah, metodologi penelitian, atau teori yang paling tepat untuk membedah data. Namun ternyata, dugaan saya keliru.

Hal pertama yang ingin ia ketahui bukan bagaimana cara menyusun penelitian yang matang dan berkualitas. Fokus utamanya adalah bagaimana secepat mungkin memenuhi syarat kelulusan.

Belajar Mengejar Kecepatan, Bukan Kedalaman

Saya tentu tidak bisa menyalahkan mahasiswa tersebut. Ia hanya sedang membaca arah angin yang berembus di lingkungan kampus hari ini.

Ketika sistem pendidikan lebih menghargai kecepatan daripada kedalaman, secara alami orang akan belajar mengejar kecepatan. Akibatnya, saat jumlah publikasi menjadi satu-satunya alat ukur, orang-orang akan berlomba mencari jurnal secara pragmatis.

Ketika ukuran keberhasilan direduksi menjadi selembar surat penerimaan, maka LoA perlahan berubah menjadi tujuan utama. Proses penelitian yang matang akhirnya dikesampingkan.

Sejak momen itu, saya terus merenungkan persoalan yang jauh lebih mendasar. Barangkali, masalah pendidikan tinggi kita hari ini bukan semata-mata tentang kebijakan skripsi yang diganti dengan artikel ilmiah. Lebih dari itu, yang sedang bergeser adalah cara kita memaknai penelitian, bahkan cara kita memaknai esensi pendidikan itu sendiri.

Pergeseran Orientasi: Dari Logika Ilmiah ke Administratif

Sebenarnya, saya tidak termasuk dalam golongan yang menolak kebijakan publikasi artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi. Gagasan ini sejatinya memiliki banyak sisi positif yang patut diapresiasi.

Melalui kebijakan ini, mahasiswa diperkenalkan lebih dini pada budaya publikasi ilmiah. Mereka belajar menulis sesuai kaidah akademik, mengenal proses peer review (telaah sejawat), serta berkontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Di berbagai perguruan tinggi bereputasi global, publikasi memang menjadi bagian integral dari pendidikan berbasis riset.

Namun, kita harus ingat bahwa setiap kebijakan selalu melahirkan budaya baru. Budaya tersebut lama-kelamaan akan menubuh menjadi kebiasaan sehari-hari. Apa yang mula-mula hanya berupa aturan administratif, perlahan tapi pasti berubah menjadi cara berpikir kolektif.

Ketika artikel ilmiah dijadikan syarat mutlak kelulusan, orientasi mahasiswa ikut bergeser secara drastis. Pertanyaan mendasar tentang kualitas penelitian kini berubah menjadi pencarian info jurnal yang paling cepat menerima naskah.

Diskusi hangat mengenai argumentasi ilmiah kini digantikan oleh obrolan taktis mengenai biaya publikasi, jalur fast track, dan peluang memperoleh LoA instan. Penelitian yang semestinya menjadi perjalanan intelektual yang indah, kini menyusut menjadi sekadar gugatan administratif yang melelahkan.

Terjebak dalam Pusaran Target dan Akreditasi

Fenomena ini sesungguhnya bukan murni kesalahan mahasiswa. Mereka hanya merespons sistem insentif yang dibangun oleh institusi perguruan tinggi itu sendiri.

Persoalan ini menjadi kian kompleks ketika orientasi pragmatis serupa juga menjangkiti tata kelola kampus. Hari ini, akreditasi, indikator kinerja utama (IKU), publikasi ilmiah, pemeringkatan internasional, hingga masa studi mahasiswa saling berkelindan.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan instrumen evaluasi tersebut. Akreditasi itu penting. Publikasi itu krusial. Evaluasi mutu juga sangat dibutuhkan. Tanpa adanya ukuran yang jelas, akan sulit bagi kampus untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki diri.

Namun, kita harus sangat waspada ketika alat ukur perlahan-lahan mengambil alih tujuan utama dari pendidikan itu sendiri.

Sedikit demi sedikit, mahasiswa diposisikan sebagai deretan angka yang harus memenuhi target statistik. Mereka dituntut lulus tepat waktu, menghasilkan artikel ilmiah, mendongkrak capaian institusi, dan menyumbang poin akreditasi.

Di sisi lain, para dosen terus didorong mengejar produktivitas publikasi. Program studi sibuk memenuhi indikator, sementara kampus berlomba menaikkan peringkat. Semua pihak bergerak sangat cepat, tetapi sayangnya tidak selalu bergerak ke arah yang sama.

Di tengah hiruk-pikuk mengejar angka tersebut, ada satu pertanyaan krusial yang kerap luput kita ajukan: Apakah kampus masih menyediakan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk belajar berpikir?

Mengembalikan Ruh Akademik dan Kemerdekaan Berpikir

Berpikir adalah jantung dari pendidikan tinggi. Berpikir bukan sekadar kemampuan mengutip teori, mengolah data statistik, atau menulis artikel ilmiah secara mekanis.

Berpikir adalah keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang sudah dianggap mapan. Ia adalah kesediaan menerima kritik, kerendahan hati mengakui kekeliruan, serta ketekunan tanpa batas dalam mencari kebenaran.

Sebuah penelitian menuntut laku intelektual yang mendalam seperti itu. Proses ini membutuhkan kesabaran dalam membaca, ketelitian dalam mengamati, kejujuran dalam menyimpulkan, serta keberanian merevisi keyakinan pribadi saat fakta lapangan menunjukkan arah yang berbeda.

Oleh karena itu, penelitian bukan sekadar alat untuk memproduksi artikel. Penelitian adalah kawah candradimuka untuk membentuk watak ilmiah manusia.

Di sanalah mahasiswa belajar bahwa jawaban yang baik selalu lahir dari pertanyaan yang berkualitas. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak dibangun oleh keyakinan yang paling keras, melainkan oleh kerendahan hati untuk terus belajar.

Jika proses yang bernilai ini dipangkas begitu saja demi mengejar target publikasi cepat, maka yang hilang bukan sekadar kualitas penelitian. Kita akan kehilangan pengalaman intelektual berharga yang membentuk karakter manusia.

Gejala ini mengingatkan kita pada pemikiran adiluhung Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, menurut beliau, adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Kata kunci dari gagasan tersebut adalah menuntun. Pendidikan bukan proses menyeragamkan manusia melalui angka-angka kuantitatif, bukan pula sekadar mengarahkan mereka untuk memenuhi indikator administratif. Pendidikan adalah ikhtiar merawat manusia agar mampu berpikir secara merdeka.

Kampus Bukan Pabrik Artikel Ilmiah

Dalam semangat itulah kampus seharusnya berdiri tegak. Kampus bukanlah pabrik ijazah, bukan pula pabrik artikel ilmiah massal. Kampus bukanlah mesin dingin yang bekerja semata-mata demi mengejar status akreditasi.

Sejatinya, kampus adalah ruang suci untuk merawat ruh akademik. Sebuah tempat di mana rasa ingin tahu dipelihara, keraguan dihargai, perdebatan ilmiah dirawat, dan pencarian ilmu pengetahuan dijadikan bagian dari laku kehidupan. Di sanalah kebebasan berpikir menemukan bentuk terbaiknya.

Kampus memang memerlukan akreditasi yang baik dan publikasi yang bermutu tinggi. Namun, keduanya harus tetap diposisikan sebagai alat penunjang mutu, bukan sebagai tujuan akhir yang menggeser esensi pendidikan itu sendiri.

Sebab, ketika indikator administratif berubah menjadi tujuan utama, mahasiswa perlahan belajar bahwa yang penting bukan lagi memahami esensi persoalan, melainkan memenuhi persyaratan formal. Mereka belajar cara mengejar kelulusan cepat, bukan cara mencintai pengetahuan.

Mereka akhirnya dibentuk untuk cepat selesai, bukan untuk tumbuh menjadi manusia yang berpikir kritis. Di titik inilah, perlahan tapi pasti, ruh akademik mulai memudar dan sirna.

Pada akhirnya, artikel ilmiah hanyalah salah satu bentuk dari laporan penelitian, bukan tujuan akhir dari penelitian itu sendiri. Publikasi yang bereputasi lahir dari penelitian yang jujur.

Penelitian yang jujur hanya bisa tumbuh dari budaya akademik yang sehat. Dan budaya yang sehat itu hanya akan mekar di kampus yang setia merawat kebebasan berpikir, keberanian bertanya, serta kejujuran intelektual.

Kampus boleh saja bangga dengan raihan akreditasi unggul, publikasi yang melimpah, atau lompatan peringkat internasional. Namun, segala kebanggaan itu akan kehilangan maknanya apabila kampus gagal melahirkan manusia yang mampu memaknai ilmu sebagai jalan kehidupan.

Bukankah sejak awal mula didirikan, kampus bertugas menuntun lahirnya manusia yang merdeka dalam berpikir?

Jika api pertanyaan itu tetap kita rawat bersama, maka ruh akademik di kampus akan tetap menyala. Dari ruh itulah, kelak akan lahir para peneliti, ilmuwan, dan pendidik sejati yang menjadikan ilmu pengetahuan bukan sekadar profesi, melainkan sebuah laku kehidupan.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://aku.ac.id/https://akperstg.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/