Hadapi Krisis Iklim, Muhammadiyah Perkuat Aksi Iklim Lintas Iman
PWMJATENG.COM, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk mengendalikan krisis iklim melalui kolaborasi lintas agama. Oleh karena itu, Muhammadiyah bersama para mitra menggelar acara penandatanganan Nota Kesepahaman dan Piagam Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Pada kesempatan tersebut, Ketua PP Muhammadiyah, Prof Syafiq A Mughni, menyatakan bahwa krisis iklim merupakan tantangan bersama seluruh umat manusia. Menurutnya, organisasi keagamaan memikul tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga bumi.
“Menjaga bumi dan mengendalikan krisis iklim merupakan ikhtiar melindungi kehidupan. Bahkan, langkah ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus pengamalan keimanan,” tegas Prof Syafiq A Mughni saat Yayasan Amanah Daya Nusantara (AYANA) menginisiasi acara tersebut.
Kolaborasi Lintas Agama untuk Bumi
Selanjutnya, Prof Syafiq menjelaskan bahwa setiap organisasi keagamaan memiliki potensi besar. Namun, aksi bersama akan menciptakan dampak yang jauh lebih luas bagi kelestarian lingkungan.
Yayasan AYANA membentuk Sekretariat Bersama ini sebagai langkah konkret hasil rangkaian Focus Group Discussion (FGD). Sebab, forum tersebut melibatkan perwakilan organisasi dari enam agama resmi di Indonesia.
Kemudian, Direktur Eksekutif AYANA, Rizal Algamar, menekankan pentingnya penggabungan tiga pilar utama. Pilar tersebut mencakup aspek teologi, ekologi, dan ekonomi untuk merespons krisis iklim secara efektif.
“Teologi tanpa aksi praktis hanya berhenti pada wacana. Sementara itu, pembangunan ekonomi yang mengabaikan ekologi akan memperbesar kerentanan masyarakat,” jelas Rizal.
Ekosistem dan Peran Generasi Muda
Selain itu, Muhammadiyah sendiri telah membangun ekosistem kelembagaan yang kuat guna mengatasi dampak krisis iklim. Oleh sebab itu, ekosistem ini menggerakkan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) serta Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ‘Aisyiyah di seluruh penjuru Indonesia.
Di samping itu, persyarikatan mengoperasikan Muhammadiyah Climate Center (MCC) sebagai pusat kajian akademis. Hasilnya, pusat studi ini aktif memproduksi pengetahuan dan riset mendalam terkait krisis iklim.
Bahkan, gerakan ini juga merangkul generasi muda melalui program Eco Bhinneka Muhammadiyah. Oleh karena hal tersebut, inisiatif inklusif ini mendorong pemuda lintas iman untuk aktif dalam pelestarian lingkungan.
Sebab, Eco Bhinneka meluncurkan program unggulan seperti 1000 Cahaya untuk transisi energi di pesantren dan sekolah. Selain itu, mereka menggalakkan program SMILE untuk kepemimpinan pemuda serta GreenAbility untuk aksi konservasi difabel.
Akhirnya, melalui Sekretariat Bersama ini, seluruh peserta langsung menyusun tata kelola dan rencana aksi strategis. Langkah aktif Muhammadiyah ini sekaligus mempertegas aksi nyata pimpinan keagamaan dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Kontributor: Nadri
Editor: Alafasy



