Berita

KH Tafsir: Pendidikan Muhammadiyah dan Kesehatan Jadi Fondasi Kemajuan Bangsa

PWMJATENG.COM, SEMARANG — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Dr. KH Tafsir, M.Ag. menyebut pendidikan dan kesehatan sebagai dua hal penting dalam membangun bangsa yang maju. Hal itu ia sampaikan saat mengisi materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam Masa Ta’aruf (Masta) mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Selasa (8/9/2026).

Menurut KH Tafsir, sebuah bangsa sulit maju jika pendidikan dan kesehatan masyarakatnya belum baik. Atas dasar itulah Muhammadiyah sejak awal banyak bergerak di dua bidang tersebut.

“Untuk menjadi bangsa yang maju, minimal dua hal ini harus baik. Pendidikannya bagus, kesehatannya bagus,” ujar KH Tafsir.

Ia kemudian mengajak mahasiswa melihat kembali kondisi Indonesia pada masa awal berdirinya Muhammadiyah. Saat itu, masyarakat hidup dalam penjajahan dan menghadapi persoalan kemiskinan, kebodohan, serta keterbelakangan.

Situasi tersebut, kata KH Tafsir, ikut melatarbelakangi gerakan KH Ahmad Dahlan. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga lewat kerja nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

Pendidikan Muhammadiyah Jadi Jalan Kemajuan

Dari situlah pendidikan Muhammadiyah berkembang. Sekolah-sekolah didirikan untuk membuka akses belajar sekaligus membantu masyarakat keluar dari kebodohan dan keterbelakangan.

“Itulah kenapa kemudian dari awal sampai sekarang yang menjadi program utama Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan,” ujar KH Tafsir.

Ia menyebut pendidikan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan dari upaya membangun masyarakat yang maju. Pendidikan membentuk manusia yang berilmu, sementara kesehatan membuat masyarakat mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Di Jawa Tengah, jaringan pendidikan Muhammadiyah kini tersebar luas. KH Tafsir menyebut terdapat 1.678 sekolah Muhammadiyah di luar Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Jawa Tengah juga memiliki 23 perguruan tinggi. Dari jumlah tersebut, 15 di antaranya berbentuk universitas, termasuk UNIMUS.

Bagi KH Tafsir, banyaknya sekolah dan perguruan tinggi bukan sekadar soal jumlah. Yang lebih penting adalah sejauh mana lembaga pendidikan tersebut mampu melahirkan sumber daya manusia yang berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Pendidikan dan Kesehatan Berjalan Bersama

Selain pendidikan, Muhammadiyah sejak lama mengembangkan layanan kesehatan. Di Jawa Tengah, KH Tafsir menyebut terdapat 56 rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Keberadaan rumah sakit itu juga membuka ruang bagi lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah untuk bekerja dan mengembangkan keahliannya. Mahasiswa bidang kesehatan, misalnya, memiliki peluang untuk mengabdi di jaringan rumah sakit Muhammadiyah.

Namun, pendidikan dan kesehatan bukan satu-satunya bidang yang digarap. Muhammadiyah juga bergerak di bidang sosial karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Dari kebutuhan itu, lahirlah berbagai panti asuhan dan layanan sosial Muhammadiyah. Tiga bidang tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting dari gerakan Muhammadiyah: pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Bagi Muhammadiyah, dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran agama. Dakwah juga hadir melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai layanan yang langsung dirasakan masyarakat.

Tantangan Berikutnya: Meningkatkan Kualitas

KH Tafsir juga berbicara tentang tantangan Muhammadiyah saat ini. Menurut dia, pertumbuhan jumlah amal usaha sudah sangat besar. Pekerjaan berikutnya adalah memperbaiki kualitas.

“Untuk sekarang mungkin sudah dianggap selesai secara kuantitatif. Tinggal sekarang kualitatif, meningkatkan kualitas,” ujar KH Tafsir.

Artinya, pendidikan Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki banyak sekolah dan perguruan tinggi. Mutu pembelajaran, kualitas lulusan, serta manfaatnya bagi masyarakat juga harus terus diperbaiki.

Hal yang sama berlaku bagi rumah sakit dan layanan sosial Muhammadiyah. Banyaknya lembaga harus diikuti pelayanan yang semakin baik.

Di hadapan mahasiswa UNIMUS, KH Tafsir juga bercerita tentang alumni yang bekerja di luar negeri. Ia menyebut ada sejumlah lulusan UNIMUS yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Osaka, Jepang.

Cerita tersebut menjadi contoh bahwa lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah juga memiliki peluang untuk bekerja di tingkat internasional. Bekal ilmu dan keterampilan menjadi hal penting agar mereka mampu bersaing di dunia kerja.

Tajdid dan Cara Berpikir yang Terus Berkembang

Pada bagian lain, KH Tafsir membahas tajdid sebagai salah satu ciri gerakan Muhammadiyah. Ia menjelaskan, pembaruan bukan berarti mengubah Al-Qur’an, hadis, atau ajaran Islam.

“Yang diperbaharui bukan Islamnya. Muhammadiyah tidak akan mengubah Islam. Yang diperbaharui pola pikirnya, yang diperbaharui cara berpikir, yang diperbaharui cara memahami Islam,” ujar KH Tafsir.

Menurut dia, umat Islam perlu terus memperbarui cara berpikir agar mampu menghadapi perubahan zaman. Pendidikan memiliki peran besar dalam proses tersebut.

KH Tafsir juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tetapi gerakan Islam yang terus bekerja melalui gagasan dan kegiatan nyata di tengah masyarakat.

Gerakan itu tampak dalam sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan pelayanan sosial yang tumbuh di berbagai daerah. Semua itu berangkat dari cita-cita yang sama: menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan ikut memajukan bangsa.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *