Jihad Ekologi: Santri Shirathun Najah Ubah Sampah Jadi Aquascape di Bulan Ramadhan

PWMJATENG.COM, POLOKARTO – Ramadhan sering kali identik dengan peningkatan konsumsi dan tumpukan sampah plastik. Namun, pemandangan berbeda terlihat di PPTQ Shirathun Najah, Polokarto. Melalui kolaborasi dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Cabang Blimbing, para santri menggelar aksi Green Ramadhan dengan mengusung tema Recycle Sampah, Sabtu (21/2).
Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), sebuah momentum untuk merefleksikan kembali tragedi longsor sampah Leuwigajah 2005 silam agar tidak terulang kembali melalui langkah nyata dari bilik pesantren.
Edukasi ekologis kali ini tidak sekadar teori. Para santri diajak bersentuhan langsung dengan teknologi sederhana namun berdampak besar. Salah satunya adalah pengoperasian mesin paper shredder (penghancur kertas) untuk mengolah tumpukan kertas bekas menjadi bahan baku yang siap dimanfaatkan kembali.
Tak berhenti di situ, kreativitas santri diuji dalam mengolah limbah plastik. Botol dan gelas plastik disulap menjadi pot tanaman untuk program Apotek Hidup pesantren. Bahkan, galon bekas yang biasanya menumpuk kini bertransformasi menjadi Aquascape yang bernilai estetika tinggi dan edukatif.
Ketua MLH Cabang Blimbing, AM Efendi, menegaskan bahwa Green Ramadhan adalah bagian dari dakwah ekologis. Menurutnya, menjaga lingkungan adalah perintah agama yang melekat pada status manusia sebagai penjaga bumi.
“Kami berharap semangat Ramadhan tidak hanya tercermin dalam peningkatan spiritualitas ritual, tetapi juga dalam aksi nyata menjaga kelestarian alam. Green Ramadhan harus menjadi napas di setiap Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Blimbing,” tegas Efendi.
Melalui gerakan ini, PPTQ Shirathun Najah ingin membentuk karakter santri yang tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga kreatif, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Dengan “Sampah Produktif”, santri membuktikan bahwa puasa adalah momentum terbaik untuk menahan diri dari perilaku merusak lingkungan.
Editor: Al-Afasy



