Khutbah Jumat tentang Taubat: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Oleh: Abdur Rahman Achmad, S.Pd.
Khutbah Jumat tentang taubat ini mengajak kita menyadari bahwa manusia tidak pernah lepas dari kesalahan, tetapi pintu ampunan Allah senantiasa terbuka bagi orang yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Melalui dalil Al-Qur’an, hadis, serta kisah Nabi Adam, tiga sahabat dalam Perang Tabuk, dan seorang pembunuh seratus jiwa, naskah ini mengingatkan pentingnya menyesal, meninggalkan dosa, memperbaiki diri, dan menunaikan hak sesama manusia.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَكَفَى بِهِ مِنْ نِعْمَةٍ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِالتَّوْبَةِ وَالْغُفْرَانِ، إِنَّهُ هُوَ غَافِرُ الذَّنْبِ، وَقَابِلُ التَّوْبِ، شَدِيْدُ الْعِقَابِ. ثُمَّ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ بَعَثَهُ اللَّهُ -تَعَالَى- هَادِيًا لِلْإِسْلَامِ مُبَشِّرًا وَنَذِيْراً، أَشْرَفُ الْخَلْقِ مُحَمَّدٌ صَلىَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sebagai seorang muslim, kita tidak pernah lepas dari perbuatan dosa dan kekeliruan. Barangkali lisan kita berdusta, mata kita melihat sesuatu yang haram, pikiran kita sibuk memikirkan dunia dan jauh dari memikirkan akhirat, serta hati kita dipenuhi dendam, amarah, dan benci. Perbuatan dosa tanpa kita sadari dapat menjadi sesuatu yang melekat dan membelenggu kita, hingga kita semakin jauh dan lupa.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ketika seseorang jatuh dalam perbuatan dosa, hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang benar: meninggalkan sesuatu yang tidak disukai Allah, baik secara lahir maupun batin, kemudian kembali melakukan amalan yang dicintai-Nya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hakikat taubat dalam kitab Madarij as-Salikin:
إِنَّ حَقِيقَةَ التَّوْبَةِ الرُّجُوعُ إِلَى اللَّهِ بِالْتِزَامِ فِعْلِ مَا يُحِبُّ وَتَرْكِ مَا يَكْرَهُ
“Hakikat taubat adalah kembali kepada Allah dengan berkomitmen melakukan apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya.”
Baginda Nabi Muhammad saw. juga memerintahkan umatnya agar bertaubat kepada Allah. Bahkan, beliau sendiri bertaubat kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim, no. 2702b)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Perhatikanlah, Nabi Muhammad saw. adalah teladan terbaik bagi umat ini. Kemuliaan dan keagungan akhlaknya senantiasa menjadi contoh bagi kita. Beliau saja memperbanyak taubat dan istighfar setiap hari, lalu bagaimana dengan kita?
Ketahuilah, dosa yang terus dilakukan dapat mengeraskan hati dan menjauhkan manusia dari kebaikan. Sebaliknya, taubat membuka jalan untuk memperbaiki diri dan kembali berharap kepada Allah. Karena Allah Swt. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh [71]: 10–12)
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim [66]: 8, petikan ayat)
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Lihatlah kisah Nabi Adam a.s. dan Hawa. Keduanya melanggar larangan Allah setelah menuruti bisikan setan dan memakan buah dari pohon yang dilarang. Mereka kemudian mengakui kesalahan dan memohon ampunan kepada Allah. Dalam QS. Al-A’raf [7]: 23, keduanya berdoa agar Allah mengampuni dan merahmati mereka. Allah pun menerima taubat Nabi Adam, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 37.
Lihatlah pula kisah para sahabat yang tertinggal dari Perang Tabuk bersama Rasulullah saw. Mereka adalah tiga sahabat yang mulia: Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin ar-Rabi’ radhiyallahu ‘anhum.
Berbeda dengan orang-orang yang menyampaikan alasan palsu, mereka mengakui bahwa tidak ada uzur yang menghalangi mereka mengikuti Rasulullah saw. dalam Perang Tabuk. Mereka memilih berkata jujur dan berharap Allah berkenan mengampuni kesalahan mereka.
Setelah Rasulullah saw. mendengar pengakuan mereka, ketiganya mengalami masa ketika kaum muslimin tidak berbicara kepada mereka. Namun, mereka tetap teguh dalam kejujuran dan kesungguhan bertaubat, hingga Allah menerima taubat mereka. Kisah ini diabadikan dalam QS. At-Taubah [9]: 118 dan diriwayatkan secara terperinci dalam Shahih al-Bukhari no. 4418.
Lihatlah juga kisah yang pernah terjadi pada umat terdahulu. Nabi saw. menceritakannya agar menjadi pelajaran berharga.
Dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Ia lalu bertanya kepada seorang ahli ibadah, apakah masih ada kesempatan untuk bertaubat. Ahli ibadah itu menjawab, “Tidak.” Laki-laki tersebut kemudian membunuhnya sehingga genaplah jumlah orang yang dibunuh menjadi seratus.
Setelah itu, ia kembali mencari orang yang paling berilmu dan bertanya apakah masih ada taubat baginya. Orang alim tersebut menjawab bahwa tidak ada yang dapat menghalangi seseorang dari taubat. Ia menasihatinya agar pergi ke sebuah negeri yang penduduknya beribadah kepada Allah, serta tidak kembali ke tempat asalnya yang buruk bagi dirinya.
Laki-laki itu pun berangkat menuju negeri tersebut. Namun, di tengah perjalanan, kematian menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih mengenai dirinya.
Kemudian datanglah malaikat lain yang menjadi penengah dan memerintahkan agar jarak menuju kedua negeri itu diukur. Ternyata ia lebih dekat ke negeri yang ditujunya untuk memperbaiki diri, sehingga malaikat rahmat membawanya. Demikianlah kisah yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 2766a.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa sebesar apa pun dosa yang telah dilakukan, seseorang tidak semestinya berputus asa dari rahmat Allah. Yang diperlukan adalah kesungguhan untuk meninggalkan dosa dan menempuh jalan kebaikan.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Allah menjanjikan ampunan bagi hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ada tiga hal yang harus diperhatikan jika seseorang ingin benar-benar bertaubat:
Pertama, hendaknya ia segera meninggalkan perbuatan dosa yang telah dilakukan dan memohon ampun kepada Allah. Jangan sampai seseorang beristighfar, tetapi sengaja terus-menerus mempertahankan perbuatan dosa tersebut. Berusahalah sungguh-sungguh meninggalkannya.
Kedua, berniat dengan sungguh-sungguh dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan dosa itu. Ia harus berusaha agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama, meskipun harus melawan hawa nafsu dan godaan.
Ketiga, menyesali dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Penyesalan yang tulus menjadi bagian penting dari taubat. Dengan penyesalan itulah seseorang menyadari kekeliruannya dan terdorong untuk memperbaiki diri.
Selain ketiga hal tersebut, apabila dosa berkaitan dengan hak orang lain, orang yang bertaubat juga berkewajiban menyelesaikan hak tersebut.
Jika mengambil sesuatu yang bukan miliknya, ia harus mengembalikannya. Jika menzalimi orang lain, ia harus berusaha memperbaiki kezaliman dan meminta penyelesaian yang semestinya.
Rasulullah saw. mengingatkan agar orang yang melakukan kezaliman terhadap sesama segera meminta kerelaan atau menyelesaikannya sebelum hari ketika harta tidak lagi dapat digunakan sebagai tebusan (HR. al-Bukhari, no. 2449).
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ketahuilah bahwa pintu taubat terbuka bagi siapa saja. Selama masih ada kesempatan untuk bertaubat, jangan pernah berputus asa dan jangan menunda untuk kembali kepada Allah. Dia berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Maka, marilah kita merenung dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kita memohon ampun kepada Allah agar dosa-dosa kita dihapuskan. Kita bertaubat dengan sungguh-sungguh dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan.
Semoga Allah berkenan menerima taubat kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُورِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْعَدْلَ وَالْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ وَمِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدِينَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ. اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَمَوْتَى الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَفَرِّجْ هَمَّهُمْ، وَنَفِّسْ كُرُوبَهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللهمَّ إنّي أَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ إِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عَاوَدْتُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ شَيْءٍ جَعَلْتُهُ لَكَ خَالِصًا عَلَى نَفْسِي ثُمَّ لَمْ أَفِ بِهِ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ عَمَلٍ عَمِلْتُهُ أَرَدْتُ بِهِ وَجْهَكَ فَخَالَطَهُ مَا لَيْسَ لَكَ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا دَعَانِي إِلَيْهِ الْهَوَى مِنْ قَبُولِ الرُّخَصِ فِيمَا أَتَيْتُهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Editor: Al-Afasy



