Ketika kemarau berkepanjangan dan sumber air mulai berkurang, seorang mukmin diajak untuk memperbanyak istighfar, bersabar, dan tidak kehilangan harapan kepada rahmat Allah. Khutbah Jumat tentang kemarau ini mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat air, menjaga lingkungan, serta membantu sesama yang mengalami kesulitan.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَقَالَ أَيْضًا:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Marilah kita mengingat bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat kembali dan pertanggungjawaban.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 35:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya [21]: 35)
Ayat ini mengajarkan bahwa ujian tidak hanya berupa sakit, kemiskinan, kehilangan, dan kekeringan. Kesehatan, kekayaan, hujan, panen yang melimpah, serta kehidupan yang nyaman juga merupakan ujian. Dalam kesulitan, kita diuji apakah mampu bersabar. Dalam kelapangan, kita diuji apakah mau bersyukur.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di antara nikmat terbesar yang sering kita rasakan tanpa banyak disyukuri adalah air. Dengan air, manusia minum. Dengan air, tanaman tumbuh. Dengan air, hewan memperoleh kehidupan. Dengan air pula, bumi yang kering kembali menjadi subur.
Allah berfirman dalam penggalan Surah Al-Anbiya ayat 30:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya:
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiya [21]: 30)
Dalam Surah Al-Waqi’ah, Allah kembali mengingatkan manusia tentang nikmat air:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ
Artinya:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 68–70)
Air yang kita minum bukan semata-mata sesuatu yang tersedia dengan sendirinya. Di balik hujan ada kekuasaan Allah. Di balik awan ada aturan-Nya. Di balik tumbuhnya tanaman ada rahmat-Nya.
Karena itu, ketika hujan turun, seorang mukmin tidak hanya melihat peristiwa alam. Ia melihat tanda kebesaran Allah dan mengucapkan syukur.
Sebaliknya, ketika kemarau datang, seorang mukmin tidak boleh tenggelam dalam keputusasaan. Ia tetap melakukan ikhtiar, menghemat air, membantu orang yang kesulitan, memperbaiki pengelolaan lingkungan, dan memohon pertolongan kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya:
“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung, Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura [42]: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa setelah masa sulit masih ada harapan. Hujan dapat turun setelah manusia merasa tidak lagi memiliki jalan. Rahmat Allah dapat datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka.
Tugas kita adalah menjaga iman, memperbanyak doa, dan tidak berhenti berusaha.
Jamaah rahimakumullah,
Al-Qur’an juga mengajak kita memperhatikan bagaimana Allah mengirim angin, menggerakkan awan, membentangkannya, menggumpalkannya, lalu mengeluarkan hujan dari celah-celahnya.
Allah kemudian menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati. Semua itu menjadi tanda bahwa Allah berkuasa menghidupkan kembali manusia setelah kematian.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 48–50:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ
فَانْظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, tiba-tiba mereka bergembira.
Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah matinya. Sungguh, Dia yang demikian benar-benar berkuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ar-Rum [30]: 48–50)
Ketika melihat tanah yang kering menjadi hijau, hendaknya kita mengingat bahwa hati yang mati pun dapat hidup dengan petunjuk. Ketika melihat air mengalir setelah lama tertahan, hendaknya kita berharap agar rahmat Allah juga mengalir dalam kehidupan kita.
Kemarau di luar diri kita semestinya mengingatkan kita untuk memeriksa kemarau di dalam hati. Apakah hati kita kering dari zikir, kering dari syukur, dan kering dari kepedulian kepada sesama?
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu amalan yang ditekankan Al-Qur’an ketika manusia menghadapi kesulitan adalah istighfar dan tobat.
Nabi Nuh a.s. berkata kepada kaumnya:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh [71]: 10–12)
Nabi Hud a.s. juga mengajak kaumnya:
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
Artinya:
“Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan untukmu hujan yang sangat deras, menambahkan kekuatan melebihi kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” (QS. Hud [11]: 52)
Kedua ayat ini mengingatkan pentingnya istighfar dan tobat sebagai bentuk penghambaan dan kesungguhan manusia untuk kembali kepada Allah.
Istighfar bukan sekadar mengulang ucapan astaghfirullah dengan lisan. Istighfar harus diikuti kesadaran bahwa kita memiliki dosa dan kelemahan.
Tobat berarti meninggalkan maksiat, menyesali kesalahan, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak manusia apabila kita pernah menzalimi mereka.
Jika kita pernah mengambil hak orang lain, kembalikan. Jika kita pernah menyebarkan fitnah, hentikan dan luruskan informasi yang salah. Jika kita pernah menipu dalam perdagangan, perbaiki. Jika kita pernah menzalimi keluarga, mintalah maaf dan ubah sikap.
Jika kita pernah merusak lingkungan atau memboroskan air, mari kita perbaiki kebiasaan itu.
Akan tetapi, jamaah sekalian, kita harus berhati-hati. Kita tidak boleh menunjuk seseorang atau kelompok tertentu lalu berkata, “Kekeringan ini pasti disebabkan dosa mereka.”
Kita tidak mengetahui perkara gaib. Kekeringan dapat menjadi ujian, peringatan, atau mengandung hikmah yang tidak kita ketahui. Di samping itu, ada sebab-sebab alamiah dan persoalan pengelolaan lingkungan yang harus dihadapi dengan ilmu dan ikhtiar.
Yang pasti, setiap kita membutuhkan tobat. Ajakan bertobat harus diarahkan kepada diri sendiri dan masyarakat secara umum, bukan digunakan untuk menghakimi korban bencana.
Allah berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Artinya:
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Asy-Syura [42]: 27)
Maka, hujan yang sedikit tidak boleh membuat kita menuduh Allah tidak menyayangi kita. Hujan yang banyak juga tidak boleh membuat kita merasa sudah pasti diridai. Kelapangan dan kesempitan sama-sama harus membawa kita mendekat kepada Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita memperbanyak istighfar, memperbaiki salat, menjaga lisan, menunaikan zakat, menyambung silaturahmi, meninggalkan kezaliman, dan membantu saudara-saudara yang terdampak kekeringan.
Marilah kita menggunakan air secara bijak dan sesuai kebutuhan. Jangan membiarkan keran terbuka tanpa kebutuhan. Jangan mencemari sumber air. Jangan menimbun air ketika tetangga kesulitan.
Semoga Allah menjadikan setiap kesulitan sebagai jalan bagi kita untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian, dan semakin mengenal rahmat-Nya.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali kepada Allah dengan tobat yang tulus. Jangan menunggu musibah menjadi lebih berat baru kita memperbaiki diri. Jangan menunggu kehilangan air baru kita menghargai nikmatnya. Jangan menunggu hati menjadi keras baru kita memperbanyak zikir.
Marilah kita berdoa agar Allah menurunkan hujan yang bermanfaat, merata, cukup, dan membawa keberkahan.
Kita juga memohon agar Allah memberikan kesabaran kepada para petani, peternak, nelayan, pedagang, dan seluruh keluarga yang terdampak kekeringan.
Di antara doa memohon hujan yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. adalah:
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا.
Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong kami. Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong kami. Ya Allah, turunkanlah hujan yang menolong kami.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang membawa pertolongan, menyuburkan dan memberikan manfaat, tidak membahayakan, serta datang segera tanpa ditunda.
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ.
Ya Allah, berilah air kepada hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah kembali negeri-Mu yang mati.
اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ.
Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami membutuhkan-Mu. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal kehidupan bagi kami hingga waktu yang ditentukan.
Marilah kita lanjutkan doa dengan memohon ampunan, rahmat, serta kebaikan bagi seluruh umat.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَفَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِنِ الْمُتَضَرِّرِينَ مِنَ الْجَفَافِ، وَبَارِكْ لِلْمُزَارِعِينَ وَالْعَامِلِينَ، وَاحْفَظْ لَنَا مِيَاهَنَا وَأَرْضَنَا وَبِلَادَنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاجْعَلْهُمْ سَبَبًا لِحِفْظِ الْأَمَانَةِ وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Editor: Al-Afasy



