Jangan Biarkan Mereka Datang Lalu Pergi: Fenomena “Login Muhammadiyah” di Media Sosial

Belakangan ini, media sosial dipenuhi oleh satu fenomena yang menarik perhatian, yaitu “login Muhammadiyah”. Istilah ini bukan sekadar tren digital sesaat, tetapi mencerminkan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang modern, tertata, dan memiliki arah yang jelas.
Fenomena ini tidak hanya muncul di kalangan Gen Z, tetapi juga merambah generasi milenial hingga kelompok usia yang lebih matang. Banyak di antara mereka secara terbuka menyatakan keinginan untuk bergabung, berpindah, atau menjadi bagian dari Muhammadiyah. Citra yang muncul pun sangat positif: Muhammadiyah dipandang maju, sistematis, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Tentu, ini adalah perkembangan yang patut disyukuri. Namun, di balik antusiasme tersebut, ada satu pertanyaan penting yang tidak boleh diabaikan: apakah kita benar-benar siap menerima mereka?
Daya tarik besar, ujian ada di akar rumput
Secara nasional, Muhammadiyah memiliki wajah organisasi yang kuat dan meyakinkan. Amal usaha yang luas, sistem yang mapan, serta kontribusi nyata di berbagai bidang membuat Muhammadiyah tampak solid dan menjanjikan di mata publik.
Namun, mereka yang tertarik dan ingin “login Muhammadiyah” tidak akan langsung berinteraksi dengan struktur pusat. Mereka justru akan bersentuhan pertama kali dengan struktur di tingkat bawah, yaitu Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Di titik inilah pengalaman awal mereka terbentuk. Di sinilah citra Muhammadiyah akan benar-benar diuji.
Karena itu, yang perlu ditanyakan bukan hanya seberapa kuat citra Muhammadiyah di tingkat nasional, tetapi juga seberapa siap cabang dan ranting menjadi gerbang yang menyambut, membina, dan mengarahkan mereka yang datang dengan harapan.
Siapa yang akan menyambut mereka?
Selama ini, Muhammadiyah tidak dikenal dengan pola rekrutmen terbuka secara besar-besaran. Proses bergabung lebih banyak berlangsung secara kultural, melalui pengajian, amal usaha, pendidikan, dan interaksi sosial sehari-hari.
Dalam konteks ini, Organisasi Otonom (Ortom) memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pintu masuk kaderisasi. Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Aisyiyah seharusnya menjadi ruang awal bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal Muhammadiyah dan menumbuhkan keterikatan yang lebih dalam.
Persoalannya, ketika fenomena “login Muhammadiyah” muncul begitu cepat di media sosial, tantangan baru ikut hadir: apakah sistem kaderisasi kita cukup siap dan cukup tanggap untuk menyambut arus ini?
Kaderisasi tidak bisa instan
Perlu disadari bahwa pembinaan dalam Muhammadiyah tidak dibangun secara instan. Ada proses yang berjenjang dan bertahap. Dimulai dari ranting, hadir di jamaah pengajian, terlibat dalam kegiatan, bergabung dalam Ortom atau struktur kecil, lalu berkembang ke tingkat cabang dan daerah.
Jika tahapan ini diabaikan, maka yang terbentuk bukanlah kader yang kokoh, melainkan sekadar kedekatan tanpa pondasi. Di sinilah pentingnya menjaga proses. Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan orang yang tertarik, tetapi juga membutuhkan kader yang tumbuh melalui pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
Momentum besar yang tidak boleh hilang
Fenomena “login Muhammadiyah” adalah peluang besar. Tidak semua organisasi mendapatkan perhatian dan simpati publik dalam waktu yang bersamaan seperti ini. Namun, peluang itu bisa berubah menjadi kehilangan jika tidak dikelola dengan baik.
Kita tidak boleh membiarkan mereka yang datang dengan semangat dan harapan justru tidak menemukan ruang, arah, atau pembinaan. Jika itu terjadi, mereka bisa pergi, dan mungkin tidak kembali. Karena itu, fenomena ini harus dibaca sebagai momentum strategis, bukan sekadar euforia digital sesaat.
Saatnya evaluasi internal secara jujur
Fenomena ini sesungguhnya menjadi cermin bagi seluruh elemen Muhammadiyah. Bukan hanya tentang banyaknya orang yang ingin bergabung, tetapi tentang kesiapan organisasi dalam menyambut dan membina mereka.
Pertanyaan-pertanyaan berikut layak dijawab secara jujur:
- Apakah PRM siap menjadi garda terdepan dalam menyambut dan membina?
- Apakah PCM memiliki sistem kaderisasi yang berjalan baik?
- Apakah PDM mampu menguatkan struktur di bawahnya?
- Apakah Majelis Kader memiliki konsep pembinaan yang relevan dengan generasi hari ini?
- Apakah LPCR siap memperkuat cabang dan ranting secara sistematis?
- Apakah Ortom cukup terbuka, menarik, dan menjadi ruang tumbuh yang sehat?
Jika jawabannya belum, maka fenomena ini hanya akan berhenti sebagai tren tanpa dampak jangka panjang.
Mengubah tren menjadi gerakan nyata
“Login Muhammadiyah” tidak boleh berhenti sebagai percakapan ramai di media sosial. Ia harus diarahkan menjadi gerakan kaderisasi yang nyata, terstruktur, dan berkelanjutan. Muhammadiyah tidak hanya perlu menerima, tetapi juga membina. Tidak hanya membuka pintu, tetapi juga menyiapkan jalan pertumbuhan.
Kita membutuhkan sistem yang mampu menyambut dengan baik, membimbing dengan serius, menguatkan dengan nilai, dan menjaga keberlanjutan kader. Sebab yang dibangun bukan sekadar penambahan jumlah anggota, melainkan kualitas kader dan kekuatan gerakan.
Penutup
Fenomena ini adalah kesempatan besar yang harus disikapi dengan serius. Muhammadiyah sedang menjadi perhatian, bahkan menjadi pilihan bagi banyak kalangan. Namun, ketertarikan itu harus dijawab dengan kesiapan nyata.
Jangan biarkan mereka datang lalu pergi.
Jangan biarkan harapan berubah menjadi kekecewaan.
Dan jangan biarkan momentum ini berlalu tanpa melahirkan kader.
Kini saatnya berbenah dan bertanya dengan jujur: apakah kita benar-benar siap?
Irfan Sholahuddin Gozali, M.E.
— Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber, Ketua Korps Instruktur Kader PDM Kabupaten Cirebon



