Buntut Tragedi Dupantex: IMM Pekalongan Desak Pemda Berhenti Gunakan Cara Lama Atasi Banjir

PWMJATENG.COM, PEKALONGAN – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pekalongan mendesak Pemerintah Kabupaten Pekalongan melakukan pembenahan total dalam penanganan banjir. Desakan ini menyusul tragedi meninggalnya seorang warga lanjut usia di pengungsian Dupantex, di tengah banjir yang telah melanda sejak 17 Januari 2026 dan belum sepenuhnya surut.
Ketua PC IMM Pekalongan, Muhammad Haidar, menegaskan bahwa peristiwa ini adalah alarm serius bagi lemahnya mitigasi bencana dan perlindungan kelompok rentan di Pekalongan.
“Korban jiwa di pengungsian menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak bisa lagi sekadar respons darurat. Harus ada langkah struktural, ilmiah, dan berkelanjutan. Pemerintah tidak boleh lagi bekerja dengan pola lama,” tegas Haidar, Senin (9/2/2026).
IMM Pekalongan tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan inovasi kebijakan berbasis sains untuk memutus rantai banjir:
- Modifikasi Cuaca: Menggandeng BMKG untuk pengelolaan awan guna mengurangi intensitas hujan ekstrem.
- Kedaulatan Air: Pembangunan kolam retensi dan sistem drainase terpadu.
- Normalisasi Sungai: Pembersihan dan pendalaman sungai secara berkala, bukan sekadar proyek musiman.
- Tata Ruang Mitigasi: Mengaudit izin bangunan di wilayah resapan dan rawan bencana.
- Early Warning System: Integrasi sistem peringatan dini hingga tingkat desa berbasis aplikasi dan sensor fisik.
IMM juga menyoroti kondisi fasilitas pengungsian yang dinilai terbatas. Haidar menekankan pentingnya standar layanan kesehatan dan sanitasi khusus bagi lansia, anak-anak, dan disabilitas.
“Tragedi Dupantex harus menjadi titik balik. Kami siap mengawal kebijakan ini dan melakukan advokasi publik agar masyarakat Pekalongan tidak terus-menerus menjadi korban dari kebijakan yang tidak solutif,” tutup Haidar.
Editor: Al-Afasy



