Drs. Wahyudi, M.Pd : Bencana karena Manusia lupa tugas Kekhalifahanya

Drs Wahyudi MPd, Sekretaris PWM Jawa Tengah
Drs Wahyudi MPd, Sekretaris PWM Jawa Tengah

PWMJateng.com – Bencana karena Manusia lupa tugas Kekhalifahanya. Bangsa Indonesia sudah mengalami beberapa kali peristiwa bencana yang sangat besar diantaranya bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh (2004), di Yogyakarta (2006) dan tragedi Situ Gintung (2008). Gempa yang terjadi hampir di wilayah Jawa, dengan pusat gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bencana banjir bandang yang menerjang Wasior, Papua. Gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat yang menghabiskan sebagian pulau tersebut. Erupsi Gunung Merapi, dan yang terakhir bencana gempa di Mamuju.

Untuk mengantisipasi fenomena-fenomena alam tersebut, hendaknya masyarakat diberi pemahaman dan kesadaran tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya. Misalnya; jangan membuang sampah sembarangan. Jangan menebang hutan semaunya, hal itu bisa menyebabkan bencana alam berupa banjir dan tanah longsor. Hal ini saya kira, sebagai bagian dari tugas dan kewajiban kita sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, termasuk Muhammadiyah terutama MDMC yang dapat mengadakan mitigasi berupa sosialisasi dan memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya antisipasi terhadap bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial. 

BACA JUGA  Membela Kata Radikal

Bencana ada karena Manusia lupa tugas Kekhalifahanya

Sebagian orang beranggapan bahwa bencana semata-mata karena takdir dari Allah. Namun, sesungguhnya sunnatullah itu berlangsung ketika manusia lupa akan tugas-tugas kekhalifahan di atas bumi. Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Faktor ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan kematian. QS. ar-Rum: 41

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). ” QS. Ar-Rum Ayat 41

BACA JUGA  Khafid Sirotudin, tiga indikator keberhasilan pilkada serentak 2020

Menurut Harold G. Koening dalam The Wake of Disaster, Religious Response to Terrorism and Catasprophe, menjelaskan bahwa agama memiliki peran dalam penanggulangan dampak bencana dan mengurangi resikonya. Setiap bencana yang terjadi di dalamnya akan timbul berbagai pemahaman dan reaksi yang sebagainnya didasari pada pemahaman agama. Namun ia mengakui adanya sebagian golongan dalam kepercayaan agama yang salah dalam menempatkan agama khususnya dalam menghadapi bencana. Di sinilah perlu dikembangkan dialog apa yang dipahami menurut ilmu pengetahuan, juga apa yang dimaknai masyarakat. Dengan demikian terbangun sebuah cara pandang integral terhadap bencana yang berpengaruh pada berbagai usaha mitigasi yang akan dilakukan.

Adanya pemahaman bahwa bencana sebagai musibah, ujian, cobaan dan bukan laknat dari Allah menunjukkan agar manusia mampu mengambil hikmah dari semua kejadian, sehingga derajat manusia akan meningkat di mata Allah dan kualitas hidup akan lebih baik dengan berbuat baik terhadap sesama. Oleh karena itu, manusia harus selalu menjaga sesuatu yang sudah dititipkan oleh Allah sebagai sebuah amanah yang harus terus dijaga untuk keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Diantaranya dengan menjaga keseimbangan ekosistem dan dengan tidak mengeksploitasi sumber daya alam. Sehingga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup manusia akan terjaga.

BACA JUGA  PSHW vs PDPM Pekalongan adakan Laga Amal Bencana
Total
0
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts