Doktor UMS Ciptakan Inovasi IPAS ‘Pesona Jepara’, Belajar Sains Kini Jadi Lebih Seru bagi Anak

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Inovasi pendidikan dasar kembali lahir dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Melalui disertasi doktoralnya, Erna Zumrotun mengembangkan bahan ajar IPAS yang mengintegrasikan budaya lokal dengan pembelajaran STEAM. Langkah ini bertujuan untuk mendorong kualitas pendidikan yang lebih holistik di sekolah dasar.
Erna mempresentasikan temuan luar biasa ini pada ujian promosi doktor prodi Pendidikan, Kamis (30/4). Ia melihat keterbatasan materi ajar yang selama ini masih bersifat umum. Selain itu, banyak buku teks belum mengakomodasi konteks kearifan lokal secara mendalam.
Solusi Strategis Lewat Pendekatan STEAM
Akibat kurangnya konteks, siswa seringkali merasa pembelajaran kurang bermakna. Oleh karena itu, Erna menawarkan integrasi pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Pendekatan ini menjadi solusi strategis untuk menghadirkan materi yang lebih relevan bagi kehidupan nyata siswa.
“Pembelajaran kini tidak hanya terpaku pada teori pengetahuan semata,” ujar Erna, Jumat (1/5). Ia menegaskan bahwa guru harus mengaitkan materi dengan realitas sosial serta budaya siswa. Pendekatan ini memastikan keterlibatan aktif anak didik dalam memahami konsep lingkungan sekitarnya.
Inovasi Bahan Ajar IPAS “Pesona Jepara”
Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang sistematis. Erna melakukan uji coba pada guru dan siswa kelas V sekolah dasar di Kabupaten Jepara. Hasilnya, guru memang sangat membutuhkan bahan ajar IPAS yang menyatukan muatan IPA dan IPS.
Erna kemudian meluncurkan buku cetak bertajuk “IPAS Pesona Jepara” yang terdiri dari empat bab tematik. Produk ini memadukan konten akademis dengan kearifan lokal Jepara yang sangat khas. Para ahli memberikan validasi sangat layak dengan skor mencapai 95,75 persen.
Tingkatkan Hasil Belajar Siswa Secara Signifikan
Inovasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar melalui uji efektivitas N-Gain. Nilai rata-rata menunjukkan peningkatan yang konsisten, baik pada skala kecil maupun besar. Temuan ini membuktikan bahwa materi yang kontekstual mampu mendongkrak pemahaman siswa secara menyeluruh.
Hadirnya bahan ajar IPAS ini diharapkan menjadi referensi utama bagi guru pendamping. Selain memperkuat literasi, inovasi tersebut menjaga kelestarian budaya lokal dalam ekosistem pendidikan modern. Sinergi antara teknologi dan tradisi kini menjadi kunci kemajuan sekolah dasar.
Baca juga: Dorong Percepatan Kelulusan, PTI UMS Gelar Temu Wali dan Evaluasi Masa Studi
Kontributor: Fika
Editor: Ayma



