UMS Perkuat Fisioterapi Olahraga Difabel demi Dukung Prestasi Atlet di Asian Para Games 2026
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan fisioterapi olahraga difabel. Komitmen tersebut tercermin dari peningkatan kompetensi akademisi serta inovasi pembelajaran di lingkungan kampus. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UMS (FIK UMS), Suryo Saputra Perdana, Ftr., M.Sc., PT., membuktikan hal ini melalui perannya sebagai ParaSport Physiotherapist kontingen Indonesia pada ajang Asian Para Games ke-5 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Kampus ini mewujudkan komitmen nyata melalui inovasi kurikulum Program Studi Fisioterapi FIK UMS. Mereka menghadirkan mata kuliah pilihan Parasport Physiotherapy sebagai pelopor di Indonesia. Melalui program tersebut, mahasiswa mempelajari prinsip dasar pendampingan medis untuk mendukung layanan kesehatan serta pengembangan olahraga adaptif.
Pendekatan Klinis dan Tantangan di Lapangan
Suryo menjelaskan bahwa fisioterapi olahraga difabel memerlukan pendekatan klinis spesifik. Setiap atlet membutuhkan penanganan yang selaras dengan karakteristik serta kemampuan fungsional mereka masing-masing.
“Pendekatan utama dalam fisioterapi para olahraga adalah seluruh tindakan harus berbasis klasifikasi (classification-based). Hal ini menuntut pemahaman mendalam mengenai impairment dan functional classification agar penanganan benar-benar spesifik,” ujar Suryo saat ditemui pada Jumat (30/10/2026).
Selama Asian Para Games 2026, kompetensi ini diaplikasikan secara langsung dalam pendampingan atlet cabang olahraga Para Badminton. Tim medis memberikan layanan berupa penanganan cedera akut di lapangan, pemeliharaan kondisi fisik, pemulihan (recovery), hingga rehabilitasi intensif. Pengalaman internasional ini melanjutkan rekam jejak sang akademisi yang sebelumnya juga mendampingi kontingen Indonesia sejak Paralympic Tokyo 2020.
Kolaborasi Tim Lintas Profesi
Suryo mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pendampingan atlet para terletak pada aspek komunikasi dan kepercayaan. Fisioterapis harus mampu menerjemahkan pengetahuan medis yang rumit menjadi tindakan praktis yang mudah dipahami. Koordinasi lintas profesi juga berjalan secara sinergis demi memastikan pembagian tugas yang optimal.
“Kita ini Avengers, bukan Superman. Kerja sama tim lintas profesi adalah segalanya,” tegasnya menggambarkan pentingnya kolaborasi solid dalam mendongkrak performa atlet.
Selain atlet profesional, pengembangan fisioterapi olahraga difabel membuka ruang pemberdayaan yang luas bagi anak-anak penyandang disabilitas. Aktivitas fisik yang terarah memberi mereka kesempatan emas untuk mengasah kemampuan hingga menembus kompetisi tingkat internasional. Dukungan penuh dari seluruh elemen ekosistem olahraga terbukti menjadi kunci utama keberhasilan para pahlawan olahraga Merah Putih.
Kontributor: Yusuf
Editor: Akmal



