Kolom

Dari Diskusi AI hingga Usaha Pesantren, Santri Jawa Tengah Menatap Masa Depan

Di Ampel, Boyolali, Pondok Pesantren Modern Alfatihah mengolah daging domba menjadi abon yang dijual Rp50.000 per kemasan 250 gram. Di Surakarta, 186 mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti forum tentang tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dua kegiatan yang diberitakan dalam waktu berbeda pada 2026 itu memperlihatkan arah yang menarik: ada santri yang berkenalan dengan pasar lewat usaha peternakan, ada pula calon ulama yang diajak memahami perubahan dunia digital. Sementara itu, pesantren Muhammadiyah lain di Boyolali memilih memperkuat keterampilan melalui budidaya ikan, pertanian, dan menjahit.

Di tengah ramainya program teknologi dan kewirausahaan, ada pertanyaan yang dekat dengan masa depan santri Jawa Tengah: bekal apa yang benar-benar diperoleh selama belajar, dan bagaimana kemampuan itu kelak digunakan di tengah masyarakat?

Calon ulama berhadapan dengan AI

Pada 6 September 2026, sebanyak 186 mahasantri dari jenjang I’dad hingga magister menghadiri Stadium General Pondok Shabran UMS di Surakarta. Pertemuan itu menyoroti disrupsi teknologi, termasuk AI, big data, dan otomatisasi, dalam proses menyiapkan kader ulama Muhammadiyah.

Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, meminta calon ulama memadukan pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam mengembangkan keilmuan. “Kader ulama Muhammadiyah harus memiliki kedalaman spiritual sekaligus keberanian dalam memimpin transformasi sosial di era Society 5.0,” ujarnya

Forum tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai bukti bahwa para mahasantri sudah mahir membuat atau mengoperasikan sistem AI. Yang tercatat adalah pembahasan tentang tantangan teknologi bagi calon ulama. Di lingkungan Shabran, diskusi itu berjalan bersama pembinaan hafalan Al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, serta kebiasaan membaca.

Pertemuan seperti ini penting karena kemudahan mencari jawaban melalui mesin juga menuntut kemampuan memeriksa dalil, sumber, dan konteks. Bagi calon ulama, kecepatan memperoleh informasi belum tentu berarti kedalaman memahami persoalan.

Kolam ikan, peternakan, dan cerita santri dari Boyolali

Pilihan lain terlihat di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Manafi’ul ‘Ulum, Sambi, Boyolali. Dalam rapat kerja pada 10 Juli 2026, pengelola mematangkan program pembelajaran keterampilan hidup (life skill) untuk tahun ajaran 2026/2027. Lima kolam ikan aktif disiapkan sebagai sarana praktik budidaya. Selain itu, para santri juga dibekali keterampilan melalui kegiatan magang peternakan, praktik pertanian, serta pelatihan menjahit, menyulam, dan menyongket. 

Baca Juga: Santri Mandiri, Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boyolali Padukan Kurikulum dan Keterampilan Hidup

Bagi santri, kolam ikan dan tempat menjahit menawarkan jenis pembelajaran yang tak selalu ditemukan di ruang kelas. Mereka dapat mengenal proses kerja, merawat peralatan, dan belajar menyelesaikan pekerjaan bersama. Namun, laporan itu belum memuat data hasil panen, omzet, atau jumlah alumni yang kemudian membuka usaha. Program keterampilan perlu dibedakan dari keberhasilan bisnis.

Contoh usaha yang telah menghasilkan produk justru datang dari pesantren lain di kabupaten yang sama. Di Pondok Pesantren Modern Alfatihah, Kecamatan Ampel, santri terlibat dalam pengelolaan peternakan melalui Alfatihah Farm. Berdasarkan liputan Metro TV News, peternakan tersebut juga menjual abon domba. Laporan itu menyebut harga Rp50.000 per 250 gram, tetapi tidak merinci omzet ataupun keuntungan usaha.

Rajas Isa Putra, salah seorang santri Alfatihah, mengaku sempat canggung ketika mulai mengurus ternak. “Awalnya lumayan sulit karena saya anak rumahan banget, enggak terbiasa terjun langsung mengurus sapi,” katanya kepada Metro TV News. Dalam laporan yang sama, ia bercerita telah belajar membedakan ternak sehat dan sakit, serta berharap kelak bisa berwirausaha.

Pengalaman Rajas memberi gambaran yang sulit diperoleh dari daftar program: keterampilan tumbuh lewat pekerjaan yang mula-mula terasa asing. Meski sama-sama berada di Boyolali, Alfatihah dan Manafi’ul ‘Ulum adalah dua pesantren berbeda, dengan kegiatan dan capaian yang tidak boleh disamakan.

Dari mengenal aplikasi hingga memahami batasnya

Pengembangan keterampilan digital menghadapi pertanyaan serupa. Seorang siswa bisa meminta AI merangkum pelajaran dalam beberapa detik. Tetapi apakah ia dapat mengetahui ketika jawaban itu keliru, membandingkannya dengan sumber asli, atau menjelaskan mengapa suatu informasi layak dipercaya?

Dalam AI Competency Framework for Students yang diterbitkan pada 2024, UNESCO menyusun 12 kompetensi dalam empat bidang: cara pandang berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta perancangan sistem AI. Tahap penguasaannya bergerak dari memahami dan menerapkan menuju menciptakan. Kerangka ini memberi pembeda antara sekadar mencoba aplikasi dan membangun kecakapan yang lebih utuh.

Di Surakarta, ada contoh pelatihan yang berfokus pada para pengajar. Kementerian Agama pada Januari 2026 menyebut Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta sebagai penerima penghargaan Best School angkatan pertama program AI Teaching Power. Penilaian itu mempertimbangkan partisipasi guru dan penguatan praktik pembelajaran setelah pelatihan, sebagaimana dilaporkan Kemenag. Penghargaan tersebut merupakan capaian dalam program pelatihan, bukan ukuran kemampuan AI seluruh santri.

Dari forum Shabran hingga pelatihan guru Al-Muayyad, persoalannya sama: kemampuan digital memerlukan pendampingan, praktik yang berulang, dan kesempatan untuk menguji hasil belajar. Teknologi yang hadir sesaat belum tentu mengubah kebiasaan belajar.

Hari Santri dan pekerjaan besar di Jawa Tengah

Tema Hari Santri 2026 yang ditetapkan Kementerian Agama, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, memberi konteks bagi perkembangan itu. Dalam panduannya, Kemenag mengaitkan peran santri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, karakter, serta kemandirian ekonomi.

Pada 14 Oktober 2026, Kemenag juga mengumumkan rencana Santri Matic melalui kerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif. Kegiatan yang direncanakan di Solo dan Pidie tersebut diarahkan pada literasi digital, kreativitas, dan peluang ekonomi kreatif. Pengumuman program belum membuktikan pelaksanaannya maupun hasil yang diperoleh peserta.

Skalanya tidak kecil. Satu Data Kemenag mencatat 5.364 pondok pesantren dan 438.436 santri di Jawa Tengah pada 2025. Angka itu mencakup pesantren dari berbagai afiliasi, bukan khusus Muhammadiyah. Statistik tersebut juga belum menjawab berapa lembaga yang telah mengajarkan AI atau menjalankan usaha produktif secara berkelanjutan.

Karena itu, beberapa contoh yang sudah terlihat di Surakarta dan Boyolali sebaiknya dibaca sebagai potret perkembangan, bukan gambaran yang mewakili ribuan pesantren di provinsi ini.

Kapan usaha pesantren bisa disebut mandiri?

Di tingkat nasional, Kementerian Agama menyatakan 4.185 pesantren menerima bantuan inkubasi bisnis sepanjang 2021–2025. Data yang disampaikan dalam rangkaian Hari Santri 2026 itu menunjukkan luasnya jangkauan program pemerintah, tetapi belum membuktikan seluruh penerima telah mempunyai usaha yang menguntungkan.

Di Muhammadiyah, arah pengembangan usaha juga dibicarakan melalui penguatan tata kelola. Dalam forum di Brebes pada 30 Agustus 2026, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, Maskuri, menekankan perlunya manajemen lembaga, transparansi keuangan, kapasitas sumber daya manusia, dan kerja sama. “Lembaga ini harus menjadi pusat peradaban, pusat ekonomi, dan pusat kaderisasi umat,” ujarnya.

Contoh Boyolali memperlihatkan tiga tingkat yang kerap tercampur dalam pembicaraan tentang kemandirian. Kolam ikan dapat menjadi sarana belajar; peternakan yang memproduksi barang memasuki tahap usaha; sedangkan kemandirian finansial baru bisa dinilai dari keberlangsungan operasi, pencatatan, pasar, dan manfaat ekonominya. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak identik.

Perbedaan itu penting bagi orang tua dan pengelola pesantren. Mengetahui bahwa santri mengikuti praktik bermanfaat; mengetahui apa yang mereka kuasai setelah praktik jauh lebih bermakna. Hal yang sama berlaku ketika sebuah pesantren menyebut dirinya memiliki unit usaha.

Islam Berkemajuan memberi arah bagi penggunaan AI

Di tengah kebutuhan akan keterampilan baru, Muhammadiyah menawarkan pijakan etis melalui semangat tajdid atau pembaruan. Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, dalam Pengajian PP Muhammadiyah pada Januari 2026 menjelaskan bahwa inovasi perlu diarahkan kepada perbaikan dan kemaslahatan. Prinsip amanah serta tanggung jawab juga berlaku bagi pengelolaan data dan dampak sosial AI.

Rofiq mengingatkan bahwa ketergantungan pada jawaban instan dapat menggerus proses belajar. “Ilmu itu diperoleh melalui proses belajar, bukan sekadar hasil instan,” ujarnya.

Persoalannya terasa dekat dengan kegiatan santri. AI bisa membantu menemukan bahan bacaan atau menelusuri tema fikih, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa. Dalam Pengajian Tarjih pada Juli 2026, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, menjelaskan bahwa AI dapat digunakan sebagai alat bantu mencari informasi keagamaan, bukan pengganti otoritas ulama.

Pandangan kedua tokoh itu merupakan penjelasan mereka dalam pengajian, bukan keputusan fatwa baru Majelis Tarjih. Bagi santri, pesannya praktis: manfaatkan alat yang tersedia, periksa sumbernya, dan tetap belajar kepada orang yang memiliki kompetensi.

Satu pesantren mengenalkan AI kepada calon ulama, pesantren lain mengajarkan keterampilan lewat kolam ikan, dan ada yang membawa produk peternakan ke pasar. Berbagai jalan itu menunjukkan bahwa masa depan santri tidak harus dibayangkan dalam satu bentuk keterampilan.

Ukuran keberhasilannya pun semestinya tidak berhenti pada foto pelatihan, daftar peserta, atau banyaknya unit usaha yang diumumkan. Pertanyaan yang patut terus diajukan sederhana: apa yang kini mampu dikerjakan santri dengan lebih baik, seberapa jujur mereka mengelola pengetahuan dan usaha, serta kepada siapa manfaatnya sampai?


Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slottotoslotpkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari initoto 4dsitus totoslot gacorzonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4dligabolapkv gamespkv games