Khutbah

Khutbah Jumat: Ikhlas Tanpa Pamrih, Beramal Tanpa Menunggu Pujian

Oleh: Nashrul Mu'minin S.Pd,. C.PW,. C.IJ

Khutbah Jumat ini mengajak umat Islam merenungkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap amal. Melalui dalil Al-Qur’an, hadis, dan contoh kehidupan sehari-hari, jamaah diajak untuk terus berbuat baik tanpa bergantung pada pujian manusia, menjauhi riya, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَوَفَّقَنَا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْإِحْسَانِ.

نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Swt.

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan umur yang masih diberikan hingga hari ini. Dengan rahmat-Nya, kita dapat kembali berkumpul di rumah Allah, menunaikan kewajiban salat Jumat, serta mendengarkan nasihat yang semoga menjadi jalan bagi kita untuk memperbaiki diri.

Tidak semua orang yang pagi tadi membuka mata dapat melangkahkan kaki menuju masjid. Tidak semua orang yang kemarin masih bersama keluarganya hari ini memperoleh kesempatan yang sama. Karena itu, kehadiran kita di tempat yang mulia ini hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas mingguan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bersyukur, bermuhasabah, dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah serta sesama manusia.

Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri dan seluruh jamaah: marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, menjaga hati, memperbaiki akhlak, serta membiasakan diri melakukan kebaikan dengan penuh tanggung jawab.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada hari ini, marilah kita merenungkan sebuah persoalan yang dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali luput dari perhatian.

Persoalan itu bukan tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, seberapa tinggi jabatan yang kita duduki, atau seberapa banyak orang yang mengenal nama kita. Persoalan itu adalah tentang untuk siapa kita melakukan kebaikan dan apa yang sebenarnya kita harapkan dari setiap amal yang kita kerjakan.

Coba kita bertanya kepada diri sendiri.

Jika tidak ada seorang pun yang memuji kita, apakah kita masih mau berbuat baik? Jika tidak ada yang melihat, apakah kita masih mau menolong orang lain? Jika bantuan yang kita berikan tidak dibalas dengan ucapan terima kasih, apakah kita masih bersedia membantu?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membuat kita merasa buruk, melainkan untuk mengajak kita melihat keadaan hati dengan jujur.

Sebab, terkadang kita begitu sibuk memperbaiki penampilan di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki niat di hadapan Allah. Kita ingin terlihat baik, ingin dianggap berjasa, dan ingin memperoleh pengakuan. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati kita kecewa, semangat menurun, bahkan kebaikan yang dahulu dilakukan perlahan-lahan ditinggalkan.

Padahal, pujian bisa datang dan pergi. Penghargaan bisa diberikan dan dilupakan. Namun, amal yang dilakukan dengan niat yang benar tetap memiliki makna di hadapan Allah, meskipun manusia tidak pernah mengetahuinya.

Oleh karena itu, tema khutbah Jumat kita kali ini adalah “Ikhlas Tanpa Pamrih, Beramal Tanpa Menunggu Pujian.”

Pertama, Ikhlas Adalah Perjuangan Hati yang Harus Terus Dijaga

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa pengabdian kepada Allah tidak hanya berkaitan dengan bentuk amal yang tampak, tetapi juga dengan ketulusan dalam menjalankannya.

Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, memberikan bantuan dengan jumlah yang sama, atau menjalankan kegiatan sosial yang sama. Namun, niat yang menggerakkan hati mereka dapat berbeda.

Ikhlas berarti berusaha memurnikan niat dalam beramal karena Allah. Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa senang ketika dihargai atau menerima ucapan terima kasih. Ikhlas berarti kita tidak menjadikan penghargaan tersebut sebagai tujuan utama yang menentukan apakah kita akan tetap berbuat baik atau tidak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya:

“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini merupakan pengingat mendasar bagi kehidupan seorang muslim. Niat bukan sekadar ucapan yang kita lafalkan, melainkan arah yang kita tetapkan dalam hati ketika melakukan sesuatu.

Ketika berangkat bekerja, luruskan niat untuk mencari rezeki yang halal, memenuhi kebutuhan keluarga, menunaikan tanggung jawab, dan memberikan manfaat melalui pekerjaan yang kita lakukan.

Ketika menuntut ilmu, luruskan niat untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat, memperbaiki diri, dan memberikan sumbangsih bagi masyarakat.

Ketika mengajar dan mendidik anak-anak, luruskan niat untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Demikian pula ketika mengurus masjid. Tidak semua orang yang berjasa harus berada di depan. Ada orang yang menyiapkan tempat, membersihkan ruangan, merapikan sandal, menjaga kebersihan tempat wudu, dan memastikan jamaah dapat beribadah dengan nyaman.

Mungkin pekerjaan mereka jarang disebutkan, tetapi keberadaannya membantu kehidupan masjid berjalan dengan baik.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Menjaga keikhlasan bukan perkara yang selalu mudah. Ada kalanya kita memberikan sedekah dengan niat membantu, tetapi kemudian muncul keinginan agar orang lain mengetahui bahwa kita telah bersedekah. Ada kalanya kita membantu tetangga dengan tulus, tetapi kemudian berharap bantuan itu akan dibalas.

Hal-hal semacam ini mengajarkan bahwa hati perlu terus dididik.

Niat yang baik harus dijaga sebelum amal dilakukan, ketika amal sedang berlangsung, dan setelah amal selesai dikerjakan.

Karena itu, marilah kita belajar melakukan kebaikan dengan tenang. Tidak semua amal harus diumumkan. Tidak semua pertolongan harus diceritakan. Tidak semua pengorbanan harus dijadikan bahan untuk menunjukkan kelebihan diri.

Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh kita dan Allah. Ada bantuan yang dapat diberikan tanpa menyebut-nyebutnya kembali. Ada doa yang kita panjatkan untuk orang lain tanpa harus memberitahukan bahwa kita telah mendoakannya.

Jangan menunggu menjadi orang besar untuk memiliki niat yang besar. Jangan menunggu memiliki harta melimpah untuk mulai berbagi. Jangan menunggu dikenal masyarakat untuk melakukan sesuatu yang berguna.

Sebab, keikhlasan bukan ditentukan oleh besarnya amal yang terlihat, melainkan oleh ketulusan niat dan kebenaran cara dalam menjalankannya.

Kedua, Berbuat Baiklah Tanpa Menjadikan Pujian dan Balasan sebagai Syarat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu ujian dalam berbuat baik adalah ketika kita tidak menerima balasan sebagaimana yang diharapkan.

Kita membantu seseorang ketika ia sedang mengalami kesulitan. Kita meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta untuk meringankan bebannya. Akan tetapi, setelah keadaan orang tersebut membaik, mungkin ia tidak lagi mengingat pertolongan kita.

Dalam keadaan seperti itu, hati dapat merasa kecewa. Kita mungkin mulai bertanya, mengapa dahulu begitu banyak membantu, tetapi sekarang tidak mendapatkan perhatian yang sama?

Perasaan kecewa dapat muncul dalam kehidupan manusia. Namun, kita perlu berhati-hati agar kekecewaan tidak mengubah kebaikan menjadi kebencian.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Artinya:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan [76]: 9).

Ayat ini mengajarkan ketulusan dalam memberikan pertolongan. Orang yang berbuat baik karena Allah berusaha tidak menjadikan balasan manusia sebagai syarat bagi amalnya.

Bayangkan seseorang yang memberikan makanan kepada tetangganya yang sedang kesulitan. Ia tidak menunggu tetangganya membalas dengan makanan yang lebih banyak. Ia tidak menjadikan bantuan tersebut sebagai alasan untuk mengatur kehidupan penerimanya.

Ia membantu karena mengetahui bahwa orang lain sedang membutuhkan pertolongan dan dirinya memiliki kemampuan untuk meringankan beban tersebut.

Demikian pula orang tua yang membesarkan anak-anaknya. Mereka mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, dan kasih sayang selama bertahun-tahun. Banyak pengorbanan itu tidak pernah dicatat. Ada malam-malam panjang ketika mereka terjaga, ada kebutuhan pribadi yang ditunda, dan ada kecemasan yang disimpan sendiri demi ketenangan anak-anaknya.

Pengorbanan tersebut hendaknya menjadi pelajaran bahwa tidak semua kebaikan harus dihitung seperti transaksi. Kasih sayang dan kepedulian tidak seharusnya selalu diukur dengan pertanyaan tentang berapa banyak yang akan kita terima kembali.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, hal ini bukan berarti kita dilarang mengharapkan hubungan yang saling menghormati atau tidak boleh memperjuangkan hak.

Kita tetap boleh menyampaikan kekecewaan secara baik, meminta pertanggungjawaban, menetapkan batasan, dan menolak tindakan yang merugikan. Ikhlas bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan.

Ikhlas berarti menjaga niat ketika berbuat baik, sementara kebijaksanaan membantu kita menentukan bagaimana kebaikan itu dilakukan.

Jika pernah ditipu, belajarlah lebih berhati-hati. Jika bantuan pernah disalahgunakan, evaluasilah cara membantu yang lebih tepat. Namun, jangan biarkan satu pengalaman buruk membuat kita menutup pintu kebaikan bagi semua orang.

Berbuat baik tidak berarti mengabaikan akal sehat. Berbuat ikhlas juga tidak berarti kehilangan kebijaksanaan. Keduanya perlu berjalan bersama agar kebaikan benar-benar menghadirkan manfaat.

Ketiga, Waspadalah terhadap Riya, Sum’ah, dan Kebiasaan Mengungkit Kebaikan

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ada penyakit hati yang perlu kita waspadai dalam perjalanan menuju keikhlasan, yaitu riya, sum’ah, kesombongan, dan kebiasaan mengungkit pertolongan yang telah diberikan.

Riya berkaitan dengan keinginan agar amal dilihat dan mendapatkan pengakuan manusia. Sementara itu, sum’ah berkaitan dengan keinginan agar amal didengar dan dikenal oleh orang lain.

Keduanya mengingatkan kita bahwa manusia dapat tergoda menjadikan ibadah dan kebaikan sebagai sarana membangun citra diri.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Seseorang memberikan bantuan, kemudian terus-menerus menceritakannya agar dianggap dermawan. Seseorang aktif dalam kegiatan masjid, tetapi mudah marah ketika perannya tidak mendapat pengakuan. Ada pula orang yang mengungkit bantuan masa lalu setiap kali terjadi perbedaan pendapat.

Kita perlu berhati-hati ketika mulai merasa bahwa suatu amal baru bermakna apabila diketahui banyak orang.

Namun, kita juga tidak boleh sembarangan menilai isi hati orang lain.

Tidak semua amal yang dilakukan secara terbuka merupakan riya. Dokumentasi kegiatan sosial dapat diperlukan untuk laporan, transparansi, pertanggungjawaban dana, serta mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam kebaikan.

Yang harus dijaga adalah niat, cara, dan dampaknya.

Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menolong justru mempermalukan penerima bantuan. Jangan sampai dokumentasi yang dimaksudkan untuk mengajak masyarakat berbuat baik berubah menjadi sarana membanggakan diri.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mengungkit kebaikan juga dapat melukai perasaan orang yang pernah kita bantu.

Seseorang yang sedang berada dalam kesulitan membutuhkan pertolongan, bukan pengingat berulang-ulang tentang kelemahannya. Orang yang menerima bantuan membutuhkan penghormatan terhadap martabatnya, bukan perlakuan yang membuatnya merasa rendah.

Jika kita pernah membantu seseorang, jagalah kehormatannya. Jangan menyebarkan kesulitan pribadinya tanpa alasan yang benar. Jangan menggunakan bantuan yang pernah diberikan untuk memaksanya mengikuti semua kehendak kita.

Bantuan yang baik semestinya menguatkan, bukan mempermalukan. Sedekah yang baik semestinya meringankan beban, bukan menciptakan beban batin yang baru.

Apabila kita menyadari pernah mengungkit kebaikan atau melukai perasaan orang lain, marilah kita berani memperbaiki diri. Kita dapat meminta maaf, menghentikan kebiasaan tersebut, dan belajar membantu dengan cara yang lebih menghormati sesama.

Jangan merasa bahwa memperbaiki niat hanya diperlukan oleh orang yang baru belajar agama. Justru semakin seseorang memahami agama, semakin besar tanggung jawabnya untuk menjaga kerendahan hati.

Keempat, Keikhlasan Harus Terlihat dalam Akhlak Ketika Tidak Ada yang Mengawasi

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Keikhlasan tidak hanya berkaitan dengan sedekah atau kegiatan sosial. Keikhlasan juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama ketika tidak ada orang yang memperhatikan kita.

Ketika berada di masjid, kita berusaha berbicara dengan santun. Ketika bertemu tokoh masyarakat, kita berusaha menunjukkan sikap hormat. Namun, bagaimana sikap kita ketika berada di rumah bersama keluarga? Bagaimana tanggung jawab kita ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi?

Pertanyaan tersebut penting karena akhlak yang baik tidak seharusnya hanya ditampilkan di hadapan orang tertentu.

Jangan sampai kita santun di masjid, tetapi kasar kepada keluarga. Jangan sampai kita ramah kepada orang yang memiliki kedudukan, tetapi merendahkan orang yang dianggap tidak penting. Jangan sampai kita rajin berbicara tentang agama, tetapi mengabaikan kejujuran dalam pekerjaan.

Rasulullah saw. bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1987).

Hadis ini mengingatkan bahwa ketakwaan harus dibawa ke mana pun kita pergi. Kita tidak hanya bertakwa ketika berada di masjid, tetapi juga ketika berada di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, dan ruang digital.

Dalam keluarga, belajarlah mendengarkan orang lain dengan baik. Jangan merendahkan pekerjaan rumah tangga. Berterima kasihlah atas bantuan yang kita terima. Jika melakukan kesalahan, beranilah meminta maaf.

Dalam pekerjaan, jadilah pribadi yang dapat dipercaya. Jangan mengambil hak orang lain. Jangan memanipulasi laporan. Jangan meninggalkan tanggung jawab hanya karena tidak ada pengawasan.

Dalam kehidupan bertetangga, jagalah ucapan. Hindari menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Jangan membicarakan kekurangan orang lain untuk meninggikan diri sendiri.

Keikhlasan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk bekerja tanpa perencanaan atau mengabaikan tanggung jawab.

Niat baik harus disertai cara yang benar. Kita tidak boleh menghalalkan segala cara dengan alasan ingin membantu. Kita tidak boleh melanggar amanah dengan alasan ingin mencapai tujuan mulia.

Jika cara kita membantu belum tepat, perbaikilah. Jika komunikasi menimbulkan kesalahpahaman, jelaskanlah dengan santun. Jika melakukan kesalahan, akuilah dan berusahalah memperbaikinya.

Orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri akan lebih sibuk memeriksa niatnya daripada mencari-cari kekurangan orang lain.

Ia akan berusaha menjadi pribadi yang tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap bertanggung jawab meskipun tidak dipuji, dan tetap menjaga akhlak ketika menghadapi kesulitan.

Kelima, Jadikan Jumat Berkah sebagai Kepedulian yang Terus Hidup

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita kembali berkumpul di rumah Allah dalam suasana Jumat yang penuh keberkahan.

Di banyak lingkungan masyarakat, semangat Jumat Berkah diwujudkan melalui pembagian makanan, sedekah, bantuan kepada sesama, dan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan jamaah masjid.

Kita patut bersyukur apabila ada orang yang menyediakan makanan bagi jamaah, membantu biaya kegiatan, menyiapkan tempat, atau meluangkan waktu untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Namun, semangat Jumat Berkah hendaknya tidak berhenti setelah makanan habis dibagikan dan jamaah meninggalkan masjid.

Semangat itu perlu kita bawa ke rumah, ke tempat kerja, dan ke tengah masyarakat.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan masyarakat yang baik dibangun melalui kerja sama dalam kebaikan.

Kita tidak harus menunggu memiliki harta melimpah untuk mulai membantu. Ada orang yang dapat memberikan manfaat melalui hartanya. Ada yang memiliki tenaga dan waktu. Ada yang mempunyai ilmu dan keterampilan. Ada pula yang dapat memberikan perhatian atau menjadi pendengar bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.

Ketika melihat tetangga yang sakit, tanyakan kabarnya dan bantu sesuai kemampuan. Ketika mengetahui ada keluarga yang mengalami kesulitan, carilah cara yang pantas untuk meringankan bebannya tanpa mempermalukan mereka.

Ketika melihat anak-anak membutuhkan dukungan pendidikan, bantulah agar mereka memperoleh kesempatan untuk belajar. Ketika ada warga lanjut usia yang membutuhkan pertolongan, luangkan waktu untuk membantu.

Masjid juga perlu menjadi tempat yang ramah bagi masyarakat. Anak-anak hendaknya dibimbing dengan kasih sayang. Pemuda diberi ruang untuk belajar dan berkontribusi. Orang tua dihormati. Orang yang baru belajar memperbaiki ibadah disambut dengan nasihat yang bijaksana.

Jangan menjadikan masjid sebagai tempat mempertontonkan siapa yang paling kaya, paling berpengaruh, atau paling berjasa.

Jadikanlah masjid sebagai tempat memperbaiki diri, menambah ilmu, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat. Namun, kita selalu dapat memulai dari hal yang berada dalam jangkauan kita.

Satu keluarga yang terbantu, satu anak yang kembali bersemangat belajar, satu tetangga yang merasa tidak sendirian, atau satu perselisihan yang berhasil diredakan dapat menjadi langkah berarti dalam membangun lingkungan yang lebih baik.

Jangan meremehkan kebaikan kecil. Jangan menganggap bantuan sederhana tidak memiliki arti. Jangan menunda kebaikan hanya karena merasa belum mampu melakukan sesuatu yang besar.

Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sederhana justru sangat berarti bagi orang lain.

Sebuah sapaan dapat mengurangi kesepian. Sebuah bantuan kecil dapat meringankan kebutuhan mendesak. Sebuah nasihat yang disampaikan dengan santun dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih baik.

Marilah kita menjadikan Jumat Berkah sebagai pengingat bahwa keberkahan harus diupayakan melalui ibadah yang benar, niat yang tulus, dan kepedulian yang nyata.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setelah mendengarkan nasihat tentang keikhlasan, marilah kita tidak berhenti pada pemahaman. Mari kita bawa pesan ini ke dalam tindakan.

Mulai hari ini, berusahalah memperbaiki satu hal dalam diri kita.

Jika selama ini kita mudah kecewa ketika tidak mendapatkan pujian, belajarlah mengingat kembali tujuan awal melakukan kebaikan. Jika kita sering mengungkit bantuan, belajarlah menjaga lisan. Jika kita hanya bersemangat ketika ada yang melihat, cobalah melakukan satu kebaikan tanpa perlu mengumumkannya.

Jika hari ini kita menyadari bahwa niat masih bercampur dengan keinginan mendapatkan pengakuan, jangan berputus asa. Teruslah memohon pertolongan Allah dan memperbaiki hati.

Kita tidak harus selalu menjadi pelaku utama. Kita tidak harus selalu berada di depan. Kita tidak harus selalu disebut sebagai orang yang berjasa.

Terkadang, peran terbaik kita adalah mendukung orang lain agar dapat melakukan kebaikan dengan lebih baik.

Ingatlah, bahwa kita tidak dapat mengendalikan seluruh penilaian manusia. Akan ada masa ketika usaha kita dihargai dan ada masa ketika usaha itu luput dari perhatian.

Namun, kita dapat terus berusaha memperbaiki niat, menjaga amanah, dan melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya.

Jangan biarkan pujian membuat kita sombong dan jangan biarkan ketiadaan pujian membuat kita berhenti berbuat baik.

Marilah kita pulang dari masjid ini dengan tekad menjadi manusia yang lebih baik, bukan sekadar terlihat baik; menjadi manusia yang bermanfaat, bukan sekadar dikenal; serta menjadi manusia yang tulus dalam beramal, bukan hanya mengharapkan pujian dari sesama.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas dalam beribadah, jujur dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, santun dalam berbicara, dan peduli terhadap sesama.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjaga keikhlasan, meluruskan niat, dan memperbanyak amal saleh.

Janganlah kita menjadi orang yang hanya bersemangat ketika mendapatkan pujian, tetapi kehilangan semangat ketika tidak dihargai. Jangan pula menjadikan kebaikan sebagai alat untuk merendahkan orang lain atau memperoleh keuntungan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Marilah kita mengingat bahwa kehidupan ini merupakan kesempatan untuk beribadah, memperbaiki diri, menjalankan amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Harta, ilmu, tenaga, waktu, jabatan, dan kemampuan yang kita miliki hendaknya digunakan untuk perkara yang baik dan bertanggung jawab.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya dan kesombongan, membimbing kita agar senantiasa berbuat baik, serta menjadikan kita pribadi yang tetap istiqamah dalam kebaikan, baik ketika dipuji maupun ketika tidak diperhatikan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita memohon kepada Allah Swt. agar diberikan hati yang bersih, niat yang tulus, dan kekuatan untuk terus melakukan kebaikan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، وَمِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَسَاجِدِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْمُخْلِصِينَ.

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا وَمُجْتَمَعَنَا آمِنًا وَمُطْمَئِنًّا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.


Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor