Sholat Dhuha Berapa Rakaat? Panduan 2, 4, 8, dan 12 Rakaat

Sholat Dhuha paling sedikit dikerjakan dua rakaat. Berdasarkan penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, jumlahnya dapat ditambah sesuai kemampuan.[1] Dengan pola dua rakaat sekali salam, empat rakaat dikerjakan dengan dua salam, delapan rakaat dengan empat salam, dan 12 rakaat dengan enam salam. Angka 12 bukan batas maksimal. Kekuatan dalil untuk setiap jumlah rakaat juga tidak sama.
Ringkasan Jumlah Rakaat dan Salam Sholat Dhuha
Tabel berikut memberi jawaban cepat. Penjelasan umum tentang waktu, bacaan, niat, dan tata cara dapat dibaca dalam panduan sholat Dhuha.
| Jumlah rakaat | Cara pembagian | Jumlah salam | Dasar atau catatan |
|---|---|---|---|
| 2 rakaat | 2 | 1 salam | Jumlah minimal; didukung hadis wasiat kepada Abu Hurairah.[1][2] |
| 4 rakaat | 2 + 2 | 2 salam | Hadis sahih Aisyah menyebut empat rakaat dan kemungkinan menambah.[3] |
| 8 rakaat | 2 + 2 + 2 + 2 | 4 salam | Hadis sahih Ummu Hani menyebut delapan rakaat; Tarjih menerapkan salam setiap dua rakaat.[1][4] |
| 12 rakaat | Enam kali 2 rakaat | 6 salam | Boleh sebagai tambahan; riwayat tentang keutamaan khusus 12 rakaat berstatus lemah.[1][5] |
Dasar Pelaksanaan Sholat Dhuha 2, 4, dan 8 Rakaat
Dua rakaat: jumlah paling sedikit
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berwasiat kepadanya untuk menjaga dua rakaat Dhuha. Hadis sahih ini menunjukkan landasan kuat bagi pelaksanaan dua rakaat, sedangkan penetapannya sebagai jumlah minimal juga ditegaskan dalam penjelasan resmi Tarjih.[1][2]
أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku, Rasulullah saw., berwasiat kepadaku tentang tiga perkara: berpuasa tiga hari pada setiap bulan, mengerjakan dua rakaat Dhuha, dan melaksanakan witir sebelum tidur.” (HR. al-Bukhari no. 1981)[2]
Empat rakaat: praktik yang diriwayatkan Aisyah
Mu‘adzah bertanya kepada Aisyah tentang jumlah rakaat Dhuha yang dikerjakan Rasulullah saw. Jawabannya menyebut empat rakaat dan tambahan sesuai kehendak Allah. Hadis sahih ini mendukung empat rakaat sekaligus menunjukkan bahwa praktik Nabi tidak dibatasi pada satu angka.[3]
أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى؟ قَالَتْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ
“Ia bertanya kepada Aisyah r.a., ‘Berapa rakaat Rasulullah saw. mengerjakan sholat Dhuha?’ Aisyah menjawab, ‘Empat rakaat, dan beliau menambah sesuai dengan yang Allah kehendaki.’” (HR. Muslim no. 719a)[3]
Delapan rakaat: riwayat Ummu Hani saat Fathu Makkah
Ummu Hani meriwayatkan bahwa Nabi saw. mengerjakan delapan rakaat pada hari penaklukan Makkah. Riwayat sahih ini menjadi dasar kebolehan delapan rakaat, tetapi konteksnya adalah peristiwa tertentu dan tidak menyatakan delapan sebagai batas maksimal.[4]
مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرَ أُمِّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
“Tidak seorang pun menceritakan kepada kami bahwa ia melihat Nabi saw. mengerjakan sholat Dhuha selain Ummu Hani. Ia menuturkan bahwa pada hari penaklukan Makkah, Nabi saw. masuk ke rumahnya, mandi, lalu mengerjakan delapan rakaat. Aku belum pernah melihat sholat yang lebih ringan daripadanya, tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujud.” (HR. al-Bukhari no. 1176)[4]
Sholat Dhuha 4 Rakaat Berapa Kali Salam?
Empat rakaat dikerjakan dua rakaat lalu salam, kemudian dua rakaat lagi dan salam. Jadi, jumlahnya dua salam. Hadis Aisyah menyebut empat rakaat, tetapi tidak menjelaskan bentuk salamnya. Pembagian 2 + 2 mengikuti cara yang diterangkan Majelis Tarjih untuk sholat Dhuha, sehingga jawaban praktisnya bukan empat rakaat langsung dengan satu salam.[1][3]
Sholat Dhuha 8 Rakaat Berapa Kali Salam?
Delapan rakaat dibagi menjadi empat rangkaian, masing-masing dua rakaat. Dengan demikian, sholat Dhuha delapan rakaat dikerjakan dengan empat salam. Hadis Ummu Hani menjadi dasar jumlah delapan rakaat, sedangkan keterangan dua rakaat sekali salam berasal dari penjelasan tata cara Majelis Tarjih.[1][4]
Sholat Dhuha 12 Rakaat Berapa Kali Salam?
Jika memilih 12 rakaat, kerjakan enam kali dua rakaat sehingga jumlahnya enam salam. Pelaksanaannya dapat dipahami sebagai tambahan rakaat sesuai kemampuan, bukan karena 12 merupakan batas tertinggi atau mempunyai keutamaan khusus yang pasti.[1]
Riwayat yang menjanjikan istana emas di surga bagi orang yang mengerjakan 12 rakaat perlu diberi catatan. At-Tirmidzi menyebutnya gharib, sedangkan penilaian yang dicantumkan pada basis data hadis tersebut menyatakannya daif atau lemah.[5]
مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا مِنْ ذَهَبٍ فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang mengerjakan sholat Dhuha 12 rakaat, Allah membangunkan baginya sebuah istana dari emas di surga.” (HR. at-Tirmidzi no. 473; dinilai daif)[5]
Karena kualitasnya lemah, riwayat ini tidak layak disamakan dengan hadis sahih tentang dua, empat, dan delapan rakaat. Dua belas rakaat tetap dapat dikerjakan sebagai tambahan, tetapi jangan menisbatkan janji keutamaan khususnya secara pasti.
Baca Juga:
- Waktu Sholat Dhuha: Mulai, Batas Akhir, dan Waktu Terbaik
- Doa Setelah Sholat Dhuha: Bacaan, Arti, dan Pandangan Tarjih
- Keutamaan Sholat Dhuha: Dalil, Hikmah, dan Kaitannya dengan Rezeki
Batas Maksimal dan Cara Memilih Jumlah Rakaat
Apakah ada jumlah maksimal rakaat Dhuha?
Tidak ditemukan dalil sahih yang menetapkan angka tertentu sebagai batas maksimal. Penjelasan Majelis Tarjih menyebut jumlah minimal dua rakaat dan membuka kemungkinan menambahnya. Karena itu, delapan atau 12 rakaat tidak boleh dipastikan sebagai batas tertinggi.[1]
Pilih sesuai kemampuan dan kekhusyukan
Dua rakaat sudah memenuhi jumlah minimal. Jika mampu, pilih empat atau delapan rakaat berdasarkan riwayat sahih, lalu menambahnya. Yang penting, setiap dua rakaat diakhiri salam dan pelaksanaannya tenang. Tidak perlu memaksakan jumlah banyak hingga mengurangi kekhusyukan.
Kesalahpahaman yang Perlu Diluruskan
| Anggapan | Pelurusan |
|---|---|
| Delapan rakaat adalah jumlah maksimal. | Delapan merupakan jumlah yang diriwayatkan dari peristiwa Fathu Makkah, bukan batas tertinggi. |
| Hadis 12 rakaat sama kuatnya dengan hadis lain. | Riwayat keutamaan khusus 12 rakaat dinilai lemah; statusnya berbeda dari riwayat sahih. |
| Jumlah rakaat sama dengan jumlah salam. | Dengan pola dua rakaat sekali salam, jumlah salam adalah setengah dari jumlah rakaat. |
| Hadis Aisyah menjelaskan empat rakaat sekali salam. | Hadis tersebut menyebut jumlah rakaat, tetapi tidak merinci cara salam. |
Pertanyaan Umum
Lebih baik sholat Dhuha dua atau empat rakaat?
Keduanya memiliki dasar. Dua rakaat memenuhi jumlah minimal, sedangkan empat rakaat disebut dalam hadis sahih Aisyah. Pilih sesuai kemampuan tanpa menganggap jumlah yang lebih sedikit tidak bernilai.
Apakah delapan rakaat merupakan batas maksimal?
Bukan. Delapan rakaat dicontohkan dalam riwayat sahih Ummu Hani, tetapi hadis itu tidak menetapkannya sebagai batas maksimal.
Apakah sholat Dhuha 12 rakaat boleh?
Boleh sebagai tambahan rakaat dengan pola dua rakaat sekali salam. Namun, jangan menjadikan riwayat lemah tentang istana emas sebagai dasar untuk memastikan keutamaan khusus atau batas maksimalnya.
Penutup
Sholat Dhuha dapat dimulai dari dua rakaat dan ditambah sesuai kemampuan. Empat, delapan, atau 12 rakaat dikerjakan dua rakaat sekali salam. Pegang dalil sahih untuk jumlah yang dicontohkan, dan tempatkan riwayat lemah secara proporsional.
Referensi:
[1] Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. “Tata Cara Shalat Tahajud dan Shalat Dhuha.” Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
[2] Imam al-Bukhari. “Sahih al-Bukhari 1981: Wasiat Dua Rakaat Dhuha kepada Abu Hurairah.” Sunnah.com.
[3] Imam Muslim. “Sahih Muslim 719a: Empat Rakaat Dhuha dan Tambahan.” Sunnah.com.
[4] Imam al-Bukhari. “Sahih al-Bukhari 1176: Delapan Rakaat pada Fathu Makkah.” Sunnah.com.
[5] Imam at-Tirmidzi. “Jami‘ at-Tirmidhi 473: Riwayat Dua Belas Rakaat Dhuha.” Sunnah.com.
Editor: Al-Afasy



