KH Tafsir Sebut Ponpes Imam Syuhodo Jadi Model Ideal Pondok Pesantren Muhammadiyah
PWMJATENG.COM, SUKOHARJO — Di usianya yang ke-32 tahun, Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo sukses menjadi role model bagi pengelolaan Pondok Pesantren Muhammadiyah se-Jawa Tengah. Ketua PWM Jateng, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., menyebut pesantren ini berhasil merumuskan standar pendidikan masa depan yang ideal bagi persyarikatan.
Sejarah mencatat kritik tajam terhadap institusi pendidikan Islam modern yang Muhammadiyah kelola pada era 1950-an. Saat itu, pengamat menyebut upaya mencari ulama di Muhammadiyah ibarat mencari penjual es pada tengah malam yang dingin. Kritikus juga sering menyindir asrama pelajar Muhammadiyah lebih mirip tempat indekos.
“Karena Muhammadiyah mendirikan pondok ujungnya jadi kos-kosan katanya. Kenapa seperti kos-kosan? Karena nggak ada kiainya,” ujar Dr. KH. Tafsir, M.Ag.
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo mematahkan stigma negatif itu dengan membuktikan kapasitasnya dalam mencetak kader ulama yang mumpuni.
Dinamika dan Tantangan Organisasi
Pengelolaan Pondok Pesantren Muhammadiyah juga menyimpan dinamika yang sangat unik. Sistem kepemilikan oleh organisasi membuat tata kelolanya berbeda jauh dari pesantren tradisional. Pesantren tradisional umumnya berpusat mutlak pada figur kiai pribadi.
Sebaliknya, pengasuh pondok milik persyarikatan harus mengakomodasi berbagai pandangan dari pimpinan majelis. Tantangan pesantren persyarikatan ini menuntut fleksibilitas dan kesabaran ekstra dari jajaran pengurus.
“Sehingga yang berat dihadapi pengasuh pondok pesantren Muhammadiyah bukan menghadapi santri, tapi menghadapi pimpinan,” ungkap KH. Tafsir.
Perbedaan tata kelola ini justru mendorong Muhammadiyah untuk terus merumuskan standardisasi kurikulum yang solid. Usia 32 tahun menegaskan kematangan Ponpes Imam Syuhodo dalam membangun fondasi pendidikan yang terarah.
Target utamanya adalah memantapkan tata kelola yang mapan sebelum pondok memasuki usia 40 tahun. Standardisasi ini mencakup penentuan kitab rujukan baku bagi para santri. Harapannya, setiap kendala operasional dapat teratasi secara sistematis, sehingga para lulusan kelak siap mengajarkan ilmu agama secara komprehensif di tengah masyarakat.
Editor: Al-Afasy



