Jangan Asal Share! Mengapa Tabayyun dan Cover Both Sides Jadi Kunci Waras di Media Sosial
Oleh: Ruli Alqodri Mustafa*

PWMJATENG.COM, Di zaman media sosial, sebuah kabar bisa mengelilingi dunia hanya dalam hitungan menit. Ironisnya, klarifikasi atau konfirmasi sering kali datang terlambat ketika kerusakan sudah telanjur terjadi. Akibat fenomena ini, hoaks dapat menghancurkan reputasi seseorang, meretakkan persahabatan, bahkan meledakkan konflik sosial hanya karena satu pesan yang meneruskannya tanpa berpikir panjang.
Di sinilah Islam dan dunia jurnalistik modern menawarkan sebuah prinsip yang sangat relevan sepanjang zaman: tabayyun dan cover both sides.
Apa Itu Tabayyun dan Mengapa Penting di Era Digital?
Secara bahasa, tabayyun artinya mencari kejelasan, memeriksa, dan memverifikasi kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Dalam bahasa jurnalistik modern, prinsip ini terkenal dengan istilah check and recheck. Bedanya, tabayyun bukan sekadar etika profesi, melainkan juga sebuah perintah agama yang wajib umat Islam ikuti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengandung pesan yang luar biasa. Allah tidak memerintahkan kita untuk langsung percaya atau serta-merta menolak sebuah berita, melainkan mewajibkan pemeriksaan kebenarannya terlebih dahulu. Dengan kata lain, kehati-hatian dalam menyerap informasi adalah bagian dari keimanan.
Ketika Jempol Bergerak Lebih Cepat daripada Akal
Sayangnya, realitas di era digital justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak orang lebih rajin menekan tombol forward atau share daripada mengaktifkan tombol berpikir mereka. Fenomena “jempol bergerak lebih cepat daripada akal” inilah yang membuat hoaks dan disinformasi berkembang jauh lebih pesat daripada fakta.
Padahal, membiasakan diri untuk tabayyun dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya tidak sulit. Anda bisa menerapkan 4 langkah sederhana berikut:
-
Periksa Sumber Informasi: Apakah berita berasal dari media massa yang kredibel dan terdaftar, atau hanya dari akun anonim media sosial yang mengejar sensasi?
-
Cari Pembanding (Cross-Check): Jangan terpaku pada satu sumber. Cari informasi pembanding dari media lain yang bereputasi baik.
-
Lakukan Konfirmasi Langsung: Bila informasi tersebut menyangkut nama baik seseorang, hubungi langsung (cover both sides) pihak yang bersangkutan.
-
Gunakan Akal Sehat dan Logika: Jika sebuah berita terdengar terlalu dramatis, bombastis, atau terlalu indah untuk menjadi kenyataan, jangan buru-buru mempercayainya.
Menghindari Konflik dengan Prinsip Cover Both Sides
Dalam menyelesaikan perselisihan atau memahami sebuah isu makro, tabayyun menjadi kunci utama. Kita tidak boleh hanya mendengar dari satu pihak lalu merasa sudah mengetahui seluruh kebenaran cerita.
Para ahli hukum lama mengenal istilah “audi alteram partem”—artinya dengarkan juga pihak yang lain. Sementara dalam kode etik jurnalistik, insan pers mengenalnya sebagai prinsip cover both sides.
Prinsip cover both sides adalah standar etika untuk menyajikan informasi secara adil, seimbang, dan tidak memihak. Sebab, keadilan sosial dan kedamaian lahir dari keseimbangan informasi, bukan dari prasangka buruk atau asumsi sepihak.
Penerapan tabayyun dan cover both sides membawa manfaat sangat besar untuk kesehatan mental dan sosial kita:
-
Melindungi diri dari dosa menyebarkan fitnah.
-
Menjaga tali silaturahmi antar-sesama.
-
Menghindarkan diri dari penyesalan di kemudian hari.
-
Menciptakan iklim media sosial yang lebih damai dan sehat.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga berulang kali mengingatkan umatnya agar berhati-hati dalam menerima berita. Sikap tergesa-gesa (grusa-grusu) sering kali menjadi pintu masuk kesalahan fatal yang sulit kita perbaiki.
Kesimpulan: Cerdas Digital dengan Menyaring Informasi
Di tengah banjir informasi saat ini, literasi digital bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan gawai atau teknologi. Literasi digital adalah kemampuan menyaring informasi secara bijaksana menggunakan akal sehat. Orang yang cerdas di era digital bukanlah mereka yang paling cepat menyebarkan berita viral, melainkan mereka yang paling bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi yang mereka bagikan.
Karena itu, mari kita budayakan gerakan tabayyun. Gunakan logika sebelum emosi menguasai Anda saat membaca berita. Cari fakta valid sebelum mulai berbicara atau berkomentar. Terakhir, pastikan kebenarannya sebelum Anda membagikan informasi ke grup-grup percakapan.
Sebab, tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang ramai dibicarakan layak dipercaya. Dalam dunia yang dipenuhi kebisingan informasi, tabayyun adalah cahaya yang menjaga akal tetap jernih dan hati tetap bersih.
*Penulis adalah Founder of The TwinSPrime Group, Cilegon, Banten.
Editor: Al-Afasy



