Gandeng Pengurus Ranting Boyolali, Baitul Arqam Tendik UMS Dorong Transformasi Progresif
PWMJATENG.COM, BOYOLALI — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan program pengabdian masyarakat berbasis ranting dalam pembukaan Baitul Arqam Tendik UMS di Ampel, Boyolali, Kamis (25/6/2026), guna mengintegrasikan peran administrasi kampus dengan dakwah riil di masyarakat.
Penyelenggaraan Baitul Arqam Tenaga Kependidikan (Tendik) UMS periode keempat ini sengaja mengabaikan kenyamanan fasilitas hotel berbintang. Pihak kampus justru memboyong sebanyak 47 peserta untuk menginap dan beraktivitas penuh selama tiga hari, 25–27 Juni 2026, di lingkungan sekolah daerah.
Ketua LP3A UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., menegaskan bahwa pemilihan lokasi di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pedesaan memiliki esensi mendalam. Pihak kampus ingin menghadirkan atmosfer perjuangan yang riil bagi para peserta.
“UMS tidak menjadi besar secara tiba-tiba. Semua melalui proses panjang. Karena itu, kami ingin menghadirkan pengalaman langsung kepada peserta agar memahami bagaimana Muhammadiyah tumbuh dan berkembang melalui kerja kolektif di akar rumput,” ungkap Bambang, Kamis (25/6/2026).
Langkah menjauh dari kemewahan kota ini bertujuan memangkas jarak psikologis antara pengelola kampus dengan warga persyarikatan. Melalui interaksi langsung, nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas pengabdian dapat terinternalisasi lebih kuat dalam diri setiap tendik.
Menjemput Ruh Perjuangan di Ranting
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., mengkritik tren acara institusi yang kerap terjebak pada formalitas fasilitas mewah. Menurutnya, esensi sebuah gerakan ideologis justru sering kali luntur di dalam gedung-gedung hotel.
“Kalau kegiatan dilaksanakan di hotel, kita memang mendapatkan fasilitas yang nyaman. Namun, kita tidak mendapatkan ruh Muhammadiyah berupa kebersamaan, kolaborasi, dan semangat dakwah yang tumbuh di tingkat ranting,” ujar Mutohharun tajam.
Sebagai tindak lanjut, UMS kini tengah menyiapkan skema pengabdian masyarakat yang masif. Program ini akan mewajibkan kolaborasi konkret antara dosen, tendik, dan pimpinan ranting maupun cabang Muhammadiyah di berbagai daerah melalui dukungan pendanaan kampus.
“Harapannya, seluruh dosen dan tenaga kependidikan UMS tidak hanya menjadi bagian dari kampus secara administratif, tetapi juga menjadi bagian integral dari gerakan Muhammadiyah, baik dari sisi ideologi, dakwah, maupun pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Mutohharun.
Sinergi Masif Pendidikan Boyolali
Keputusan UMS menetapkan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Ampel sebagai pusat kegiatan mendapat sambutan luar biasa dari pengurus daerah setempat. Wilayah Boyolali sendiri tercatat memiliki basis kekuatan pendidikan yang sangat masif di Jawa Tengah.
Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali, M. Muslih, menjelaskan bahwa Kecamatan Ampel mengelola 19 MI Muhammadiyah dan satu SD Muhammadiyah. Kehadiran delegasi kampus pusat menjadi energi baru bagi pengembangan kaderisasi lokal.
“Semoga kegiatan ini menghasilkan kader-kader tenaga kependidikan UMS yang memiliki ideologi Muhammadiyah yang kuat, beribadah sesuai tuntunan tarjih, dan mampu memberikan pencerahan di tengah masyarakat,” tutur Muslih.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ampel, Ir. Imam Teguh S., juga menyatakan kebahagiaannya. Interaksi langsung ini membuka ruang kerja sama yang lebih luas bagi kemajuan persyarikatan di tingkat cabang dan ranting.
Kontributor: Fika
Editor: Alafasy



