Cerita Haru Anak Pekerja Migran di Malaysia, Baru Pertama Kali Kenal Congklak Lewat KKN Internasional UMS
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Tujuh anak pekerja migran Indonesia di Malaysia tampak terkesima saat pertama kali menggenggam biji permainan tradisional congklak yang dibawa oleh mahasiswa KKN Internasional UMS ke Sanggar Bimbingan Kelana Jaya, Jumat (5/6/2026).
Dua mahasiswa program studi kesehatan UMS, Dhini Hilyati (Ilmu Gizi) dan Asrofi Noor Masithoh (Keperawatan), menginisiasi aksi kreatif ini. Mereka membawa papan congklak berwarna cerah ke hadapan tujuh murid sanggar. Langkah ini menjadi strategi jitu untuk memantik rasa ingin tahu anak-anak sejak menit pertama.
Para mahasiswa memulainya dengan cerita ringan tentang sejarah singkat dan makna filosofis di balik permainan ini. Mereka menekankan bahwa congklak bukan sekadar sarana hiburan pengisi waktu luang. Permainan warisan leluhur Nusantara ini menyimpan simulasi pembentukan karakter yang sangat kaya untuk anak-anak.
“Kami ingin anak-anak di sini tetap terhubung dengan akar budaya Indonesia meskipun mereka tinggal di luar negeri. Congklak adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk memperkenalkan budaya kita kepada generasi muda,” ujar Dhini Hilyati, Jumat (12/6/2026).
Belajar Kejujuran Lewat Permainan Tradisional Congklak
Suasana ruang kelas langsung berubah riuh saat anak-anak mulai memutar biji congklak. Mereka saling beradu strategi dalam kelompok-kelompok kecil. Melalui interaksi aktif tersebut, para mahasiswa menyelipkan pesan moral tentang sportivitas, kesabaran, dan kejujuran.
Pendekatan interaktif ini terbukti jauh lebih efektif daripada metode ceramah satu arah. Anak-anak diaspora tersebut tidak hanya menghafal aturan main secara mekanis. Mereka justru aktif berdiskusi dan menggali lebih dalam tentang asal-usul permainan masa kecil orang tua mereka.
“Anak-anak sangat antusias and cepat belajar. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga bertanya tentang dari mana permainan ini berasal dan kenapa kita perlu menjaganya. Itu yang membuat kami senang dan bangga,” ungkap Asrofi Noor Masithoh.
Penyelamat Identitas Anak Pekerja Migran Indonesia
Respons positif juga datang dari pihak pengelola Sanggar Bimbingan Kelana Jaya. Lembaga non-formal ini memang menjadi mitra strategis bagi program KKN Internasional UMS di Malaysia. Sanggar tersebut berfungsi sebagai jembatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia agar tidak putus sekolah.
Pihak sanggar menilai kegiatan semacam ini mampu mengisi celah kebutuhan emosional anak-anak terhadap tanah airnya. Pengenalan budaya lewat media visual dan kinetik seperti ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi ingatan masa kecil mereka.
“Saya melihat anak-anak sangat senang, dan dengan adanya permainan tradisional ini mereka dapat mengetahui dan mengenal budaya Indonesia lewat permainan tradisional yang seru,” kata Syaiba, pengelola Sanggar Bimbingan Kelana Jaya.
Melalui program edukatif yang menyentuh akar rumput ini, delegasi KKN Internasional UMS berhasil menghadirkan kembali sepotong Indonesia di tanah jiran. Langkah kecil ini diharapkan mampu memperkokoh identitas kebangsaan para generasi muda diaspora agar tetap bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Kontributor: Maysali
Editor: Alafasy



