AI untuk Kesehatan Ibu Jadi Solusi Preeklamsia, Dosen UMS Buktikan Lewat Riset Global
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Dosen Fakultas Kedokteran UMS, dr. Adam Fauzi Akbar, berhasil menyabet penghargaan Best E-Poster di ISMOAC 2026 berkat studi bibliometriknya yang mengungkap peran krusial AI dalam memetakan serta memprediksi risiko komplikasi pada ibu hamil.
Penggunaan AI untuk kesehatan ibu kini menjadi sorotan utama dalam dunia medis global. Teknologi canggih ini menawarkan harapan besar untuk mendeteksi risiko komplikasi kehamilan secara lebih akurat dan cepat.
dr. Adam Fauzi Akbar, M.Biomed, dosen Fakultas Kedokteran UMS, membuktikan potensi tersebut melalui penelitian mutakhirnya. Ia berhasil memenangkan penghargaan Best E-Poster dalam ajang The 4th Indonesia Scientific Meeting in Obstetric Anesthesia and Critical Care (ISMOAC) 2026 di Surakarta, pada 10-13 Mei 2026.
AI Sebagai Garda Terdepan Deteksi Preeklamsia
Penelitian dr. Adam menyoroti dominasi preeklamsia sebagai penyebab utama kematian ibu di dunia. Mengingat kondisi tekanan darah tinggi ini sangat berbahaya, para dokter membutuhkan sistem pendukung keputusan yang tepat waktu.
“AI banyak membantu kami memprediksi risiko dan luaran kesehatan pada kasus preeklamsia,” ujar dr. Adam. Sistem ini menganalisis variabel kompleks secara presisi, mulai dari usia ibu, usia kehamilan, hingga hasil laboratorium.
Selain itu, data yang diolah oleh AI membantu dokter mengambil keputusan klinis lebih cepat. Dengan demikian, tim medis dapat meminimalkan risiko komplikasi serius bagi ibu dan janin secara signifikan.
Tantangan dan Peluang Riset AI di Indonesia
Meskipun negara maju seperti Amerika Serikat, China, dan Inggris masih mendominasi riset artificial intelligence kesehatan, Indonesia mulai menunjukkan langkah menjanjikan. Buktinya, puluhan publikasi ilmiah karya anak bangsa kini sudah tercatat di basis data global.
dr. Adam menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengejar ketertinggalan teknologi tersebut. Ia menegaskan bahwa riset tidak cukup jika hanya dilakukan oleh akademisi di ruang kelas atau klinisi di rumah sakit saja.
“Ke depan, pengembangan AI tidak bisa dilakukan sendiri oleh akademisi atau klinisi. Kita membutuhkan kolaborasi multisektor antara universitas, industri, pemerintah, dan lembaga pendanaan,” jelas dr. Adam.
Membangun Budaya Klinisi Peneliti
Inovasi teknologi medis terbaru ini menuntut perubahan budaya di kalangan tenaga kesehatan Indonesia. Oleh karena itu, dr. Adam mengajak para klinisi agar lebih aktif terlibat dalam pengumpulan serta pengelolaan data kesehatan yang berkualitas.
Langkah konkret ini menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pengembang teknologi. Melalui ekosistem yang kuat, inovasi kesehatan nasional pasti akan tumbuh signifikan di tahun-tahun mendatang.
“Harapannya, klinisi di Indonesia juga menjadi peneliti. Dengan data yang kuat dan kolaborasi yang baik, Indonesia tidak hanya akan menggunakan AI, tetapi juga mampu menjadi developer teknologi tersebut,” pungkas dr. Adam.
Kontributor: Fika
Editor: Alafasy



