Sering Doomscrolling Medsos? Waspadai Gejala Political Stress yang Mengancam Anak Muda

PWMJATENG.COM, MAGELANG – Fenomena political stress kini mengancam kesehatan mental anak muda akibat paparan berita politik yang intensif dan polarisasi sosial di media sosial. Gejala psikologis yang kerap memicu kelelahan emosional ini mencuat dalam diskusi psikologi sosial yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah dan DIY di Magelang, Sabtu (23/5/2026).
Oleh karena itu, gejala stres politik ini kini semakin nyata mengancam generasi muda. Apalagi, gempuran informasi di media sosial terus memicu kecemasan yang berujung pada kelelahan mental.
Terkait hal tersebut, pembicara sesi materi umum, Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa fenomena ini masuk ke ruang-ruang paling privat masyarakat. Akibatnya, efek buruknya merusak tatanan hubungan antarmanusia secara perlahan.
“Politik tidak hanya hadir dalam kebijakan publik, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari, mulai dari media sosial, grup organisasi, hingga ruang pertemanan. Polarisasi sosial dapat menyebabkan menurunnya empati, renggangnya hubungan interpersonal, serta melemahnya kohesi sosial di masyarakat,” tegas Yayah Khisbiyah dalam pemaparannya.
Kenali Gejala Doomscrolling akibat Stres Politik
Selanjutnya, dinamika politik yang tidak sehat terbukti melahirkan berbagai masalah psikologis baru. Salah satu yang paling sering menyerang anak muda adalah kebiasaan mengonsumsi berita buruk secara terus-menerus.
Mengenai fenomena ini, peserta diskusi mengonfirmasi tingginya tekanan tersebut lewat pemetaan emosi digital. Hasilnya, mereka merasakan kelelahan emosional yang berujung pada perubahan perilaku harian.
Bahkan, para anak muda kini akrab dengan gejala doomscrolling, mudah marah, sulit tidur, hingga agresivitas digital. Oleh sebab itu, Yayah mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak boleh mereka abaikan. Menurutnya, menjaga kesehatan mental merupakan bagian penting dari keberlanjutan perjuangan seorang aktivis.
Membangun Resiliensi Kolektif Demi Kewarasan Sosial
Di sisi lain, menghadapi tekanan digital yang masif, generasi muda membutuhkan benteng pertahanan mental yang kuat. Sebab, kesehatan psikologis menjadi modal utama untuk tetap aktif dalam gerakan sosial.
Oleh karena itu, kader ikatan mahasiswa tersebut menyuarakan berbagai kecemasan mereka dalam sesi dialog interaktif. Di sana, mereka menyoroti kondisi riil pendidikan, ekonomi, dan kesehatan mental di Indonesia saat ini.
Merespons kegelisahan itu, Yayah mendorong generasi muda untuk tetap berpikir kritis, membangun solidaritas, serta aktif mengawal kebijakan secara konstruktif sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui langkah tersebut, anak muda dapat menjaga kewarasan sosial sekaligus tetap berdampak bagi publik luas.
Kontributor : Wasis
Editor: Al-Afasy



