
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Hadirin sidang sholat Idul Adha rahimakumullah
Pada hari yang mulia ini, marilah kita senantiasa memanjatkan takbir, tahlil dan tahmid serta rasa syukur kehadirat Allah swt, rabb semesta alam. Dialah yang telah mencurahkan segala nikmatnya kepada kita sekalian, sehingga di hari raya yang penuh barokah ini kita bisa berkumpul di tempat mulia ini dalam rangka menunaikan satu ibadah yang agung yaitu melaksanakan sholat idul adha berjama’ah.
Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada rasul yang agung dan mulia, panutan kita bersama, yaitu nabi Muhammad saw., keluarganya, sahabat dan orang-orang yang istiqomah dalam menjalankan sunnah-sunnah beliau hingga yaumil qiyamah.
Hadirin sidang sholat Idul Adha rahimakumullah
Berbicara mengenai hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban, maka kita akan ingat satu sosok manusia yang sangat mulia dan agung, yaitu nabiyullah Ibrahim as. Beliau adalah seorang nabi pilihan, bapaknya para nabi, termasuk rasul ulul ‘azmi, bahkan sebagai kholilurrahman, kekasih Allah swt. Makanya pantaslah beliau dijadikan sebagai suri tauladan kita di dalam ketaatan kepada Allah swt. Allah swt berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS. Al-Mumtahanah : 4).
Dalam episode kehidupan nabi Ibrahim as., kita akan dapati, bahwa beliau adalah orang yang sangat totalitas dalam menjalankan ketaatan kepada Allah swt. Hidup dan matinya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Tidak peduli halangan dan rintangan yang menghadang. Beliau hadapi dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap ridho Allah ta’ala. Di antara kisah perjalan hidup beliau yang bisa kita contoh dan ambil hikmahnya adalah:
Pertama: Kegigihan beliau dalam mendakwahkan tauhid
Dalam mendakwahkan tauhid, nabi Ibrahim as. siap dengan segala konsekwensinya. Beliau rela bermusuhan dengan orang yang dihormati dan ditaatinya. Allah gambarkan dalam al-Qur’an surat al-An’am : 74):
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً اِنِّيْ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala- berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. al-Mumtahanah : 4)
Inilah inti dakwah para nabi dan rasul, yaitu menegakkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Mengajak kaumnya hanya menyembah kepada Allah swt semata.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْت
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu. (QS. an-Nahl: 36)
Thaghut adalah setiap yang disembah selain Allah swt.
Kisah dakwah nabi Ibrahim as. dalam mendakwahkan tauhid ini mengalami tantangan yang sangat berat. Dari mulai rajanya, kaumnya sampai orang tuanya sendiri memusuhi beliau. Sampai-sampai beliau mendapatkan hukuman yang sangat berat, yaitu dibakar dengan api yang sangat panas di depan kaumnya sendiri. Akan tetapi, Allah swt. melindungnya. Dialah satu-satunya zat yang dapat menyelamatkan nabi Ibrahim as dari jilatan api tersebut, sebagaimana firman-Nya:
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰى اِبْرٰهِيْمَ
Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. al-Anbiya: 69).
Nabi Ibrahim as selamat, tanpa dijilat api sedikitpu, akan tetapi tetap saja, kaumnya tidak mau mengimani beliau sebagi utusan Allah swt.
Allaohu akbar 3x wa lillahil hamd. Hadirin jama’ah sholat idul adha yang berbahagia
Kedua: Kisah ketaatan beliau dalam menjalankan syariat khitan, di usianya yang sudah senja.
Rasulullah saw. bersabda:
اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَعْدَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُوْمِ
Nabi Ibrahim as berkhitan pada usia 80 tahun, dengan menggunakan kapak (HR. Bukhari Muslim).
Bisa dibayangkan hadirin, pada masa itu belum ada dokter. Belum ada alat dan obat yang canggih seperti sekarang ini. Yang ada hanyalah sebuah kapak, itupun dilakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan ketika itu beliau berusia 80 tahun. Allahu akbar… akan tetapi, karena ini adalah perintah Allah, maka nabi Ibrahim as melaksanakannya dengan penuh kerelaan.
Ketiga: Kisah ketaatan beliau ketika harus meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang pasir yang sangat gersang dan tandus.
Nabi Ibrahim as, atas perintah Allah swt, membawa anak dan istrinya ke tengah padang pasir yang sangat tandus, kemudian meninggalkannya. Di sana tidak ada orang, dan juga tidak ada sumber air. Setelah meninggalkan orang yang sangat dicintainya, diam-diam Hajar mengikutinya dari belakang dan bertanya:
آللَّهُ الَّذي أَمَرَكَ بهذا؟ قالَ: نَعَمْ، قالَتْ: إذَنْ لا يُضَيِّعُنَا
Apakah perbuatanmu memperlakukan kami seperti ini karena perintah Allah? Ibrahim menjawab, “Iya, ini perintah Allah”. Kemudian Hajar mengatakan, “Kalau memang ini perintah Allah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”.
Jadi, begitu dijawab, ini perintah Allah, Hajar hanya diam, qona’ah dan bertawakkal kepada Allah swt.
Allaohu akbar 3x wa lillahil hamd. Hadirin jama’ah sholat idul adha yang berbahagia
Keempat: Kisah ketaatan beliau dalam menyembelih anak kesayangannya, Ismail as.
Berawal dari sebuah mimpi yang merupakan wahyu dari Allah swt, nabi Ibrahim as. disuruh untuk menyembelih putra tercintanya. Ibrahim berkata,
يٰبُنَيَّ اِنِّيْ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى
“Wahai anakkku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?”
Lagi-lagi beliau diuji, sejauh mana kecintaan dan ketaanya kepada Allah swt. Selama bertahun-tahun menanti sang buah hati, akan tetapi begitu mendapatkannya, Allah menyuruh untuk menyembelihnya. Lalu perintah Allah itu beliau utarakan kepada putra kesayangannya, Ismail as. Lalu dijawablah oleh putranya, sebuah jawaban yang menggetarkan jiwa, terlontar dari seorang anak kecil,
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat : 102)
Maa syaa Allah. Tidakkah kita merinding dengan jawaban ini? Adakah diantara kita memiliki putra yang sholeh seperti Ismail as? Putra yang sangat taat kepada Allah dan berbakti kepada orang tuanya.
Allahu akbar 3x walillahil hamd. Hadirin sidang sholat Idul Adha yang berbahagia.
Inilah beberapa kisah nabi Ibrahim as yang pantas untuk kita teladani dan jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Diantara pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik dari kisah-kisah di atas adalah;
Pelajaran 1: Totalitas dalam ketaatan kepada Allah swt.
Allah swt. berfirman:
اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِه لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman adalah mereka yang ketika ada panggilan Allah dan RasulNya untuk melakukan suatu perintah atau meninggalkan suatu larangan, tidak ada kata lain kecuali sami’na wa atho’na, kami mendengar dan taat, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. an-Nur: 51).
Jadi, bukan sami’naa wa tafakkarnaa kami mendengar dan berpikir dulu. Apakah perintah atau larangan itu menguntungkan kita atau tidak. Kalau menguntungkan kita laksanakan, kalau tidak maka kita ingkari. Atau bahkan ada yang menjawab, sami’naa wa ‘ashoinaa kami mendengar dan kami mengingkarinya. Nabi Ibrahim as. sudah membuktikan ketaatanya kepda Allah swt. secara totalitas.
Pelajaran 2: Pentingnya pendidikan agama bagi keluarga agar menjadi keluarga yang sholeh dan sholehah.
Keluarga, terutama anak dan istri adalah amanah Allah swt. yang dibebankan kepada seorang ayah. Maka wajib bagi seorang ayah berusaha menjadikan anak dan istrinya menjadi sholeh dan sholehah, sebagaimana Hajar dan Ismail as. Allah swt berfirman:
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)
Ali bin Abi Thalib mengatakan, bahwa agar terhindar dari api neraka, maka wajib bagi seorang ayah untuk mengajarkan ilmu agama dan mengajarkan adab kepada keluarganya.
Rasulullah saw. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin (HR. Bukhari Muslim).
Allahu akbar 3x walillahil hamd Hadirin jama’ah sholat idul adha yang berbahagia
Mari kita instropeksi diri kita masing-masing;
-
Sudah seberapa banyakkah kita mengkaji dan memahami al-Qur’an dan sunnah, dimana disitulah kumpulan perintah dan larangan Allah swt.
-
Sudah berapa persenkah ilmu yang sudah kita amalkan?
-
Andil apakah yang sudah kita persembahkan untuk Islam?
-
Sudah totalkah kita dalam berislam? dan
-
Sudah siapkah dengan segala konsekwensi yang akan kita hadapi?
Mari kita sama-sama mengistropeksi diri kita masing- masing. Mudah-mudahan di hari yang berkah ini, Allah swt membukakan hati kita untuk lebih semangat dalam mempelajari islam, kemudian berusaha mengamalkannya dengan penuh totalitas. Dan kita berharap kepada Allah, semoga kita mendapatkan ridho dan surga-Nya. Aamiin.
Allahu akbar 3x walillahil hamd Hadirin jama’ah sholat idul adha yang berbahagia
Untuk menutup khutbah pada kesempatan yang baik ini, mari kita berdoa kepada Allah swt, mudah-mudahan Allah kabulkan hajat-hajat kita. Aamiin.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ.
اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَلَمِيْنَ.
Editor: Al-Afasy



