Wakil Ketua MPR RI Soroti Paradoks Energi dan Krisis Iklim di UMS

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H., menyoroti paradoks energi dan krisis iklim dalam kegiatan MPR RI Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (28 April 2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Seminar Dr. H. Syamsudin, Lantai 8 Gedung Ahmad Syafii Maarif Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS. Dalam forum itu, Eddy menyampaikan materi bertajuk “Dilema Paradoks Energi dan Penanganan Krisis Iklim di Indonesia”.
Paradoks Energi dan Krisis Iklim
Dalam pemaparannya, Eddy menegaskan bahwa krisis iklim merupakan realitas global yang tidak dapat diabaikan. Ia menolak anggapan bahwa krisis iklim hanya isu yang dilebih-lebihkan.
“Dampak krisis iklim bersifat disruptif dan setara dengan disrupsi akibat pandemi, perkembangan kecerdasan buatan, serta dinamika geopolitik global,” ujar Eddy.
Ia menjelaskan, suhu global telah meningkat lebih dari 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Menurutnya, sejumlah fenomena di dalam negeri menjadi indikator nyata degradasi ekologis. Di antaranya suhu ekstrem, polusi udara, deforestasi, serta bencana alam seperti banjir dan longsor.
“Di dalam negeri, fenomena seperti suhu ekstrem, polusi udara, deforestasi, serta bencana alam seperti banjir dan longsor menjadi indikator nyata degradasi ekologis,” ungkapnya.
Soroti Sampah dan Energi Terbarukan
Selain krisis iklim, Eddy juga menyoroti persoalan sampah di Indonesia. Ia menyebut produksi sampah nasional mencapai 52 juta ton per tahun dan sebagian besar belum terkelola secara optimal.
Sebagai salah satu solusi, pemerintah mendorong kebijakan waste to energy, yaitu pengolahan sampah menjadi energi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan sumber energi alternatif.
“Sebagai solusi, pemerintah mendorong implementasi kebijakan waste to energy melalui Perpres 109 Tahun 2025 untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi,” tegasnya.
Eddy juga menyoroti tantangan transisi energi yang belum berjalan teratur. Menurutnya, penggunaan energi terbarukan mulai meningkat, tetapi ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi.
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar energi terbarukan. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dibandingkan kapasitas yang tersedia.
Indonesia Kaya Energi tetapi Masih Impor
Dalam kesempatan itu, Eddy mengungkap adanya paradoks energi di Indonesia. Di satu sisi, Indonesia memiliki sumber daya energi yang melimpah. Namun di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor untuk kebutuhan energi tertentu.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dijawab dengan kebijakan yang terarah dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya regulasi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Langkah tersebut diperlukan untuk membangun sistem energi yang berkelanjutan, berketahanan nasional, dan mampu menjawab tantangan perubahan iklim.
Mahasiswa UMS Dapat Wawasan Baru
Salah satu peserta, Aditya Dwi Cahyo, mengaku mendapatkan pemahaman baru dari materi yang disampaikan. Mahasiswa Program Studi Akuntansi angkatan 2024 itu menilai transisi energi menjadi kebutuhan mendesak.
“Pemaparannya membuka pemahaman bahwa transisi energi sekarang sangat perlu dilakukan, mengingat kondisi iklim dunia yang berubah drastis dan peningkatan suhu di beberapa tempat di Indonesia yang sangat ekstrem,” ujarnya.
Aditya juga menyoroti dilema Indonesia sebagai produsen batu bara sekaligus negara yang berkomitmen menuju energi bersih. Ia mengaku khawatir terhadap dampak ekonomi apabila permintaan batu bara menurun akibat transisi energi global.
Menanggapi hal tersebut, Eddy menjelaskan bahwa transisi energi tetap dapat dilakukan secara seimbang melalui langkah strategis. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan batu bara di dalam negeri secara bertahap.
Aditya menilai isu tersebut menjadi keresahan karena adanya kontradiksi antara kebijakan energi bersih dan eksploitasi sumber daya yang masih berlangsung. Ia juga menyinggung kondisi lingkungan di Kalimantan yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat aktivitas pertambangan.
Dorong Regulasi Energi Bersih
Menurut Aditya, kegiatan MPR RI Goes to Campus memberi kesan positif dan membuka wawasan mahasiswa tentang kondisi iklim saat ini.
“Menarik dan membuka mata mahasiswa tentang kondisi iklim sekarang ini,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah, khususnya MPR RI, dapat mendorong lahirnya regulasi yang mendukung percepatan penggunaan energi bersih di Indonesia.
Melalui kegiatan MPR RI Goes to Campus bertema “Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim”, mahasiswa diharapkan semakin sadar terhadap isu lingkungan. Generasi muda juga diharapkan ikut berperan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy



