Cendekiawan Berpribadi: Bukan Sekadar Pintar, Ini Identitas Khas IMM

Di tengah banyaknya organisasi mahasiswa yang tumbuh dan berkembang, selalu ada pertanyaan menarik: apa sebenarnya yang membuat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berbeda dari organisasi mahasiswa lainnya?
Pertanyaan itu pernah muncul dalam obrolan santai saya dengan seorang teman karib dari pondok, Fauzan Syifaurahman. Kini ia telah menjadi kader IMM. Dari percakapan tersebut, saya sampai pada satu jawaban sederhana namun mendasar. Jawaban itu tertulis jelas dalam mars IMM: “Kitalah cendekiawan berpribadi.”
Frasa ini bukan sekadar slogan. Ia juga bukan klaim simbolistik tanpa makna. Kalimat tersebut adalah identitas khas, bahkan bisa disebut sebagai trademark yang membedakan IMM dari gerakan mahasiswa lainnya.
Cendekiawan Itu Apa?
Secara sederhana, cendekiawan dapat dipahami sebagai sosok yang tercerahkan, cerdas, dan memiliki wawasan luas. Namun IMM tidak berhenti pada pengertian itu saja. Ada satu kata tambahan yang membuat maknanya jauh lebih dalam, yaitu berpribadi.
Dalam tujuan IMM tertulis jelas bahwa organisasi ini berikhtiar mewujudkan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia. Maka, cendekiawan berpribadi sejatinya merupakan perpaduan antara kecerdasan intelektual, akhlak yang mulia, dan ketakwaan kepada Tuhan. Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan.
Seorang kader IMM tidak boleh hanya pintar tetapi lemah dalam akhlak. Sebaliknya, ia juga tidak cukup hanya rajin beribadah tetapi tumpul secara intelektual. Di sinilah letak pembeda IMM dibanding organisasi mahasiswa lainnya. Identitas ini harus terus dirawat dan dihidupkan dalam setiap gerak kader.
Dua Makna Akademisi dalam IMM
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, kerap berpesan agar IMM senantiasa menghidupkan spirit Ulul Albab dan ar-rasikhuna fil ‘ilm, yakni kedalaman pengetahuan. Bahkan, menurut beliau, IMM memiliki tanggung jawab besar jika suatu saat Muhammadiyah dianggap kurang tajdid atau kurang pembaruan.
Mengapa IMM? Karena posisinya sangat strategis. IMM berada di puncak hierarki pendidikan Muhammadiyah, yaitu di lingkungan perguruan tinggi. Perguruan tinggi adalah ruang lahirnya masyarakat intelektual dan ilmiah. Maka wajar jika IMM diharapkan menjadi dapur ideologis yang melahirkan intelektual-intelektual berkemajuan.
Dalam konteks ini, akademisi dalam pengertian IMM setidaknya memiliki dua wajah.
Pertama, secara formal. Seorang kader harus serius menjalani studi akademiknya. IPK memang bukan segalanya, tetapi kedisiplinan dalam belajar adalah bentuk tanggung jawab paling dasar.
Kedua, secara holistik. Seorang kader dituntut memiliki kecakapan intelektual yang kuat dan mampu merawat tradisi keilmuan. Bukan sekadar memperoleh nilai bagus di atas kertas, tetapi juga memiliki cara berpikir yang ilmiah, kritis, dan reflektif. Ia harus mampu membaca realitas, lalu meresponsnya dengan ilmu.
IMM tidak boleh loyo dalam kerja-kerja intelektual. Sebab, ketika semangat intelektual melemah, saat itulah IMM berisiko kehilangan jati dirinya sendiri.
Melawan Pengkhianatan Kaum Intelektual
Filsuf Prancis, Julian Benda, pernah memperkenalkan istilah La Trahison des Clercs atau pengkhianatan kaum intelektual. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika orang-orang pintar justru memilih diam, membela kekuasaan, atau menggunakan ilmunya untuk kepentingan pribadi.
Dalam konteks inilah, cendekiawan berpribadi hadir sebagai antitesis dari pengkhianatan tersebut.
Pemikir asal Italia, Antonio Gramsci, menyebut sosok semacam ini sebagai intelektual organik. Yaitu kelompok yang menggunakan ilmunya untuk melakukan pencerahan dan menjadi pemecah masalah sosial di tengah masyarakat. Mereka tidak duduk nyaman di menara gading. Mereka turun ke lapangan, bergerak, dan ikut menyelesaikan persoalan di sekitarnya.
Itulah figur kader yang diidamkan oleh IMM: cendekiawan yang ilmunya membumi, bukan mengawang-awang.
Tiga Nalar Kunci Cendekiawan Berpribadi
Jika meminjam kerangka berpikir Prof. Amin Abdullah tentang nalar yang berkemajuan, ada tiga karakter utama yang perlu dimiliki seorang cendekiawan berpribadi.
Pertama, nalar teologis. Ini adalah bangunan spiritualitas yang kokoh dan fondasi kepribadian yang prinsipil. Seorang kader tidak boleh menjadi sombong karena kepintarannya. Justru semakin berilmu, semakin besar rasa takutnya kepada Tuhan.
Kedua, nalar filosofis-keilmuan. Ini berkaitan dengan visi keilmuan yang tajam, semangat belajar yang tinggi, dan orientasi pada pembangunan masyarakat ilmu. Seorang kader tidak boleh sekadar mengejar gelar atau nilai, tetapi juga harus menumbuhkan budaya berpikir dan berkarya ilmiah.
Ketiga, nalar etis. Seorang kader harus menjunjung tinggi prinsip moral dan etika dalam setiap tindakan. Tidak menghalalkan segala cara, tidak korupsi, tidak manipulatif, tidak arogan, dan tetap rendah hati meskipun ilmunya tinggi.
Tiga nalar ini tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Semuanya harus benar-benar hidup dalam praktik keseharian setiap kader IMM.
Ukuran Kualitas Sebuah Gerakan
Dalam obrolan saya dengan Fauzan, ia juga menyampaikan satu hal menarik: kualitas sebuah gerakan dapat diukur setidaknya dari dua hal, yaitu proses dan output.
Dari sisi proses, pertanyaannya adalah: apakah setiap kegiatan, agenda, dan program dijalankan dengan sungguh-sungguh, atau hanya sebatas formalitas? Sebab proses yang instan biasanya hanya akan melahirkan gerakan yang rapuh.
Dari sisi output, pertanyaannya adalah: apakah program-program yang dijalankan benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat, atau hanya berhenti pada seremonial? Ramai saat hari pelaksanaan, lalu hilang tanpa jejak setelahnya.
Namun yang paling penting, menurut Fauzan, justru terletak pada output pasca-IMM. Alumni akan melangkah ke mana? Akan menjadi apa setelah selesai berkhidmat? Dari sanalah kualitas gerakan sesungguhnya dapat diuji.
Cendekiawan berpribadi tidak berhenti setelah lulus dari organisasi. Justru setelah itulah peran sebenarnya dimulai. Mereka harus hadir menjadi pemimpin, menjadi solusi, dan menjadi cahaya di tengah umat dan bangsa.
IMM Adalah Harapan
Zaman terus berubah dengan cepat. Tantangan pun semakin kompleks. IMM tidak boleh hanya sibuk bernostalgia pada masa lalu. IMM harus hadir sebagai secercah harapan, membawa hal-hal baru, dan bergerak dengan inovasi.
Semua itu bermula dari satu kesadaran penting: bahwa setiap kader IMM adalah cendekiawan berpribadi. Bukan sekadar pintar, tetapi pintar yang memiliki pribadi, moral, Tuhan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Itulah identitas khas IMM. Bukan hanya identitas yang diucapkan dalam mars, tetapi identitas yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ilyas Fachriansyah



