Kolom

Ramadhan di Ujung Jari: Antara Kesalehan Digital dan Keterasingan Jiwa

Oleh: Firman Santoso, M.Pd. (Kepala MI Muhammadiyah Danurejo)

Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang sarat makna: jeda untuk refleksi, pengendalian diri, dan penguatan relasi sosial. Namun, dalam dua dekade terakhir, “wajah” Ramadhan mengalami pergeseran drastis. Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi mulai menggeser pola ibadah hingga cara kita mendidik anak di bulan suci.

Hakikat puasa adalah Taqwa, yakni kemampuan mengendalikan diri (QS. Al-Baqarah: 183). Namun, realitas hari ini menunjukkan sebuah anomali. Di saat kita menahan lapar dan dahaga, kita justru sering kali “tumbang” di hadapan layar ponsel.

Fenomena problematic smartphone use—penggunaan gawai yang kompulsif—telah mereduksi waktu tadarus dan diskusi hangat keluarga menjadi sekadar scrolling tanpa henti. Jika Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa Allah tidak butuh puasa orang yang tidak meninggalkan perbuatan buruk, maka distraksi digital yang melalaikan sudah sepatutnya masuk dalam daftar refleksi pengendalian diri kita.

Sebagai pendidik, saya melihat tantangan besar pada generasi anak saat ini. Secara neuropsikologis, aplikasi digital dirancang dengan sistem reward loop yang memicu pelepasan dopamin, hormon kesenangan yang memicu ketagihan.

Waktu emas pasca-Tarawih yang dulu diisi dengan interaksi sosial, kini tergantikan oleh gim daring. Islam mengajarkan Wasathiyah (keseimbangan) dan melarang sikap berlebihan (QS. Al-An’am: 141). Maka, pendidikan Ramadhan hari ini harus adaptif: bukan melarang teknologi secara total, melainkan membimbing anak untuk berani melakukan “Puasa Digital” sebagai bentuk latihan ketaatan.

Pergeseran juga merambah ranah muamalah. Pasar tradisional yang dulu penuh sesak menjelang berbuka, kini mulai sepi karena berpindah ke platform e-commerce. Memang, teknologi menawarkan efisiensi, namun ia juga mendorong konsumsi impulsif akibat algoritma promosi.

Islam memandang konsumsi bukan sekadar kemampuan membeli, melainkan tanggung jawab moral. Kehilangan interaksi tawar-menawar di pasar fisik bukan sekadar soal transaksi, tapi soal hilangnya satu simpul perekat sosial di lingkungan kita.

Transformasi digital belum mencapai puncaknya. Kecerdasan Buatan (AI) hingga ekosistem digital yang kian personal akan terus membayangi hidup kita. Pertanyaannya, apakah Ramadhan akan tetap menjadi bulan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), atau sekadar menjadi bulan “Konten dan Diskon”?

Digitalisasi adalah keniscayaan, namun ruh Ramadhan adalah sebuah pilihan. Jawabannya ada pada bagaimana kita—sebagai orang tua dan pendidik—menuntun generasi hari ini untuk tetap memegang kendali atas gawai mereka, bukan sebaliknya. Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk kembali menghadirkan cahaya Tuhan, bukan sekadar cahaya layar.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/