Strava vs Kesehatan: Pakar Penjas UMS Ingatkan Bahaya FOMO Olahraga Tanpa Persiapan

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Fenomena olahraga viral kini mendominasi linimasa generasi muda. Mulai dari gym, fun run, hingga olahraga paddle, media sosial dipenuhi unggahan tangkapan layar aplikasi lari dan outfit olahraga yang estetik. Namun, di balik keriuhan tren tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah ini murni kesadaran hidup sehat atau sekadar Fear of Missing Out (FOMO)?
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., menilai fenomena ini bak pisau bermata dua yang harus disikapi secara bijak.
Menurut Dr. Eko, media sosial memang efektif menjadi pemantik psikologis untuk mulai bergerak. Namun, motivasi yang hanya didorong oleh tren tanpa persiapan fisik yang matang sangat berisiko.
“Kalau hanya reaktif karena melihat teman unggah Strava 10 kilometer lalu kita langsung ikut tanpa persiapan, itu berbahaya. Tubuh itu seperti galon; kalau kapasitasnya hanya tiga liter tapi dipaksa diisi lima liter, ia akan ‘pecah’ atau overtraining,” tegasnya, Senin (2/3).
Ia menekankan pentingnya adaptasi anatomi. Olahraga harus dilakukan secara bertahap (step-by-step). Otot dan jantung perlu dikenalkan pada beban secara terukur melalui susunan set dan repetisi yang jelas untuk mencapai goal kesehatan jangka panjang.
Dr. Eko tidak menampik bahwa gengsi bisa menjadi pintu masuk positif. Namun, jika motivasi hanya bersifat eksternal demi validasi sosial, semangat akan redup saat tren berganti. Akibatnya, muncul rasa minder atau enggan memulai kembali.
“Indikator positif adalah ketika seseorang merasa ‘bersalah’ jika tidak berolahraga. Itu pertanda olahraga sudah menjadi kebutuhan dan habit, bukan lagi sekadar mengikuti arus di gawai,” ungkap dosen UMS tersebut.
Bagi generasi muda dengan aktivitas padat, Dr. Eko menyarankan untuk tidak mempersulit jenis olahraga. Kunci utama bukanlah intensitas yang meledak di awal, melainkan konsistensi.
- Mulai dari yang Mudah: Jalan kaki keliling komplek, push-up, atau peregangan bangun tidur sudah sangat berarti.
- Cari Komunitas: Bergabung dengan komunitas sesuai minat dapat menjaga semangat dan menghadirkan suasana menyenangkan.
- Rutin Lebih Baik dari Berat: Olahraga ringan tapi rutin jauh lebih menjaga metabolisme tubuh dibandingkan olahraga berat yang hanya dilakukan sekali seminggu.
Sebagai penutup, ia menyebut olahraga sebagai “obat alami” paling murah. “Cari tahu manfaat dan risikonya, lalu sesuaikan dengan kapasitas diri. Jika sudah menjadi kebutuhan, maka olahraga akan menjadi habit yang tidak terputus untuk investasi masa tua,” pungkasnya.
Kontributor: Fika | Humas
Editor: Al-Afasy



