Ramadhan: Antara Cermin Takwa atau Etalase Citra?

Oleh: Nashrul Mu’minin
Ramadhan seharusnya menjadi jeda. Ruang di mana ego ditundukkan dan niat dibersihkan. Namun, kita justru menyaksikan panggung politik yang semakin bising dengan simbol-masjid yang berubah menjadi etalase citra, bukan lagi cermin takwa.
Fenomena ini bukan sekadar kampanye terselubung, melainkan gejala krisis akhlak. Agama yang semestinya menjadi sumber nilai justru direduksi menjadi alat legitimasi kekuasaan. Masjid menjadi panggung retorika, mimbar menjadi medium propaganda, dan santunan sosial menjadi konten pencitraan.
Eksploitasi agama menciptakan ilusi bahwa siapa pun yang paling sering mengutip ayat adalah yang paling benar. Ketika agama dijadikan tameng, kritik dianggap penghinaan terhadap iman. Di sinilah demokrasi terancam oleh sentimen sakral yang disalahgunakan.
Publik sering kali terpesona oleh simbol, bukan substansi. Kita mudah terharu melihat santunan massal, tetapi jarang menelusuri rekam jejak kebijakan. Politik tanpa akhlak tumbuh subur karena ada pasar yang menyukainya; emosi sering kali lebih laku daripada rasionalitas.
Ramadhan mengingatkan bahwa ada pengadilan yang lebih tinggi dari bilik suara—pengadilan nurani dan pengadilan Ilahi. Kursi kekuasaan mungkin bisa diraih dengan manipulasi narasi, namun legitimasi moral tak bisa dibeli dengan citra kesalehan musiman.
Editor: Al-Afasy



