Sentil Jamaah Doro, Dr. Gigih Setianto: Jangan Sampai Puasa Kita Hanya ‘Wong-wongan Sawah’

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Doro menggelar kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) dan kajian menjelang berbuka di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Simbang. Dalam kesempatan tersebut, pembicara utama Ustadz Dr. Gigih Setianto, M.Pd.I., memberikan peringatan keras agar jamaah tidak terjebak dalam rutinitas puasa yang hampa.
Mengutip Tafsir Al-Manar karya Syekh Muhammad Rasyid Ridha, Dr. Gigih menekankan bahwa setiap ibadah yang benar wajib memberikan pengaruh nyata pada perbaikan akhlak (akhlakul karimah).
“Ibadah apa pun, termasuk puasa, jika tidak membawa pengaruh dalam kehidupan sehari-hari, maka itu seperti foto atau patung manusia. Tampak seperti manusia, tapi tidak memiliki jiwa,” ujar Dr. Gigih di hadapan jamaah yang memadati lokasi kajian.
Dr. Gigih memberikan ilustrasi unik tentang wong-wongan sawah (orang-orangan sawah). Awalnya, burung-burung takut karena mengira itu manusia sungguhan. Namun, setelah diamati tidak ada pergerakan, burung tersebut justru hinggap dan mengotorinya.
Metafora ini digunakan untuk menyindir orang yang beribadah namun tidak berdampak pada perilakunya. “Jika ibadah tidak membawa pengaruh, setan yang tadinya takut justru akan senang dan menjadikannya teman. Jangan sampai puasa kita hanya menjadi pajangan tanpa makna,” tegasnya.
Ia mengingatkan kembali tujuan utama puasa sesuai Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni meraih derajat takwa. Takwa bukan sekadar konsep, melainkan upaya memelihara diri dari kemurkaan Allah dan segala hal yang memudaratkan sesama.
Berdasarkan hadis Nabi, Dr. Gigih menyebut ada dua kemungkinan hasil puasa: Gagal (hanya mendapat lapar dan haus) atau Berhasil (mendapat ampunan/magfirah atas dasar iman dan rida).
Acara ini juga menjadi momentum perkenalan enam santri dari Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta yang sedang melaksanakan program Mubaligh Hijrah di wilayah PCM Doro. Selama 20 hari, para santri akan mengabdi di berbagai masjid dan musala di Desa Kalimojosari untuk memberikan pencerahan agama.
Dr. Gigih mengajak jamaah untuk mendukung penuh program ini agar terjadi transfer ilmu dan pengalaman dakwah yang bermanfaat bagi warga maupun para santri.
Kajian ditutup dengan doa bersama sesaat sebelum waktu berbuka, membawa harapan agar Ramadan tahun ini melahirkan perubahan nyata dalam kualitas spiritualitas warga Doro.
Editor: Al-Afasy



