Ramadan Adalah Momentum Mengasah Takwa Sosial

PWMJATENG.COM, SOLO — Puasa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah untuk meningkatkan ketakwaan sosial. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dalam khotbah Jumat di Masjid Asy-Syi’ar komplek RRI Solo, Jumat (20/2).
Dalam khotbahnya, Jatmiko menekankan bahwa esensi takwa yang sesungguhnya mencakup kepedulian terhadap agama, sistem, manusia, hingga lingkungan sekitar.
Ustaz Jatmiko menjelaskan keistimewaan sedekah di bulan Ramadan yang pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT. “Sedekah adalah amalan sederhana dengan keutamaan luar biasa. Mari kita lebih peduli kepada kaum papa nan nestapa; fakir miskin, anak jalanan, hingga para janda dan duda prasejahtera,” ajaknya.
Merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 261, ia menguraikan perumpamaan sedekah bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, di mana setiap bulir berisi seratus biji.
“Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai tingkat keimanan dan keikhlasan hati,” urai Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo tersebut.
Lebih lanjut, anggota MPKSDI PDM Kota Solo ini mengingatkan jamaah mengenai janji Rasulullah ﷺ tentang pahala memberi buka puasa (ifthar). “Barang siapa memberi buka orang yang puasa, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun,” tuturnya sambil tersenyum.
Di akhir khotbahnya, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum transformasi diri. Dengan pintu surga yang dibuka dan setan yang dibelenggu, tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak meningkatkan frekuensi zakat, infak, dan sedekah.
Ketakwaan sosial yang kuat akan menciptakan harmoni dalam masyarakat, di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan sesamanya.
Kontributor: Dwi Jatmiko | Humas
Editor: Al-Afasy



