UMS Ajak Umat Istikamah Ibadah setelah Ramadan

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengajak umat Islam menjaga istikamah ibadah setelah Ramadan agar semangat spiritual yang tumbuh selama bulan suci tidak berhenti begitu saja saat Ramadan berakhir.
Kasi Baitul Arqam Mahasiswa Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS, Suwinarno, M.P.I., mengatakan Ramadan merupakan momentum penting untuk evaluasi diri dan memperbaiki kualitas ibadah.
Menurutnya, manusia kerap membutuhkan momen tertentu untuk kembali menyadari jati diri dan tujuan hidup. Ramadan, kata dia, menjadi salah satu waktu yang mengingatkan manusia akan hakikat penciptaannya.
“Ramadan itu momentum untuk evaluasi diri, introspeksi diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena manusia kadang butuh momentum untuk kembali pada kesadaran hakikinya,” ujarnya, Kamis (19/3).
Suwinarno menjelaskan, dalam kehidupan seorang muslim sebenarnya terdapat banyak momentum spiritual yang berfungsi mengingatkan manusia kepada Allah, seperti salat lima waktu setiap hari dan salat Jumat setiap pekan. Namun, Ramadan memiliki kekuatan spiritual yang lebih besar karena hadir sebagai momentum tahunan untuk memperbarui kesadaran beribadah.
Ia menegaskan bahwa keberadaan Allah tidak hanya dirasakan pada bulan Ramadan, tetapi sepanjang waktu. Karena itu, semangat ibadah yang tumbuh selama Ramadan seharusnya tetap dijaga pada bulan-bulan berikutnya.
Menurut Suwinarno, bulan Syawal juga memiliki makna sebagai bulan peningkatan. Setelah menjalani pendidikan spiritual selama Ramadan, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupan rohaninya.
“Ramadan itu seperti madrasah rohani. Di situ kita dilatih untuk tertib salat, rajin tadarus, bangun malam untuk salat tahajud, serta gemar bersedekah. Itulah sebenarnya jati diri seorang mukmin yang kadang kita lupakan di bulan-bulan lain,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut keberhasilan ibadah Ramadan dapat dilihat dari perubahan perilaku setelahnya, terutama dalam aspek akhlak dan hubungan sosial dengan sesama. Menurutnya, dimensi spiritual dalam Islam selalu berkaitan erat dengan dimensi sosial.
“Orang yang beriman itu terlihat dari akhlaknya. Menghormati tetangga, memuliakan tamu, dan menjaga lisan. Kalau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam,” ungkapnya.
Suwinarno menambahkan, istikamah ibadah setelah Ramadan menjadi salah satu tanda bahwa seseorang benar-benar memperoleh hikmah dan rahmat dari bulan suci. Beberapa amalan yang perlu dijaga antara lain salat wajib berjamaah, salat sunah, tadarus Al-Qur’an, salat malam, dan kebiasaan bersedekah. Di samping itu, akhlak yang baik tetap menjadi fondasi utama kehidupan seorang muslim.
Bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan UMS, ia menyarankan agar konsistensi ibadah dibangun melalui sistem yang mendukung. Integrasi nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam aktivitas akademik menjadi salah satu cara menjaga kebiasaan spiritual tersebut.
“Kalau mahasiswa harus ada sistem yang membantu. Misalnya sebelum kuliah membaca Al-Qur’an, ketika waktu salat berhenti sejenak untuk salat. Itu bagian dari upaya menjaga konsistensi ibadah,” pungkasnya.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy



