Kurangi Stres Difabel Boyolali, Mahasiswa UMS Kenalkan Terapi Hortikultura Lewat Vermikompos
PWMJATENG.COM, BOYOLALI — Sebanyak 20 penyandang disabilitas di Desa Demangan, Boyolali, Jawa Tengah, mulai mempelajari metode terapi hortikultura berbasis vermikompos pada Jumat (12/6/2026). Program stimulasi psikologis ini sengaja dihadirkan oleh Tim PKM-PM HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) guna membantu menurunkan kadar stres sekaligus melatih kemampuan motorik halus para peserta.
Pelatihan teori ini menjadi fondasi penting sebelum 20 warga difabel memulai aksi lapangan. Para mahasiswa mengenalkan metode pembuatan pupuk organik yang memanfaatkan cacing tanah seperti Eisenia fetida atau Lumbricus rubellus. Melalui interaksi aktif dengan media alam tersebut, para peserta menjalani terapi psikologis yang terukur secara ilmiah.
Aktivitas menyentuh tanah dan merawat makhluk hidup terbukti mampu menurunkan kadar stres secara signifikan. Selain itu, interaksi ini efektif melatih kemampuan motorik halus sekaligus memberikan rasa pencapaian (sense of achievement) yang memperkuat stabilitas emosional mereka.
Terapi Praktis Berbasis Vermikompos
Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa pemahaman teori secara berkala sangat krusial bagi mitra mereka. Komunitas Disabilitas Karya Manunggal membutuhkan pendekatan yang bertahap agar esensi pengobatan alamiah ini terserap sempurna.
“Kami mengenalkan media vermikompos bukan sekadar sebagai materi lingkungan, melainkan sebagai instrumen terapi yang ramah dan mudah dipahami,” ujar Abqory Anis Subekti.
Abqory menambahkan, timnya ingin memastikan para peserta memahami seluruh variabel teknis dengan matang. Mereka belajar tentang jenis pakan cacing, kelembapan media, hingga cara menjaga suhu sarang sebelum melakukan praktik langsung.
Metode Edukasi Inklusif dan Adaptif
Tim mahasiswa UMS menerapkan metode penyampaian materi yang sangat adaptif di Sanggar Komunitas Karya Manunggal. Langkah ini mengantisipasi variasi tingkat kefokusan para peserta yang memiliki disabilitas mental maupun fisik. Untuk menjaga kenyamanan psikologis peserta, mahasiswa menyisipkan sesi ice breaking yang interaktif di sela-sela pemaparan materi.
Permainan konsentrasi ringan dan senam motorik sederhana terbukti ampuh mencairkan suasana. Kehangatan ini mengembalikan fokus sekaligus mempererat hubungan emosional yang inklusif antara mahasiswa dan warga difabel. Para peserta pun aktif mengajukan pertanyaan seputar cara merawat cacing tanah dan pemanfaatannya untuk tanaman sekitar sanggar.
Pendekatan Bertahap Minim Beban Psikologis
Dosen pembimbing program, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi tim di lapangan. Menurutnya, kombinasi antara teori mendalam dan metode rekreatif merupakan langkah taktis yang sangat tepat.
“Pendekatan bertahap yang mengombinasikan teori mendalam dan metode rekreatif merupakan strategi ilmiah yang tepat untuk mengoptimalkan penerimaan materi tanpa memberikan beban psikologis yang berat bagi peserta,” ujar Siti Azizah Susilawati.
Setelah merampungkan sesi teori ini, tim HealSpace UMS segera melangkah ke agenda berikutnya. Mereka akan mendampingi peserta melakukan praktik langsung berupa penyiapan wadah, pencampuran media tumbuh, dan pelepasan cacing tanah di rumah salah satu orang tua penyandang disabilitas.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



