Farmasi UMS Edukasi Warga Boyolali Olah Tanaman Obat Keluarga untuk Kesehatan

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tim Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Universitas Duta Bangsa (UDB) Surakarta menggelar Program Penguatan Kapasitas Kemahasiswaan (PKKM) 2026. Oleh karena itu, akademisi mendatangi Desa Potronayan di Boyolali untuk memberdayakan warga. Kegiatan ini berfokus pada edukasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA).
Selain itu, tim pengabdi mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan PKK setempat secara intensif. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa. Melalui program tersebut, para ahli mengajarkan pengolahan herba alami demi menjaga imunitas warga secara mandiri.
Tanam Herbal Mandiri di Boyolali
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mempelajari beragam jenis serta manfaat TOGA bagi tubuh. Bahkan, tim dosen dan mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi teori di dalam ruangan. Selanjutnya, mereka membimbing warga mempraktikkan cara menanam TOGA secara langsung di pekarangan rumah.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, Dr. Haryoto, M.Sc., menekankan pentingnya pekarangan hijau produktif di pemukiman. Sebab, keberadaan kebun herbal mini di setiap rumah tangga sanggup menjadi benteng utama pencegahan penyakit ringan.
“Oleh sebab itu, tanaman obat keluarga ini sangat penting dan bermanfaat bagi kesehatan keluarga serta lingkungan sekitarnya,” ujar Haryoto, Sabtu (25/7/2026).
Kolaborasi Akademisi Wujudkan Kesehatan Keluarga
Di sisi lain, kegiatan yang berlangsung pada 7 Juli 2026 ini memperoleh dukungan penuh dari pemerintah. Sebab, program ini mendulang pendanaan skema PKMM dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Hasilnya, warga Desa Potronayan menyambut acara ini dengan antusiasme tinggi melalui diskusi aktif.
Kemudian, Haryoto menambahkan bahwa Farmasi UMS bersama Fakultas Ilmu Kesehatan UDB Surakarta terus berkomitmen menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Sehingga, sinergi lintas kampus ini bisa berfokus pada transfer pengetahuan teknis yang aplikatif.
Pada akhirnya, ia berharap keterlibatan akademisi mampu menciptakan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan di Boyolali.
“Dengan demikian, semoga sinergi ini mendorong masyarakat lebih sehat, mandiri, dan produktif,” pungkas Haryoto.
Kontributor: Maysali
Editor: Alafasy



