Kolom

Ketika Benda Menjadi Bahasa: Shopaholic, Oniomania, dan Filsafat Hasrat

Oleh: Heri Isnaini (Dosen Sastra IKIP Siliwangi)

Barangkali manusia adalah makhluk yang tidak pernah benar-benar selesai dengan keinginannya sendiri. Ia makan bukan hanya untuk kenyang, berpakaian bukan semata-mata untuk menutup tubuh, dan membeli sesuatu tidak selalu karena benda tersebut dibutuhkan. Di balik tindakan yang tampak sederhana itu terdapat lapisan pengalaman yang lebih kompleks: keinginan untuk diakui, kebutuhan untuk merasa cukup, hasrat untuk menjadi seseorang, atau usaha mengisi ruang kosong yang tidak mudah diberi nama.

Sebab itu, ketika seseorang membeli sepatu, pakaian, tas, buku, kosmetik, gawai, atau benda-benda lainnya, pertanyaan tentang fungsi benda tersebut sesungguhnya belum menyentuh persoalan yang paling menarik. Kita dapat bertanya lebih jauh: apa yang sedang dikatakan manusia melalui benda yang dimilikinya?

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada perjumpaan antara konsumsi, bahasa, filsafat, dan sastra. Di wilayah itulah istilah shopaholic dan oniomania dapat dibaca bukan hanya sebagai persoalan membeli barang, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami hubungan manusia dengan hasrat dan benda.

Shopaholic dan Oniomania: Dua Istilah yang Berbeda

Istilah shopaholic telah menjadi bagian dari bahasa populer untuk menyebut seseorang yang sangat gemar berbelanja, menikmati kegiatan mencari barang, mudah tertarik pada promosi, atau menjadikan aktivitas belanja sebagai bagian dari gaya hidup. Akan tetapi, istilah ini tidak dengan sendirinya menunjuk pada gangguan psikologis. Seseorang dapat disebut shopaholic dalam pengertian sosial karena memiliki kecenderungan konsumtif yang tinggi, tetapi masih mampu mengatur pengeluaran dan mengendalikan keputusan belanjanya.

Oniomania berada dalam wilayah yang lebih problematis. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kecenderungan membeli secara kompulsif, yakni ketika dorongan berbelanja sulit dikendalikan dan tetap berlangsung meskipun perilaku tersebut membawa konsekuensi negatif. Dalam literatur psikologi, pembahasan mengenai oniomania kerap berdekatan dengan istilah compulsive buying.

Dengan demikian, shopaholic dan oniomania tidak tepat diperlakukan begitu saja sebagai sinonim. Shopaholic lebih merupakan istilah populer yang menggambarkan kedekatan seseorang dengan aktivitas konsumsi, sedangkan oniomania mengarah pada persoalan kehilangan kontrol terhadap perilaku membeli.

Perbedaan tersebut menjadi penting sebab kegemaran berbelanja tidak serta-merta dapat dianggap sebagai gangguan. Seseorang mungkin memiliki banyak sepatu, pakaian, buku, atau barang koleksi tanpa mengalami persoalan berarti.

Sebaliknya, seseorang yang terus membeli meskipun mengalami tekanan finansial, menyembunyikan transaksi, menyesal setelah berbelanja, tetapi kembali melakukan pembelian untuk memperoleh rasa lega atau kesenangan, menunjukkan persoalan yang berbeda. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar jumlah barang yang dimiliki, melainkan relasi psikologis seseorang dengan tindakan membeli.

Hasrat di Balik Tindakan Membeli

Pada titik inilah filsafat membantu kita memasuki persoalan yang lebih dalam, terutama mengenai hasrat. Kebutuhan memiliki batas yang relatif jelas: lapar membutuhkan makanan, haus membutuhkan minuman, tubuh membutuhkan pakaian, dan manusia membutuhkan tempat tinggal. Hasrat bekerja dengan cara yang lebih rumit sebab ia tidak selalu berhenti ketika kebutuhan telah terpenuhi.

Seseorang yang telah memiliki sepuluh pasang sepatu tetap dapat menginginkan pasangan kesebelas. Seseorang yang memiliki lemari penuh pakaian masih dapat merasakan bahwa ada pakaian lain yang “harus” dimiliki. Benda yang baru dibeli memberikan kepuasan, tetapi kepuasan tersebut dapat segera kehilangan daya sehingga hasrat bergerak mencari objek berikutnya.

Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak berhubungan dengan benda hanya melalui fungsi. Benda juga hadir sebagai tanda (sign).

Jean Baudrillard menunjukkan bahwa dalam masyarakat konsumsi, barang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga nilai tanda. Merek, desain, harga, model, dan berbagai atribut benda dapat menjadi bahasa sosial yang mengisyaratkan kelas, selera, gaya hidup, dan identitas.

Sepatu tertentu dapat menandai selera. Pakaian tertentu dapat mengisyaratkan kelas sosial. Buku tertentu dapat membangun citra intelektual, sedangkan gawai tertentu dapat menjadi tanda bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman.

Dengan demikian, konsumsi mempunyai semacam tata bahasa. Manusia membeli benda, tetapi pada saat yang sama ia menyusun kalimat tentang dirinya. Identitas kemudian tidak hanya dibangun melalui apa yang dikatakan seseorang tentang dirinya, tetapi juga melalui apa yang ia kenakan, gunakan, koleksi, dan tampilkan.

Dalam masyarakat konsumsi, benda menjadi bagian dari sintaksis identitas: satu benda berhubungan dengan benda lain, lalu seluruhnya membentuk citra tentang seseorang.

Pemaknaan benda sebagai sign-value memang menjadi bagian penting dari pemikiran awal Baudrillard tentang masyarakat konsumsi, ketika komoditas bukan sekadar digunakan, tetapi juga berfungsi menandai prestise, gaya, identitas, dan posisi sosial.

Ketika Benda Menjadi Bahasa Identitas

Pada wilayah inilah shopaholic dapat dibaca bukan semata sebagai individu yang senang berbelanja, tetapi sebagai figur kebudayaan konsumsi. Ia memperlihatkan manusia yang menjadikan konsumsi sebagai salah satu cara untuk mengartikulasikan diri.

Descartes pernah merumuskan kepastian eksistensial melalui cogito ergo sum, “aku berpikir maka aku ada”. Dalam kebudayaan konsumsi, secara ironis, kita dapat menemukan semacam pembalikan: aku membeli, maka aku tampak ada.

Eksistensi tidak lagi cukup dialami; ia perlu ditampilkan melalui tanda-tanda yang dapat dibaca oleh orang lain.

Persoalan tersebut menjadi semakin menarik ketika dibawa ke dalam sastra. Sastra sejak awal berurusan dengan manusia sebagai makhluk yang dibentuk oleh bahasa. Tokoh tidak hadir dalam ruang kosong. Identitasnya dibangun melalui nama, ucapan, tindakan, lingkungan, pakaian, rumah, makanan, benda-benda yang dimiliki, dan berbagai tanda lain yang menyertainya.

Sebab itu, benda yang melekat pada seorang tokoh sebenarnya dapat dibaca sebagai bagian dari konstruksi karakter. Sebuah rumah mewah, misalnya, tidak hanya menunjukkan tempat tinggal; ia dapat menjadi tanda tentang status, ambisi, atau cara tokoh memandang dirinya sendiri.

Dalam konteks tersebut, tokoh shopaholic menawarkan medan pembacaan yang menarik. Persoalannya bukan hanya berapa banyak barang yang dibeli, melainkan apa yang hendak dikatakan tokoh melalui barang-barang tersebut.

Apakah ia sedang membangun citra diri? Apakah ia sedang mencari pengakuan? Apakah ia sedang melawan rasa rendah diri? Ataukah ia sedang berusaha menjadi seseorang yang belum berhasil ia temukan dalam dirinya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari barang menuju manusia yang berada di balik barang.

Oniomania dan Hasrat yang Terus Bergerak

Oniomania membawa persoalan tersebut lebih jauh sebab benda yang dibeli tidak selalu menjadi tujuan akhir. Dalam perilaku membeli secara kompulsif, tindakan membeli dapat berfungsi sebagai cara memperoleh pengalaman emosional tertentu, seperti kegembiraan, ketegangan, kelegaan, atau pelarian sementara dari kecemasan.

Barang kemudian menjadi medium bagi pemuasan yang sifatnya sesaat. Setelah efek emosional itu menghilang, dorongan membeli dapat muncul kembali dan membentuk siklus yang berulang.

Pemikiran Jacques Lacan tentang hasrat dapat membantu membaca mekanisme tersebut. Hasrat tidak sama dengan kebutuhan sebab ia berhubungan dengan suatu kekurangan yang tidak pernah sepenuhnya tertutup oleh objek tertentu. Manusia dapat memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi perolehan tersebut tidak otomatis mengakhiri hasrat.

Justru setelah objek diperoleh, hasrat dapat menemukan objek baru. Dalam konteks konsumsi, barang yang semula diperlakukan sebagai sesuatu yang akan memberikan kepuasan akhirnya menjadi bagian dari sejarah kepemilikan, sementara hasrat bergerak menuju benda berikutnya.

Pembacaan semacam ini sejalan dengan posisi penting bahasa, relasi dengan yang lain, dan ketidakselesaian hasrat dalam pemikiran Lacan. Hasrat manusia tidak dapat direduksi begitu saja menjadi pemenuhan kebutuhan biologis.

Sebab itu, tindakan membeli secara kompulsif tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika kebutuhan ekonomi. Jika kebutuhan menjadi satu-satunya dasar konsumsi, pembelian semestinya berhenti setelah kebutuhan terpenuhi.

Hasrat tidak bekerja dengan logika tersebut. Ia bergerak melalui imajinasi, simbol, pengakuan, dan kekurangan. Dalam pengertian ini, hasrat memiliki kedekatan tertentu dengan bahasa dan sastra sebab ketiganya tidak selalu bekerja secara literal. Hasrat membutuhkan tanda untuk menyatakan dirinya, sementara sastra menunjukkan bahwa manusia sering kali mengatakan sesuatu melalui sesuatu yang lain.

Metafora merupakan contoh yang paling jelas. Kesepian dapat diejawantahkan melalui hujan, kematian melalui senja, kerinduan melalui jarak, dan ingatan melalui sebuah benda.

Dalam kebudayaan konsumsi, benda pun dapat berfungsi sebagai metafora: tas menjadi tanda status, rumah menjadi simbol keberhasilan, pakaian menjadi representasi identitas, dan buku dapat menjadi penanda citra intelektual. Barang-barang tersebut memperoleh makna bukan semata dari materialitasnya, tetapi dari jaringan tanda yang mengitarinya.

Ketika Konsumen Membeli Narasi tentang Dirinya

Bahasa iklan bekerja dengan sangat sadar terhadap mekanisme tersebut. Iklan jarang hanya menawarkan fungsi benda; ia menjual kemungkinan tentang diri.

Produk kecantikan, misalnya, tidak hanya menawarkan kosmetik, tetapi juga imajinasi tentang kecantikan dan penerimaan sosial. Produk teknologi tidak hanya menawarkan perangkat, tetapi juga citra tentang kemajuan dan keterhubungan. Industri fesyen tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menawarkan identitas yang dapat dikenakan tubuh.

Konsumen akhirnya tidak sekadar membeli barang, tetapi membeli narasi tentang dirinya sendiri.

Dalam perspektif ini, konsumsi dapat dipahami sebagai praktik semiotik. Manusia membaca benda sebagaimana ia membaca bahasa, sementara benda menjadi bagian dari teks sosial yang terus diproduksi. Apa yang dikenakan seseorang, apa yang ia koleksi, tempat ia berbelanja, bahkan merek yang ia pilih dapat menjadi tanda yang ikut menyusun representasi dirinya.

Namun, persoalan menjadi berbeda ketika tanda-tanda tersebut mengambil alih kesadaran. Manusia yang semula menggunakan benda untuk memenuhi kebutuhan dapat berubah menjadi manusia yang membutuhkan benda untuk mempertahankan citra dirinya.

Di sinilah konsumsi mulai memasuki wilayah eksistensial. Pertanyaannya tidak lagi, “Apa yang kubutuhkan?”, tetapi, “Apa yang harus kumiliki agar aku menjadi diriku?”

Pertanyaan semacam ini memperlihatkan ironi masyarakat konsumsi: manusia menciptakan benda, tetapi kemudian benda ikut menciptakan manusia. Ia memilih barang, tetapi pilihan terhadap barang tersebut kemudian memengaruhi cara ia melihat dirinya sendiri. Identitas yang semestinya bersifat dinamis dan reflektif dapat berubah menjadi proyek konsumsi yang tidak pernah selesai.

Dalam konteks sastra, keadaan ini membuka kemungkinan untuk membaca shopaholic dan oniomania sebagai dua bentuk representasi manusia modern. Shopaholic dapat dipahami sebagai figur yang memperlihatkan bagaimana konsumsi menjadi bahasa identitas, sedangkan oniomania memperlihatkan saat ketika bahasa konsumsi itu berubah menjadi dorongan kompulsif yang sulit dikendalikan.

Keduanya berada dalam spektrum yang berdekatan, tetapi memiliki intensitas dan konsekuensi yang berbeda. Yang satu terutama memperlihatkan kedekatan manusia dengan konsumsi, sementara yang lain memperlihatkan retaknya kemampuan manusia mengambil jarak dari tindakan membeli.

Benda, Bahasa, dan Kekurangan yang Belum Selesai

Di antara keduanya terdapat persoalan yang lebih mendasar: manusia selalu mencari sesuatu yang diyakininya dapat melengkapi dirinya. Benda mungkin memberikan kenyamanan, status, keindahan, atau kesenangan, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya menyelesaikan pertanyaan eksistensial tentang siapa diri manusia.

Tidak ada transaksi yang dapat menyelesaikan pertanyaan tersebut sebab persoalan identitas tidak berada di rak toko maupun di keranjang belanja.

Sebab itu, membaca shopaholic dan oniomania melalui filsafat, bahasa, dan sastra berarti membaca konsumsi sebagai gejala kebudayaan sekaligus gejala manusiawi. Kita melihat bagaimana hasrat diproduksi, bagaimana benda berubah menjadi tanda, bagaimana tanda ikut membangun identitas, dan bagaimana identitas kemudian melahirkan hasrat baru.

Semuanya berkelindan dalam sebuah mekanisme yang membuat manusia terus menginginkan sesuatu yang diyakininya akan membuat dirinya lebih lengkap.

Barangkali pertanyaan yang layak diajukan bukan semata apakah seseorang shopaholic atau mengalami perilaku membeli secara kompulsif, melainkan apa yang sesungguhnya sedang dicari ketika ia terus membeli.

Bisa jadi jawabannya bukan benda, melainkan pengakuan; bukan kepemilikan, melainkan identitas; bukan barang baru, melainkan perasaan menjadi seseorang yang baru.

Di situlah sastra mempunyai tugasnya sendiri. Ia tidak perlu menghakimi manusia yang membeli, apalagi buru-buru menyematkan label psikologis. Sastra cukup menelisik manusia yang berada di balik tindakan membeli, membaca tanda-tanda yang tersembunyi di balik benda, dan memperlihatkan bagaimana hasrat bekerja dalam jagat batin manusia.

Sebab benda dapat menjadi bahasa, dan bahasa selalu menyimpan kemungkinan untuk dibaca lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaannya.

Di balik sebuah barang yang dibeli mungkin terdapat sebuah cerita tentang seseorang yang sedang berusaha menemukan dirinya; dan di balik cerita itu, mungkin terdapat sebuah kekurangan yang belum selesai diberi nama.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *