Kolom

Menjaga Kesehatan Mental Generasi Muda: Peran Mahasiswa Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh: Ratriana Kamilatul Rifa

Kesehatan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan manusia. Saat berbicara tentang kesehatan, perhatian sering kali lebih banyak ditujukan pada kesehatan fisik. Padahal, kesehatan mental juga memiliki peranan yang tidak kalah penting.

Seseorang dapat terlihat sehat secara fisik, tetapi belum tentu memiliki kondisi mental yang baik. Tekanan kehidupan, tuntutan pendidikan, permasalahan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga pengaruh media sosial dapat menjadi tantangan yang memengaruhi kesehatan mental generasi muda.

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sebanyak 15,5 juta atau sekitar 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental. Sampel penelitian tersebut berfokus pada kelompok anak usia 10–17 tahun.

Isu kesehatan mental juga berhubungan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Tujuan tersebut menjadi salah satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang perlu didukung berbagai pihak, termasuk mahasiswa.

Menurut saya, untuk membangun Indonesia yang sehat, tidak cukup hanya dengan meningkatkan fasilitas kesehatan atau mencegah penyakit fisik. Perhatian terhadap kesehatan mental juga perlu ditingkatkan. Generasi muda yang sehat secara fisik dan mental akan lebih mampu belajar, berkarya, beradaptasi, serta berkontribusi bagi masyarakat.

Karena itu, mahasiswa memiliki kesempatan untuk ikut mengambil peran dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental.

Tantangan Kesehatan Mental Generasi Muda

Masa remaja hingga awal masa dewasa merupakan periode ketika seseorang mengalami berbagai perubahan dan mulai menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Mahasiswa, misalnya, tidak hanya dituntut mengikuti kegiatan perkuliahan, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, mengatur waktu, menyelesaikan tugas, membangun relasi, dan mulai memikirkan masa depan.

Berbagai tuntutan tersebut terkadang dapat menimbulkan tekanan. Sayangnya, masalah kesehatan mental masih sering dianggap sepele. Seseorang yang sedang mengalami tekanan mungkin justru diminta untuk “bersabar” atau “jangan terlalu memikirkan masalah”.

Padahal, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi suatu permasalahan.

Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan mental juga dapat membuat seseorang merasa takut untuk bercerita. Padahal, memiliki seseorang yang dapat dipercaya sebagai tempat berbagi dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap pembicaraan mengenai kesehatan mental menjadi hal yang penting. Membicarakan kesehatan mental bukan berarti seseorang lemah. Sebaliknya, kesadaran untuk mengenali kondisi diri dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kesehatan Mental

Mahasiswa merupakan bagian dari generasi intelektual yang diharapkan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dalam isu kesehatan mental, mahasiswa dapat memulai perubahan dari lingkungan terdekat.

Salah satunya dengan meningkatkan literasi kesehatan mental. Mahasiswa dapat membuat kegiatan edukasi sederhana melalui organisasi kampus, media sosial, diskusi, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa juga dapat menjadi teman yang lebih peduli. Ketika ada teman yang sedang menghadapi masalah, kita dapat belajar untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau meremehkan perasaannya.

Namun, mahasiswa juga perlu memahami batasannya. Menjadi teman yang mendukung bukan berarti kita dapat menggantikan peran tenaga profesional. Jika seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut, kita dapat mendorongnya untuk mencari bantuan dari pihak yang tepat.

Memanfaatkan Media Sosial dan Lingkungan Kampus

Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi yang benar mengenai kesehatan mental. Konten sederhana seperti cara mengelola stres, pentingnya beristirahat, membangun kebiasaan hidup sehat, hingga mengenali kapan seseorang membutuhkan bantuan dapat menjadi langkah kecil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Selain itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan mahasiswa adalah memanfaatkan keberadaan UKM PIKMA Sahabat yang berfokus pada konseling mahasiswa dan kesehatan mental.

PIKMA Sahabat dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi, dukungan, dan ruang untuk berbagi mengenai berbagai masalah yang dihadapi selama perkuliahan. Mahasiswa juga dapat ikut mengenalkan PIKMA Sahabat kepada mahasiswa lain melalui media sosial maupun kegiatan kampus.

Dengan begitu, kepedulian terhadap kesehatan mental dapat dimulai dari lingkungan kampus sendiri.

Kesehatan Mental Menuju Indonesia Emas 2045

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat dan sejahtera. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental perlu menjadi bagian dari upaya mencapai SDGs poin ke-3 sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Mahasiswa tidak harus menunggu menjadi seorang ahli untuk berkontribusi. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: meningkatkan pengetahuan, mengurangi stigma, menjadi pendengar yang baik, menyebarkan informasi yang benar, dan mengajak lingkungan sekitar untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak hanya tentang generasi yang memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga generasi yang sehat, peduli, dan mampu menjaga kesejahteraan dirinya serta orang-orang di sekitarnya.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *