Nyeri Punggung Bawah Sering Dianggap Wajar saat Tua, Fisioterapis UMS Ungkap Bahayanya

PWMJATENG.COM, SUKOHARJO — Mahasiswa Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan edukasi penanganan awal nyeri punggung bawah kepada puluhan kader PKK dan lansia. Kegiatan di Desa Nguter, Sukoharjo pada Sabtu (18/7/2026) ini bertujuan mencegah keluhan kronis yang mengganggu kualitas hidup lansia.
Sebagian besar masyarakat kerap menganggap sepele keluhan nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP). Banyak orang mengira rasa sakit pinggang tersebut hanya efek samping wajar dari pertambahan usia. Sebagian lain menganggapnya sekadar kelelahan fisik usai beraktivitas seharian.
Padahal, jika warga membiarkan kondisi ini tanpa penanganan medis tepat, nyeri dapat berkembang menjadi penyakit kronis. Dampaknya cukup serius, mulai dari penurunan fungsi gerak tubuh hingga penurunan kualitas hidup secara signifikan pada usia lanjut.
Penyebab Sakit Pinggang Lansia dan Risiko Nyatanya
Ketua Pelaksana Kegiatan, Muhammad Riza Effendi, S.Kes., menegaskan pentingnya meluruskan stigma salah kaprah tersebut. Menurut Riza, masyarakat perlu memahami cara pencegahan Low Back Pain sejak dini.
“Selama ini nyeri punggung bawah sering dianggap sebagai hal yang wajar karena faktor usia atau kelelahan. Padahal, apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi keluhan kronis yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup,” ujar Riza.
Riza menjelaskan faktor penyebab sakit pinggang lansia sangat beragam. Perubahan degeneratif pada struktur tulang belakang, penurunan massa otot, serta postur tubuh yang salah menjadi pemicu utamanya. Selain itu, teknik biomekanik yang keliru saat mengangkat beban harian turut mempercepat kerusakan area punggung.
Pemeriksaan Fisik Khusus dan Latihan Fisioterapi LBP
Guna memutus rantai masalah tersebut, mahasiswa UMS menggelar edukasi interaktif dan pemeriksaan fisik gratis. Tim akademisi memeriksa puluhan kader PKK serta lansia di Posbindu Mawar 5, Desa Nguter, Sukoharjo.
Mahasiswa fisioterapi UMS tidak sekadar memberikan teori. Mereka menerjunkan metode pengujian fisik spesifik. Tim mahasiswa melakukan tes Patrick, Co-Patrick, serta tes Straight Leg Raise (SLR). Tes ini mendeteksi gangguan saraf panggul dan sendi tulang belakang peserta secara langsung.
Usai menjalani pemeriksaan fisik, warga mempraktikkan latihan fisioterapi LBP secara mandiri. Tim mahasiswa merancang gerakan latihan fisik sederhana ini agar warga mudah menirunya di rumah sebagai langkah pencegahan Low Back Pain.
Apresiasi Warga dan Pembentukan Agen Perubahan
Para peserta menunjukkan respons positif dan antusiasme tinggi sepanjang kegiatan. Warga aktif mengajukan pertanyaan seputar keluhan fisik yang selama ini mereka rasakan.
Salah satu kader PKK Desa Nguter, Sri Mulyani, mengaku mendapatkan banyak wawasan anyar mengenai cara menjaga kesehatan tulang belakang.
“Kami merasa sangat terbantu dan mendapatkan banyak wawasan baru. Selama ini banyak lansia yang mengeluh sakit pinggang dan menganggapnya wajar karena faktor usia, tetapi lewat penyuluhan dari adik-adik mahasiswa UMS ini kami jadi paham bagaimana cara mendeteksi sejak dini serta melatih gerakan-gerakan pencegahannya di rumah,” ungkap Sri Mulyani.
Keaktifan warga Desa Nguter ini menjadi modal berharga dalam membangun budaya hidup sehat berbasis komunitas. Mahasiswa UMS berharap para kader PKK mampu meneruskan pengetahuan ini sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Kami sangat terkesan dengan keaktifan ibu-ibu kader dan para lansia di Posbindu Mawar 5. Mereka tidak hanya menyimak materi dengan antusias, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai berbagai keluhan fisik yang selama ini dirasakan,” kata Riza memungkas penjelasannya.
Kontributor: Fika
Editor: Al-Afasy



