Merawat Dunia dengan Mencipta Karya, Musywil XXVI IPM Jawa Tengah Siap Wujudkan Organisasi yang Berdampak
PWMJATENG.COM, KARANGANYAR – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Tengah menggelar Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-XXVI di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar pada Rabu hingga Sabtu (22–25/7/2026). Permusyawaratan tertinggi tingkat wilayah ini menjadi ajang penting untuk menentukan arah gerak organisasi ke depan.
Rangkaian acara tersebut meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban, sidang komisi, hingga pemilihan formatur dan ketua umum baru. Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah, Daei Aljanni, menyadari bahwa kepengurusannya selama satu periode terakhir belum sempurna. Meski demikian, pihak PW IPM Jawa Tengah terus mengupayakan berbagai langkah nyata demi mencapai keberdampakan organisasi.
“Mari jadikan Musywil sebagai momentum silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan menebar kebermanfaatan,” ujar Daei.
Arah Baru dan Tantangan Digital
Sebanyak 700 kader IPM se-Jawa Tengah menghadiri kegiatan besar ini dengan mengusung tema “Arah Baru IPM Jawa Tengah: Hamemayu Buwana, Hamemangun Karya”. Tema tersebut lahir dari pembacaan realitas zaman. Organisasi abad ini menuntut ruang yang mampu memberikan makna, membangun pengalaman, serta mendorong pertumbuhan kader.

Frasa “Arah Baru” sendiri menyadur tema Muktamar XXIV IPM. Selanjutnya, gagasan ini mengejawantah melalui Milad 65 IPM sebagai bentuk resonansi gerakan. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) IPM, Dany Rahmat Muharram, menjelaskan bahwa Musywil XXVI IPM Jawa Tengah mewadahi pembentukan ekosistem kader yang beradab, kritis, inovatif, dan berdaya.
Dany juga menyoroti fakta bahwa 48 persen pengguna internet saat ini berasal dari kalangan remaja. Karena itu, IPM wajib hadir secara aktif di dunia digital untuk menjaga eksistensi gerakan. Realitas inilah yang menuntut IPM melakukan transformasi cara berpikir dan bertindak, baik secara struktural maupun kultural.
Pesan Kebangsaan dan Hasil Pemilihan
Dalam pembukaan agenda Musywil XXVI IPM Jawa Tengah, Wakil Menteri Haji dan Umroh Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, turut memberikan pembekalan. Dahnil mengingatkan para peserta bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil. Menurutnya, simbolisasi peradaban besar adalah masyarakat yang disiplin.
“Seringkali kita berpikir terlalu besar hingga lupa yang kecil. Padahal kita punya 3T yang berisi langkah-langkah kecil. A billion step, begin with one step,” tegas Dahnil.

Musywil XXVI IPM Jawa Tengah ini akhirnya melahirkan Abdul Lathif Maftuh sebagai Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah periode 2026–2029. Dalam pidato perdananya, Latif meyakini bahwa arah gerak organisasi harus menjawab kebutuhan nyata para pelajar.
Latif juga menegaskan tolok ukur utama keberhasilan kepemimpinannya. Menurut Lathif, keberhasilan organisasi tidak diukur dari banyaknya jumlah kegiatan. Keberhasilan sejati terlihat dari seberapa besar dampak positif yang dirasakan oleh kader, pelajar, dan masyarakat luas.
Kontributor: Yudistira Brigas Wohingati
Editor: Alafasy



