Kolom

Muhammadiyah Sahur Lebih Awal: Mengapa Perbedaan Tak Harus Menjadi Jurang?

Oleh: Nashrul Mu’minin

Rabu, 18 Februari 2026 menjadi penanda awal ibadah puasa bagi warga Muhammadiyah. Di saat yang sama, saudara kita dari Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan untuk memulai puasa pada Kamis, 19 Februari 2026. Perbedaan ini bukanlah hal baru, namun setiap kali momen ini datang, selalu ada pertanyaan klasik yang mengemuka: apakah perbedaan ini akan menjadi jurang pemisah atau justru jembatan persaudaraan?

Muhammadiyah dengan metode hisab hakiki wujudul hilal-nya telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu. Sementara NU, melalui pendekatan rukyatul hilal dan sidang isbat, menunggu bukti visual hilal di lapangan. Dua metode, dua keputusan, namun berada dalam satu tujuan yang sama: menaati perintah Allah SWT untuk berpuasa.

Dalam QS. Al-Baqarah: 183, Allah SWT menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa output utama puasa adalah ketakwaan (karakter), bukan perdebatan teknis kalender. Perbedaan ijtihad adalah bukti kekayaan intelektual Islam. Rasulullah SAW bersabda mengenai puasa karena melihat hilal (HR. Bukhari & Muslim), yang kemudian melahirkan dua penafsiran besar: melihat dengan mata kepala (rukyat) atau melihat dengan mata ilmu (hisab). Keduanya lahir dari semangat mencari kebenaran.

Di tengah perbedaan ini, masyarakat Indonesia sebenarnya sedang diuji kedewasaannya. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi juga menahan ego. Apakah kita akan menjadikan perbedaan ini bahan sindiran di media sosial, atau ruang untuk mempraktikkan toleransi?

Ketika warga Muhammadiyah memulai tarawih dan sahur lebih dahulu, itu bukan berarti mereka meninggalkan saudaranya. Begitu pula saat warga NU memulai sehari setelahnya, itu bukan bentuk penolakan ibadah. Semua berangkat dari keyakinan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam QS. Al-Hujurat: 10, Allah berfirman bahwa orang mukmin itu bersaudara. Persaudaraan iman jauh lebih tinggi nilainya daripada perbedaan teknis penetapan tanggal. Langit Indonesia tetap sama, Tuhan yang disembah tetap satu, dan bulan yang kita tunggu pun serupa.

Ramadan 1447 H seharusnya menjadi ruang refleksi. Sudahkah kita cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan? Puasa bukan hanya soal kapan kita mulai berhenti makan, tapi soal bagaimana akhlak kita terhadap sesama. Semoga keragaman antara Muhammadiyah dan NU justru memperkuat bangunan ukhuwah Islamiyah kita, demi Islam yang mencerahkan dan penuh rahmat.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/