Mengapa Kesurupan Lebih Sering Terlihat di Indonesia?
Oleh: Acep Azis Ansori, S.Psi
Fenomena yang di Indonesia sering disebut “kesurupan” kerap muncul dalam cerita sehari-hari: saat berada di tempat yang dianggap angker, ketika seseorang “melamun” terlalu lama, atau saat kondisi mental sedang sangat tertekan. Lalu muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas: mengapa kesurupan seolah-olah lebih banyak terjadi di Indonesia, sementara di negara lain seperti Jerman, Inggris, atau negara-negara Maju lainnya jarang terdengar?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihatnya dari sudut pandang psikologi budaya: cara otak manusia memaknai pengalaman sangat dipengaruhi oleh apa yang ia percaya dan apa yang ia pelajari sejak kecil.
Otak Bekerja Mengikuti “Naskah Budaya”.
Setiap masyarakat punya naskah budaya semacam “panduan tak tertulis” tentang apa yang dianggap masuk akal, wajar, dan mungkin terjadi. Di Indonesia, banyak orang sejak kecil akrab dengan konsep tempat angker, kebiasaan “permisi” saat melewati lokasi tertentu, atau keyakinan bahwa orang yang bengong lebih mudah “dirasuki”.
Ketika sistem kepercayaan seperti ini tertanam kuat, otak memiliki pola penafsiran yang spesifik. Dalam kondisi tertentu misalnya stres berat, tekanan emosional menumpuk, kelelahan, atau konflik batin yang tidak tersalurkan otak bisa “memilih” bentuk ekspresi yang paling dikenal dan paling masuk akal dalam budaya tersebut. Bukan karena ada sesuatu yang supranatural secara pasti, tetapi karena itu menjadi referensi yang tersedia dalam pikiran seseorang dan lingkungan sekitarnya.
Dengan kata lain, respons yang tampak seperti “kesurupan” bisa dipahami sebagai bentuk ekspresi psikologis yang dibungkus oleh budaya.
Stres Berat dan Gejala Disosiatif: Isinya Mirip, Bungkusnya Berbeda
Dalam ilmu psikologi, ada kondisi yang disebut gejala disosiatif ketika seseorang mengalami perubahan kesadaran, perilaku, atau rasa kendali terhadap diri. Ini bisa muncul saat seseorang berada dalam tekanan yang intens, mengalami trauma, atau berada dalam situasi yang membuatnya tidak sanggup menanggung beban emosional.
Yang menarik: gejala dasar ini bisa ditemukan di banyak tempat di dunia. Namun cara tampilnya berbeda-beda tergantung budaya. Di Indonesia, ekspresinya bisa berbentuk “kesurupan”: berteriak, menangis, tubuh gemetar, bicara dengan gaya berbeda, meminta hal-hal yang diasosiasikan dengan tradisi setempat, dan seterusnya. Di beberapa negara Barat, kondisi serupa lebih sering dipahami sebagai gangguan psikologis atau medis. Respon lingkungan pun berbeda: alih-alih memanggil orang pintar, mereka cenderung mencari bantuan tenaga kesehatan mental. Di budaya lain, ekspresi bisa muncul dalam bentuk keluhan fisik, serangan panik, pingsan, atau perilaku khas lainnya yang sesuai dengan pemahaman sosial setempat.
Jadi, bukan berarti “di luar negeri tidak ada”, melainkan istilah, makna, dan “kemasan” gejalanya yang berbeda.
Catatan Sejarah: “Amok” sebagai Ekspresi Tekanan Batin
Pandangan bahwa budaya memengaruhi cara orang mengekspresikan tekanan batin juga pernah dicatat dalam literatur perjalanan klasik. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah pengamatan Alfred Russel Wallace (dalam The Malay Archipelago) mengenai fenomena yang ia sebut “amok” perilaku mengamuk secara tiba-tiba yang ia anggap khas terjadi pada masyarakat lokal Nusantara pada abad ke-19.
Dalam catatan tersebut, “amok” dipahami bukan sebagai gangguan makhluk halus, melainkan ledakan keputusasaan atau kegilaan sesaat yang muncul dari tekanan psikologis. Catatan ini sering digunakan untuk menunjukkan bahwa dari dulu pun, cara masyarakat mengekspresikan beban batin dapat memiliki pola yang khas secara budaya.
Intinya: sejarah turut memberi gambaran bahwa respons psikologis tidak berdiri di ruang hampa ia dibentuk oleh lingkungan sosial, keyakinan, dan cara masyarakat memberi label pada sebuah peristiwa.
Mengapa Di Indonesia Terlihat Lebih Sering?
Ada beberapa alasan mengapa fenomena “kesurupan” lebih mudah terlihat dan lebih sering diberi label seperti itu di Indonesia:
- Kerangka kepercayaan sudah tersedia sejak kecil. Saat seseorang mengalami tekanan berat, otak cenderung memakai “bahasa” yang paling akrab.
- Respon lingkungan menguatkan pola tersebut. Jika orang sekitar langsung menganggap “ini kesurupan”, maka penanganan dan narasi yang muncul pun mengikuti label itu.
- Kesurupan dianggap penjelasan yang masuk akal secara sosial. Dalam beberapa konteks, ini menjadi “cara yang diterima” untuk mengekspresikan stres tanpa harus mengungkap masalah personal yang sulit dibicarakan.
- Akses dan literasi kesehatan mental belum merata. Ketika pemahaman medis/psikologis kurang familiar, interpretasi budaya lebih dominan.
Lalu, Sikap yang Bijak Bagaimana?
Membahas fenomena ini bukan berarti merendahkan keyakinan siapa pun. Namun, memahami sisi psikologis dan budaya dapat membantu kita bersikap lebih tenang dan lebih tepat dalam merespons.
Jika ada seseorang mengalami kejadian seperti kesurupan, langkah bijak yang dapat dilakukan antara lain:
- Pastikan keamanan orang tersebut dan orang di sekitarnya.
- Cek apakah ada pemicu seperti kelelahan ekstrem, tekanan batin, konflik, atau riwayat trauma.
- Jika kejadian berulang atau membahayakan, pertimbangkan untuk melibatkan tenaga profesional (psikolog/psikiater) agar mendapat penanganan yang sesuai.
Kesimpulan
Fenomena “kesurupan” yang lebih sering terlihat di Indonesia bisa dipahami sebagai pertemuan antara tekanan psikologis dan “naskah budaya” yang sudah tertanam sejak kecil. Gejala stres berat atau disosiatif dapat muncul di mana saja, tetapi bentuk ekspresinya mengikuti cara budaya setempat mengajarkan manusia memaknai dan menampilkan pengalaman batin.
Pada akhirnya, memahami konteks budaya dan psikologis membuat kita tidak cepat menghakimi dan lebih siap membantu dengan cara yang aman dan manusiawi.



