Bukan Sekadar Tempat Ibadah, KMM Jateng Mulai Terapkan Manajemen Masjid Digital untuk Atasi Masalah Sosial
PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA – Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jawa Tengah resmi mengadopsi sistem manajemen masjid digital guna menyulap tempat ibadah menjadi pusat pemberdayaan umat abad 21 yang solutif. Strategi mutakhir ini muncul usai delegasi wilayah merampungkan pelatihan intensif di Tabligh Institute, Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026), sebagai jawaban konkret atas berbagai problematika sosial dan ekonomi masyarakat saat ini.
Oleh karena itu, KMM Jawa Tengah langsung bergerak cepat. Pihak wilayah mengirimkan delegasi khusus untuk menyerap strategi dakwah komunitas terbaru di Yogyakarta. Langkah ini bertujuan agar para dai memiliki standardisasi yang sama dalam menggerakkan umat.
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dr. KH. Saad Ibrahim, menegaskan urgensi perubahan ini. Beliau menyampaikan bahwa pengurus tidak boleh lagi mengelola masjid secara tradisional dan konvensional. Sebaliknya, tempat ibadah harus bertransformasi menjadi pusat peradaban yang adaptif dan solutif.
“Pelatihan ini adalah langkah strategis untuk memperkuat basis dakwah kita. Mubaligh tidak hanya dituntut untuk mahir menyampaikan risalah, tetapi juga harus mampu mengelola masjid sebagai episentrum pemberdayaan umat yang modern, inklusif, dan solutif bagi problematika sosial,” ujar Dr. KH. Saad Ibrahim.
Standardisasi Dakwah Kontemporer
Selaras dengan arahan tersebut, utusan Jawa Tengah berkomitmen penuh untuk menerapkan standardisasi mutu. Manajemen masjid yang rapi menjadi kunci utama untuk memperluas dampak positif ke masyarakat luas. Dengan demikian, program dakwah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terstruktur rapi.
“Kami berkomitmen untuk mengimplementasikan hasil pelatihan ini agar masjid-masjid di Jawa Tengah semakin tertata dengan baik dan mampu memberikan dampak luas bagi umat,” ujar Ust. Mukhamad Aliun, S.Sy., S.Pd.I., M.Pd.I., perwakilan delegasi Jawa Tengah.
Selanjutnya, penguatan kompetensi ini berfokus pada penguasaan teknologi digital dan pendekatan personal ke jemaah. Para dai masa kini wajib memahami peta sosiologis masyarakat agar pesan keagamaan dapat mengalir dengan baik.
Implementasi Manajemen Masjid Digital
Selain itu, tantangan zaman menuntut pengurus masjid menguasai instrumen teknologi informasi terbaru. Melalui pemanfaatan data yang akurat, pengelolaan dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dan program sosial dapat berjalan lebih transparan.
“Ini adalah bekal berharga untuk memastikan gerakan dakwah Muhammadiyah semakin masif dan terorganisir di daerah,” ujar Ust. Abiyyu Mahir Ammar, Lc., M.H., anggota delegasi Jawa Tengah lainnya. Ia juga menambahkan bahwa pendampingan selama empat hari tersebut memberikan wawasan segar terkait tata kelola masjid modern dan strategi dakwah komunitas.
Sebagai langkah konkret, para peserta mengakhiri kegiatan intensif ini dengan menyusun rencana tindak lanjut (RTL) yang terukur. Sekembalinya ke daerah, mereka akan segera mengaplikasikan sistem tata kelola baru ini di wilayah masing-masing secara berkelanjutan.
Kontributor: Satrya Zidni Prasetyo
Editor: Alafasy



