Kolom

Story Lebaran Hilang dalam 24 Jam, Tapi Apakah Maknanya Juga?

Lebaran selalu datang dengan gegap gempita. Takbir berkumandang, rumah-rumah terbuka, dan tangan-tangan saling berjabat dalam hangatnya maaf. Namun, di era digital hari ini, suasana itu tidak hanya terjadi di ruang nyata, tetapi juga membanjiri layar ponsel melalui story, feed, dan berbagai unggahan yang seakan menjadi wajah baru dari Idul Fitri itu sendiri.

Dalam 24 jam, story Lebaran kita hilang. Foto keluarga, momen sungkeman, hingga video kebersamaan perlahan lenyap ditelan waktu digital. Tetapi pertanyaan yang lebih dalam justru muncul: apakah makna Lebaran ikut menghilang secepat itu?

Fenomena ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang cara kita memaknai momen sakral. Lebaran yang seharusnya menjadi titik balik spiritual, kini sering kali direduksi menjadi konten visual. Seakan-akan, kebahagiaan harus dibuktikan, kehangatan harus dipamerkan, dan kebersamaan harus diabadikan agar dianggap nyata.

Kita hidup dalam budaya “jika tidak diunggah, maka tidak terjadi.” Maka tak heran jika momen saling memaafkan pun terkadang terasa seperti formalitas visual. Senyum dipasang, kamera dinyalakan, dan ucapan maaf terucap—namun apakah hati benar-benar ikut berbicara?

Lebaran yang dulu penuh dengan keheningan batin kini bersaing dengan hiruk-pikuk notifikasi. Kita lebih sibuk memilih filter terbaik daripada merenungkan dosa yang ingin diperbaiki. Kita lebih fokus pada caption daripada kejujuran perasaan.

Ironisnya, semakin banyak yang dibagikan, semakin sedikit yang benar-benar dirasakan. Kebahagiaan menjadi cepat, instan, dan dangkal. Seperti story yang hanya bertahan sehari, makna Lebaran pun terancam menjadi sesuatu yang sementara.

Padahal, esensi Lebaran tidak pernah tentang seberapa indah foto keluarga atau seberapa ramai interaksi di media sosial. Lebaran adalah tentang pulang—bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke hati yang bersih, ke jiwa yang jujur, dan ke relasi yang tulus.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak orang “pulang” secara fisik, tetapi tetap jauh secara emosional. Mereka hadir di tengah keluarga, tetapi pikirannya masih terjebak dalam layar. Mereka duduk bersama, tetapi jari-jarinya sibuk menggulir dunia lain.

Di sinilah kita mulai kehilangan arah. Lebaran yang seharusnya menjadi ruang refleksi berubah menjadi panggung eksistensi. Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang telah aku perbaiki?” tetapi lebih sering bertanya, “Apakah postinganku sudah cukup menarik?”

Kondisi ini bukan sepenuhnya salah teknologi. Media sosial hanyalah alat. Namun, ketika alat itu mulai mengendalikan cara kita merasakan, di situlah masalah muncul. Kita tidak lagi menjadi subjek yang sadar, tetapi objek dari arus digital yang terus bergerak tanpa henti.

Lebaran mengajarkan tentang kesederhanaan, tetapi dunia digital mendorong kita menuju kompleksitas pencitraan. Lebaran mengajarkan keikhlasan, tetapi algoritma sering kali menggoda kita dengan validasi semu berupa likes dan views.

Maka, ketika story Lebaran hilang dalam 24 jam, seharusnya kita tidak hanya kehilangan dokumentasi visual, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya: apa yang tersisa dalam diri kita?

Apakah kita benar-benar telah memaafkan? Apakah kita telah berdamai dengan diri sendiri? Apakah kita membawa nilai-nilai Lebaran ke hari-hari setelahnya?

Jika jawabannya tidak, maka yang hilang bukan hanya story, tetapi juga makna. Kita telah melewatkan momentum suci dan menggantinya dengan kesibukan yang fana.

Lebaran seharusnya tidak berakhir ketika story menghilang. Ia seharusnya hidup dalam sikap, dalam tutur kata, dan dalam cara kita memperlakukan orang lain setelahnya. Karena pada akhirnya, yang abadi bukanlah unggahan kita, melainkan perubahan kita.

Nashrul Mu’minin

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/