Lawan Arus Informasi Instan, Dosen UMS Kembangkan Jurnalistik Karosel Berbasis Kearifan Nusantara

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Arus digitalisasi yang deras menuntut inovasi literasi yang relevan dengan pola konsumsi informasi generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, Dosen PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Atiqa Sabardila, M.Hum., berhasil meraih pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju melalui gagasan jurnalistik karosel edukatif.
Riset bertajuk “Penguatan Konten Jurnalistik Karosel Bermuatan Kearifan Nusantara sebagai Media Literasi Sekolah” ini bertujuan mengubah media sosial dari sekadar ruang hiburan menjadi medium pembelajaran yang berbobot.
Format karosel—unggahan beberapa gambar yang dapat digeser (swipe)—dipilih karena kemampuannya menyajikan informasi secara bertahap dan naratif. Menurut Atiqa, ruang digital yang sering kali minim refleksi perlu diisi dengan konten yang memadukan kaidah jurnalistik akurat dengan bahasa yang komunikatif.
“Format karosel memiliki potensi besar sebagai medium literasi alternatif. Setiap slide dirancang untuk membangun alur cerita sistematis, memadukan data, fakta, serta narasi kebudayaan yang kontekstual,” jelas Atiqa, Kamis (12/2).
Muatan kearifan Nusantara menjadi ruh utama dalam riset ini. Atiqa menekankan bahwa literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca-tulis, tetapi harus meluas menjadi literasi budaya dan kritis yang menjaga jati diri bangsa.
“Sekolah harus menjadi produsen wacana yang mendidik. Melalui model ini, guru dan siswa didorong memproduksi konten yang mengangkat tradisi, bahasa daerah, dan praktik sosial lokal yang mencerminkan identitas kebangsaan,” tegas Sekprodi Pendidikan Bahasa Indonesia Program Doktor UMS tersebut.
Capaian ini menegaskan komitmen FKIP UMS dalam mendorong riset yang berdampak langsung pada ekosistem media baru. Inovasi ini menunjukkan bahwa kajian bahasa dan jurnalistik mampu bersinergi menghadirkan model literasi adaptif yang humanis.
Bagi UMS, riset ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap bermedia, tetapi juga kritis terhadap arus informasi global dengan tetap merawat nilai-nilai budaya Indonesia.
Kontributor: Yusuf | Humas
Editor: Al-Afasy



