Kunci Keselamatan Hidup: Antara Kehendak Allah dan Ikhtiar Manusia

PWMJATENG.COM, Sejatinya, kehidupan di bumi tidaklah benar-benar aman dan selamat. Keselamatan dan keamanan dalam menjalani hidup di dunia disebabkan oleh dua faktor utama: yang paling mendasar adalah kehendak Allah, dan selanjutnya adalah ikhtiar manusia.
Segala hal yang terjadi di bumi dan semesta tidak pernah lepas dari genggaman Allah. Namun, hal ini bukan berarti Allah adalah pencipta keburukan dalam setiap dinamika hidup manusia. Allah adalah Tuhan yang meliputi segala kebaikan dan kesempurnaan. Sementara itu, kebaikan dan keburukan sering kali menjadi nilai spekulatif yang didasarkan pada opini manusia belaka.
Memahami Perspektif Kebaikan dalam Pandangan Allah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu,” (QS. Al-Baqarah: 216).
Imam As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini bersifat umum dan luas. Perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa karena adanya kesulitan di dalamnya, tetaplah sebuah kebaikan tanpa keraguan. Sebaliknya, hal buruk yang disenangi jiwa karena dianggap mendatangkan kenikmatan, sejatinya adalah keburukan.
Kebanyakan orang, apabila menyukai suatu perkara lalu Allah memalingkannya dari hal tersebut, sesungguhnya itu adalah yang terbaik baginya. Maka, sikap yang paling tepat adalah bersyukur dan meyakini bahwa kebaikan ada pada apa yang telah terjadi. Sebab, Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada hamba itu sendiri, lebih kuasa dalam memberikan kemaslahatan, dan lebih mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Logika Teologis: Tidak Ada Keburukan yang Dikehendaki Tuhan
Dalam logika filsafat teologis, Tuhan tidak pernah menciptakan hal yang saling berlawanan seperti gelap-terang atau siang-malam sebagai sebuah pertentangan. Kondisi ruang yang gelap adalah kondisi apa adanya, lalu Allah menciptakan cahaya untuk menerangi.
Begitu pula dengan malam dan siang; keduanya bukanlah dua waktu yang berlawanan, melainkan saling melengkapi dalam satu kesatuan. Keberadaan siang dan malam merupakan sebab adanya matahari yang Allah ciptakan, yang darinya muncul banyak manfaat bagi kehidupan. Air dan api pun demikian, keduanya memiliki fungsi masing-masing tanpa harus dianggap sebagai musuh. Segala kebaikan tersebut merupakan kehendak Allah, dan jika ditelisik lebih dalam, tidak ada satu keburukan pun yang dikehendaki oleh-Nya.
Keselamatan Sebagai Anugerah dan Hasil Usaha
Keselamatan dan keamanan hidup merupakan kebaikan mutlak yang hanya dapat diraih atas kehendak Allah Ta’ala. Tanpa kehendak-Nya, bumi menjadi tempat yang rentan bagi manusia untuk terjerumus dalam kerugian. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (QS. Al-Ashr: 2).
Ayat ini merupakan legitimasi bahwa tidak ada jaminan manusia mendapatkan kebaikan hidup secara alami. Namun, faktor kedua yang sangat menentukan adalah ikhtiar manusia, sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 3).
Menjemput Cahaya Petunjuk
Allah berkuasa atas takdir, namun bukan berarti manusia yang buruk dan ingkar adalah kehendak-Nya. Menggunakan analogi sederhana: seseorang yang berada di ruang hampa nan gelap berarti ia berada di ruang tanpa cahaya.
Sama halnya dengan seseorang yang buruk dan sesat; mereka hidup tanpa petunjuk Allah. Jika hati ingin diliputi cahaya, maka manusia harus berusaha mencari rida Allah, sebagaimana ia berusaha mencari cahaya di kegelapan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Pepatah “tidak ada usaha yang sia-sia” adalah benar adanya. Ikhtiar manusia menuju arah yang baik akan selalu mendatangkan kebaikan, baik secara langsung maupun tersirat. Orientasi hidup yang baik harus diusahakan dengan cara yang baik pula. Tanpa ikhtiar, hidup sejatinya berada dalam kondisi yang sangat sia-sia dan merugi.
Penulis: Shihab Wicaksono Ardhi, M.Ag.
Editor: Al-Afasy



