Kolom

Kartini, KH Ahmad Dahlan dan Spirit Berkemajuan

Bulan April senantiasa menghadirkan resonansi sejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 21 April, kita tidak sekadar memperingati kelahiran Raden Ajeng Kartini, tetapi juga meneguhkan kembali api pemikiran yang ia nyalakan tentang pendidikan, literasi, dan keberanian menembus batas zaman. Kartini bukan hanya simbol kebaya, melainkan representasi kesadaran baru: bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada akal yang tercerahkan dan jiwa yang merdeka.
Dalam lanskap keilmuan Islam Nusantara, jejak Kartini tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam satu mata rantai intelektual dengan para ulama pembaharu, seperti Ahmad Dahlan dan Sholeh Darat. Keduanya memiliki irisan historis yang kuat. KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah murid dari KH Sholeh Darat, seorang ulama besar yang juga menjadi rujukan keilmuan di zamannya. Dalam konteks ini, Kartini dapat dipahami sebagai “saudara ruhani” dalam ekosistem keilmuan yang sama: sama-sama mencari cahaya Islam yang mencerahkan, bukan sekadar ritual yang membelenggu.
Kartini lahir di Mayong, Jepara, pada 21 April 1879, dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya, Bupati Jepara, memberikan akses pada pendidikan modern, sementara garis ibunya menanamkan fondasi religius yang kuat. Kakeknya, K.H. Madirono, adalah seorang ulama yang membentuk sensibilitas spiritual Kartini. Perpaduan antara tradisi priyayi dan kultur santri inilah yang melahirkan sosok Kartini yang religius, kritis, sekaligus progresif.

Untuk membaca kompleksitas sosial yang melingkupi kehidupan Kartini, pemikiran Clifford Geertz dalam The Religion of Java kerap dijadikan rujukan. Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam kategori abangan, santri, dan priyayi. Meski tipologi ini tidak sepenuhnya relevan dalam konteks mutakhir, ia membantu kita memahami posisi Kartini yang berada di simpul persilangan budaya, agama, dan kekuasaan. Namun Kartini tidak berhenti sebagai representasi struktur sosial; ia justru melampaui itu dengan kesadaran kritis yang tajam.

Seringkali, peringatan Hari Kartini direduksi menjadi simbolisme kebaya. Padahal, kebaya hanyalah representasi kultural, bukan inti perjuangan. Kartini sesungguhnya adalah pelopor perubahan. Ia menggugat tradisi yang meminggirkan perempuan sebagai “konco wingking”, menolak praktik-praktik feodal yang merendahkan martabat perempuan, dan membuka ruang bagi kesetaraan yang bermartabat. Dalam hal ini, semangat Kartini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai alat pembebasan manusia dari ketertindasan struktural maupun kultural.

Lebih dalam lagi, kegelisahan Kartini menyentuh aspek teologis. Ia mengkritik cara beragama yang berhenti pada hafalan tanpa pemahaman. Dalam sebuah riwayat yang juga diangkat dalam film Jejak Langkah 2 Ulama, Kartini meminta kepada KH Sholeh Darat agar Al-Qur’an diterjemahkan agar dapat dipahami. Permintaan ini sangat progresif, bahkan berisiko, mengingat pada masa kolonial Belanda terdapat pembatasan terhadap penerjemahan Al-Qur’an. Di sinilah kita melihat titik temu antara Kartini dan KH Ahmad Dahlan: keduanya mengusung Islam yang mencerahkan, yang menempatkan akal sebagai mitra wahyu, bukan sekadar pengikut pasif.

Dalam perspektif Muhammadiyah, spirit ini dikenal sebagai Islam berkemajuan sebuah pandangan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan yang transformatif. Pemikiran Mukti Ali menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis, baik di ruang domestik maupun publik, tanpa harus kehilangan jati dirinya. Dengan demikian, emansipasi dalam pandangan Islam berkemajuan bukanlah pertarungan antara laki-laki dan perempuan, melainkan kolaborasi dalam membangun peradaban.

Berbeda dengan sebagian arus Women Liberation Movement di Barat yang dalam beberapa konteks cenderung konfrontatif, Kartini justru menawarkan sintesis: harmoni antara peran, tanggung jawab, dan kemuliaan manusia. Dalam kerangka ini, pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan menemukan relevansinya bahwa pembebasan sejati adalah proses memanusiakan manusia, bukan menggantikan satu dominasi dengan dominasi lainnya.
Hari ini, ketika literasi menjadi agenda nasional, semangat Kartini menemukan momentumnya kembali. Literasi tidak lagi dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kesanggupan memahami realitas secara kritis dan transformatif. Kartini telah mencontohkan hal itu jauh sebelum istilah literasi menjadi wacana global.

Akhirnya, memperingati Kartini berarti menyalakan kembali spirit pencerahan. Kartini masa kini adalah mereka yang menghadirkan ilmu sebagai cahaya, iman sebagai fondasi, dan amal sebagai bukti. Sebagaimana filosofi “Sang Surya” dalam Muhammadiyah, cahaya itu tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga menyinari umat dan peradaban.
Maka, spirit berkemajuan yang diwariskan Kartini, KH Sholeh Darat, dan KH Ahmad Dahlan harus terus dirawat. Sebab kemajuan bangsa tidak lahir dari simbol, tetapi dari kesadaran, ilmu, dan keberanian untuk terus bergerak membangun umat yang berkeadaban, tercerahkan, dan berkemajuan.

Taufiq Nugroho Nur, M.Pd

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://middlepassage.dei.uc.pt/https://privacycolab.dei.uc.pt/https://cmd.dei.uc.pt/https://henrique.dei.uc.pt/https://hormon-osteoporosezentrum.de/
https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://simseam.ft.uns.ac.id/https://sipil.ft.uns.ac.id/slot gacorhttps://aku.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/https://akperstg.ac.id/
zonawin777zonawin777