Karhutla Lamandau Picu Kabut Asap Parah, Da’i Muhammadiyah Tetap Setia Mengabdi di Daerah 3T
PWMJATENG.COM, KALIMANTAN TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Lamandau serta kemarau panjang memberikan dampak berat terhadap kehidupan warga Kalimantan Tengah. Kabut asap pekat, keterbatasan air bersih, dan jalanan berdebu menghambat aktivitas pendidikan serta dakwah. Di tengah situasi darurat tersebut, Hikari Aufa Rofiqi selaku Da’i Daerah 3T Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tetap konsisten menjalankan pengabdian.
Tantangan Perjalanan dan Dampak Karhutla Lamandau
Hikari Aufa Rofiqi menghadapi berbagai hambatan besar dalam menjalankan tugas sehari-hari di lapangan. Lingkungan sekitar terdampak langsung oleh musim kemarau yang panjang. Situasi itu memaksa sang da’i menempuh perjalanan sejauh 25 kilometer dari tempat tinggal menuju sekolah Muhammadiyah tempatnya mengajar.
Perjalanan tersebut melewati jalur tanah berdebu tebal yang pekat dengan kabut asap. Kelangkaan bahan bakar minyak menambah kerumitan mobilitas harian karena ia harus mengantre lama untuk mendapatkan pasokan BBM. Seluruh tantangan itu berlangsung di tengah eskalasi karhutla Lamandau yang meluas di wilayah Kalimantan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan cuaca periode 15 hingga 21 September 2026. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa atmosfer kering serta minimnya curah hujan memicu eskalasi risiko kekeringan dan kebakaran hutan. Pemantauan satelit per 13 September 2026 bahkan mencatat sebanyak 627 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Kalimantan.
Kabut Asap Mengganggu Aktivitas Pendidikan dan Dakwah
Dampak karhutla Lamandau merembet langsung ke sektor kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kepulan kabut asap yang pekat membuat sejumlah murid terserang gangguan kesehatan pernapasan sehingga terpaksa absen dari sekolah. Hikari sendiri sempat mengalami masalah kesehatan serupa selama merawat rutinitas pengabdiannya.
Kondisi tersebut membuktikan bahwa bencana ekologis merusak lingkungan sekaligus melumpuhkan kesehatan warga dan kelangsungan pendidikan. Kegiatan dakwah harian terpaksa menyesuaikan diri dengan situasi kualitas udara yang fluktuatif. Intensitas kajian rutin pekanan tidak berjalan normal karena harus memprioritaskan keselamatan kesehatan jamaah.
Aktivitas Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) serta kegiatan sekolah mengikuti dinamika cuaca harian secara fleksibel. Pengurus menyebarkan informasi jadwal kegiatan kepada masyarakat sehari lebih awal apabila kondisi udara mulai membaik. Fleksibilitas ini menjaga keberlangsungan proses belajar tanpa mengabaikan aspek keselamatan jiwa.
Krisis Air Bersih dan Respon Pemerintah
Gelombang kemarau panjang memperparah situasi dengan memicu keterbatasan akses terhadap air bersih yang layak konsumsi. Melalui pendampingan langsung, Hikari menyaksikan warga terpaksa mengambil air sungai demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Realitas tersebut menegaskan bahwa bencana karhutla Lamandau membawa multi-krisis yang kompleks bagi masyarakat.
Warga setempat menghadapi persoalan mendasar mulai dari kesehatan, mobilitas harian, hingga pasokan air bersih yang menipis. Pemerintah pusat merespons cepat situasi darurat di provinsi tersebut. BNPB melaporkan pada 21 September 2026 bahwa penanganan karhutla Lamandau tetap menjadi prioritas utama status siaga darurat di Kalimantan Tengah.
Selama empat bulan membersamai warga, Hikari melihat ketahanan mental yang luar biasa dari masyarakat setempat. Warga terus berjuang mempertahankan denyut kehidupan sosial di tengah himpitan bencana ekologi. Sinergi antara keteguhan warga dan kehadiran negara menjadi kunci penting dalam melewati masa krisis ini.
Peran Strategis Dakwah Komunitas di Wilayah 3T
Bencana karhutla Lamandau memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya merawat kelestarian ekosistem alam sekitar. Kerusakan habitat flora dan fauna akibat kebakaran menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan hidup menuntut tanggung jawab moral yang tinggi. Eksploitasi sumber daya alam tanpa kendali mendatangkan malapetaka bagi warga di sekitar kawasan terdampak.
Langkah pencegahan, pengawasan ketat, penanggulangan terpadu, serta pemulihan ekosistem menjadi prasyarat mutlak penanganan bencana. Pengalaman empiris Hikari sebagai da’i LDK PP Muhammadiyah di daerah 3T membuktikan keterikatan erat antara risalah dakwah dan realitas sosial. Persoalan kesehatan, pendidikan, dan krisis air bersih merupakan bagian integral dari dakwah pemberdayaan umat.
Kehadiran LDK PP Muhammadiyah mewujudkan model dakwah transformatif yang melekat dengan denyut kehidupan masyarakat marginal. Dakwah tidak berhenti pada ceramah keagamaan di ruang tertutup semata. Aksi nyata berupa kepedulian sosial, empati, dan pendampingan langsung di tengah keterbatasan menjadi wujud esensial pelayanan umat.
Kontributor: Anas Asy’ari Nashuha
Editor: Akmal



