Belajar dari Nokia, Hammam Ph.D. Minta Kader Muhammadiyah Responsif di Era Disrupsi
PWMJATENG.COM, PEKALONGAN – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PCM Pekajangan sukses merampungkan agenda Sekolah Kader Muhammadiyah Pekajangan. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Kampus 2 UMPP pada 11–12 Juli 2026. Melalui acara ini, peserta mendalami pentingnya peran kader Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat.
Hammam, M.Pd., Ph.D., hadir sebagai pembicara utama untuk membedah tantangan organisasi di era disrupsi. Ia mengajak seluruh peserta agar mereka segera melakukan perubahan fundamental dalam paradigma berpikir.
Menghadapi Era Disrupsi (VUCA) dengan Nilai Ideal
Hammam menekankan bahwa kader Muhammadiyah tidak boleh lambat dalam merespons zaman. Ia mencontohkan kegagalan raksasa teknologi seperti Nokia dan Yahoo yang tumbang karena lambat dalam beradaptasi.
Sebagai solusinya, kader harus mengadopsi nilai fast response dan antisipatoris. Selain itu, mereka perlu menyeimbangkan rasa harap (raja’) dan cemas (khauf) agar mereka mampu menjaga efikasi diri yang tinggi di tengah ketidakpastian.
Tiga Paradigma Berpikir untuk Kader
Untuk menghadapi tantangan, Hammam mengajak peserta menata ulang cara berpikir mereka melalui tiga pendekatan utama:
-
Reflektif: Kader mampu memetik pelajaran dari sejarah masa lalu serta tantangan masa kini.
-
Antisipatoris: Kader menyiapkan langkah konkret sebelum masalah besar muncul.
-
Proyektif: Kader menciptakan peluang dan profesi baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Dengan menerapkan pola pikir ini, kader dapat mengubah tantangan sulitnya lapangan kerja menjadi peluang usaha. Oleh karena itu, mereka akan mampu membudayakan pemikiran profetik di tengah gempuran gaya hidup hedonisme.
Visi Besar Muhammadiyah for All
Pada akhir sesi, Hammam menegaskan bahwa esensi dari gerakan ini adalah mewujudkan visi “Muhammadiyah for All“. Kehadiran organisasi harus terasa inklusif bagi semua kalangan tanpa memandang latar belakang.
Oleh sebab itu, setiap kader Muhammadiyah harus memainkan tiga peran strategis:
-
Mujahadah: Menjadi hamba yang bersungguh-sungguh dalam spiritualitas.
-
Mujtahid: Menjadi pemikir intelektual yang mencerahkan masyarakat.
-
Mujahid: Menjadi wirausahawan mandiri yang tangguh dalam berkarya.
Melalui sekolah kader ini, PCM Pekajangan berharap para peserta mampu menjadi suksesor yang andal. Dengan demikian, mereka siap menyempurnakan estafet perjuangan persyarikatan di tengah dinamisnya era modern saat ini.
Kontributor: Bono
Editor: Ayma



