Berita

Halalbihalal Masjid Ath Thalhah Mojorejo, K.H. Tafsir Tekankan Dakwah melalui Budaya

PWMJATENG.COM, MADIUN — Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag., menekankan pentingnya kreativitas dakwah melalui pendekatan budaya saat menghadiri Halalbihalal di Masjid Ath Thalhah, Mojorejo, Madiun, Sabtu (28/3/2026).

Kegiatan halalbihalal itu berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Acara juga dimeriahkan dengan hiburan wayang kulit yang menjadi daya tarik bagi jamaah.

Dalam tausiahnya, K.H. Tafsir menegaskan bahwa dakwah Islam perlu dilakukan secara kreatif agar lebih mudah diterima masyarakat. Di Indonesia, khususnya di Jawa, pendekatan budaya dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan penyebaran ajaran Islam.

Ia mengapresiasi penggunaan seni tradisional, seperti wayang kulit dan karawitan, dalam kegiatan keagamaan. Menurutnya, kesenian dapat menjadi sarana efektif untuk menghadirkan masyarakat sekaligus menyampaikan pesan moral Islam secara bijak dan damai.

“Islamisasi di Jawa berhasil karena para wali tidak menghapus tradisi, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

K.H. Tafsir menyampaikan tausiah pada acara Halalbihalal di Masjid Ath Thalhah, Mojorejo, Madiun, dengan latar pertunjukan wayang kulit dan gamelan.

Dakwah Kultural di Tengah Masyarakat

K.H. Tafsir menjelaskan, para Wali Songo mempertahankan tradisi lokal, tetapi mengarahkan isi dan pesannya kepada ajaran tauhid, kalimat thayyibah, dan bacaan Al-Qur’an. Pendekatan itu membuat dakwah hadir secara membumi dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurut Tafsir, model dakwah seperti ini perlu terus dirawat. Dakwah tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku, tetapi dapat menyentuh masyarakat melalui media budaya yang akrab dengan kehidupan mereka.

Halalbihalal sebagai Budaya Bangsa

Dalam kesempatan itu, K.H. Tafsir juga menyoroti tradisi halalbihalal sebagai bentuk keberhasilan dakwah yang khas Indonesia. Ia menyebut halalbihalal sebagai peristiwa syariah yang telah tumbuh menjadi budaya bangsa.

“Halal bihalal adalah peristiwa syariah tapi sudah menjadi budaya bangsa. Ini keberhasilan dakwah yang luar biasa, bagaimana syariah menjadi budaya,” tuturnya.

Ia menjelaskan, halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial setelah Ramadan. Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai sarana menyempurnakan kesucian diri, setelah seorang Muslim memohon ampun kepada Allah selama bulan suci.

“Suci kepada Allah, bersih kepada Allah belum cukup kalau belum bersih kepada sesama. Setelah bersih kepada Allah kita lanjut bersih kepada sesama, itulah kenapa halal bihalal di bulan Syawal,” ujarnya.

K.H. Tafsir pun mengajak umat Islam untuk percaya diri dengan identitas Islam Indonesia yang mampu memadukan syariat dan budaya secara harmonis. Melalui tradisi saling memaafkan, silaturahmi, dan pendekatan budaya, dakwah diharapkan semakin membumi serta memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/