Berita

Dr Pamela C. Phelps Tekankan Fondasi Emosi, Relasi, dan Bermain dalam Pembelajaran Anak Usia Dini

PWMJATENG.COM – Dr Pamela C. Phelps menegaskan bahwa kesejahteraan emosional, hubungan yang penuh kasih, dan bermain merupakan fondasi pembelajaran anak usia dini. Pesan itu ia sampaikan dalam Early Childhood Professional Learning Series VIII bertema Rebuilding the Foundation of Early Learning.

Pamela, yang dikenal sebagai pendidik, peneliti, pendiri Creative School, sekaligus penulis Beyond Center and Circle Time (BCCT), menjelaskan bahwa perkembangan anak tidak dapat dilepaskan dari kualitas relasi dan pengalaman yang mereka terima sejak awal kehidupan.

Fondasi Perkembangan Anak Usia Dini

Dalam pemaparannya, Dr Pamela C. Phelps menyebut kesejahteraan emosional, kompetensi sosial, dan kemampuan kognitif sebagai “batu bata dan semen” yang membentuk fondasi perkembangan manusia. Ia menekankan bahwa masa sejak dalam kandungan hingga tiga tahun pertama merupakan periode penting dalam perkembangan otak anak.

Menurutnya, tahapan perkembangan otak memang banyak dipengaruhi faktor genetik. Namun, kualitas pengalaman sehari-hari dan hubungan yang responsif sangat menentukan proses pembentukan dan penguatan koneksi saraf anak.

Dengan demikian, stimulasi yang konsisten, penuh kasih, dan tanggap terhadap kebutuhan anak menjadi unsur penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka.

Lima Tahun Pertama Sangat Menentukan

Pamela menegaskan bahwa lima tahun pertama adalah masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Pada fase ini, anak membutuhkan lingkungan yang aman, teratur, dan kaya pengalaman positif.

Ia juga menekankan beberapa prinsip penting dalam pendidikan anak usia dini. Di antaranya, setiap anak berkembang dengan kecepatan yang unik, belajar dengan berbagai cara, dan membutuhkan pengalaman yang disengaja dari orang dewasa untuk memperkuat proses belajar.

Menurut Pamela, hubungan yang penuh kasih dan responsif merupakan dasar bagi kesehatan dan perkembangan anak. Konsistensi pengalaman juga berperan penting dalam membentuk rasa aman dan kesiapan belajar.

Emosi dan Lingkungan Mendorong Pembelajaran

Dalam sesi tersebut, Pamela menjelaskan bahwa sistem limbik, yang berperan dalam pengolahan emosi, sangat memengaruhi proses belajar anak. Ketika anak merasakan cinta, kebaikan, dan kepedulian, kemampuan berpikir tingkat tinggi mereka lebih mudah berkembang.

Ia juga mengingatkan bahwa otak anak selalu mencari pola dari pengalaman yang mereka terima. Karena itu, lingkungan yang teratur dan tidak kacau akan membantu anak merasa aman sekaligus mendukung pembelajaran.

Pendidik anak usia dini, lanjutnya, perlu membantu membangun penopang perkembangan saraf anak melalui pengalaman yang tepat, konsisten, dan bermakna.

Bermain Tidak Boleh Tergeser

Pamela turut menyoroti tantangan dalam pendidikan anak usia dini saat ini. Ia menilai fokus berlebihan pada standar, tes, dan teknologi berisiko menggeser peran bermain dalam proses belajar anak.

Padahal, berbagai kajian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa bermain merupakan unsur penting bagi perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan etis anak.

Karena itu, pendidikan anak usia dini seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga memberi ruang bagi eksplorasi, interaksi, dan pengalaman bermain yang bermakna.

Kecerdasan Anak Bersifat Beragam

Dalam penjelasannya, Pamela juga mengaitkan materi dengan teori kecerdasan majemuk Howard Gardner. Teori ini menegaskan bahwa kecerdasan tidak hanya satu jenis, melainkan terdiri atas berbagai dimensi, seperti visual, interpersonal, kinestetik, linguistik, intrapersonal, musikal, naturalis, dan logis-matematis.

Melalui pemahaman ini, guru dan orang tua diingatkan untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Pendekatan pembelajaran pun perlu disesuaikan agar anak dapat berkembang sesuai keunikan masing-masing.

Keterampilan Hidup yang Perlu Dibangun Sejak Dini

Pamela juga menghubungkan materi dengan konsep Seven Essential Life Skills dari Ellen Galinsky. Tujuh keterampilan itu meliputi kemampuan fokus dan mengendalikan diri, memahami sudut pandang orang lain, berkomunikasi, membangun hubungan antargagasan, berpikir kritis, menghadapi tantangan, dan belajar secara mandiri.

Menurutnya, salah satu aspek yang kerap terlewat adalah kemampuan memahami perspektif orang lain. Padahal, keterampilan ini menjadi fondasi penting bagi anak untuk hidup bersama, berinteraksi, dan terlibat secara sosial.

Ia menekankan bahwa kualitas interaksi orang dewasa dengan anak sejak lahir menjadi awal penting bagi keterlibatan sosial mereka sepanjang hayat.

Refleksi bagi Guru dan Orang Tua

Early Childhood Professional Learning Series VIII menghadirkan refleksi bahwa membangun kembali fondasi pembelajaran anak usia dini tidak cukup hanya melalui pendekatan akademik. Emosi, hubungan, bermain, dan keterampilan hidup justru menjadi unsur utama yang harus diperhatikan bersama.

Dr Pamela C. Phelps mengingatkan bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka hafal hari ini, tetapi juga oleh kemampuan mereka mencintai proses belajar, memahami orang lain, dan menghadapi tantangan kehidupan.

Sejalan dengan semangat Strengthening Early Childhood Education Together, tema Rebuilding the Foundation of Early Learning menjadi ajakan bagi guru, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara utuh, baik secara emosional, sosial, kognitif, maupun spiritual.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/