Doktor ke-63 PAI UMS Ungkap Retensi Guru di Pesantren

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Program Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menambah lulusan doktoralnya. Muhammad Nur Latif dikukuhkan sebagai doktor ke-63 setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi doktor dan meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89.
Dalam proses akademiknya, Latif dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Waston, M.Hum., serta Ko-Promotor Prof. M. Sholahuddin, S.E., M.Si., Ph.D.
Dalam disertasinya, Latif menyoroti fenomena retensi guru di Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin. Ia menjelaskan, jika dianalisis dengan Human Capital Theory dari Gary Becker, ketimpangan antara tuntutan kompetensi yang tinggi dan rendahnya insentif remunerasi secara rasional semestinya memicu keluarnya tenaga pendidik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
“Tidak ada satu pun guru inti yang keluar. Resiliensi institusional ini merepresentasikan anomali keberhasilan yang esensial untuk dieksplorasi. Fenomena anomali tersebut justru menunjukkan beroperasinya mekanisme retensi khusus yang bekerja di luar jangkauan teori manajemen konvensional,” kata Latif, Rabu (8/4/2026).
Dari hasil penelitiannya, Latif menemukan sebuah arsitektur tata kelola sumber daya manusia yang ia sebut sebagai Maqashid-Based Value-Safeguarding Architecture (M-VSA). Menurutnya, lima prinsip al-Dharuriyyat al-Khams dalam konsep ini tidak lagi hanya menjadi landasan moral, tetapi telah berkembang menjadi instrumen manajerial yang tersusun sistematis.
Ia juga mengidentifikasi VRIN Spiritual Capital Lifecycle, yakni siklus manajerial yang menggambarkan transformasi seorang pendidik dari human capital yang bersifat transaksional menjadi spiritual capital dengan karakteristik valuable, rare, inimitable, dan non-substitutable.
Temuan berikutnya adalah Maqashid-Based Value Safeguarding Mechanism (M-VSM), yaitu sistem pertahanan nilai yang bekerja secara menyeluruh dalam menjaga ekosistem pesantren. Sistem ini dianalogikan seperti kubah masjid yang melindungi keseluruhan struktur dari berbagai ancaman.
“Ia melindungi seluruh ekosistem dari ancaman eksternal dan internal yang dapat merusak kemurnian nilai,” ujar Latif.
Salah satu instrumen penting dalam mekanisme tersebut adalah radar anti-eksploitasi. Latif menilai ancaman terbesar dalam ekosistem nilai pesantren ialah praktik eksploitasi yang dibungkus dengan narasi keikhlasan.
“Ini terjadi ketika narasi pengabdian digunakan untuk menjustifikasi beban kerja yang melampaui batas kemanusiaan tanpa kompensasi yang proporsional,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pesantren Al-Mukmin menerapkan batas tegas antara tugas profesional berbayar (paid load) dan aktivitas sukarela (infaq time).
“Batas ini ditegakkan secara konsisten,” tegasnya.
Ketiga model tersebut kemudian terintegrasi dalam satu sistem besar yang dinamakan The Maqashid-Based Spiritual Capital Management Ecosystem (M-SCME). Sistem ini menunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan tenaga pendidik di pesantren tidak semata ditentukan faktor material, tetapi juga oleh ikatan ideologis dan nilai-nilai transendental yang dibangun secara sistematis.
Sementara itu, Ko-Promotor Prof. M. Sholahuddin berpesan agar gelar doktor yang diraih Latif dimaknai sebagai amanah yang harus diwujudkan dalam praktik nyata.
“Maka wujud syukurnya adalah ketika Anda beraktivitas di mana saja. Anda perlu menerapkan atau mengimplementasikan apa yang sudah didapat di pendidikan ini, baik itu di tempat kerja, di pondok, atau di mana saja,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan antara alumni dengan institusi dan para dosen.
“Dan saya harapkan tidak hanya sampai di sini saja hubungan kita. Hubungan antara alumni dengan institusi, hubungan antara alumni dengan para dosen-dosennya. Kalau dosen itu, maksudnya pengajar, itu tidak ada namanya ‘mantan’. Tidak ada mantan dosen, adanya dosen ya tetap dosen selamanya adalah dosen,” pungkasnya.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



