Cetak Petani Cilik, UMS Terapkan Metode AgroSchooling TK di Boyolali
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tim pengabdian masyarakat RisetMu dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meluncurkan sebuah program inovasi pembelajaran luar ruang yang unik. Mereka mengajak puluhan siswa untuk aktif bergerak dan berinteraksi langsung dengan alam. Langkah taktis tersebut terwujud melalui pengenalan Metode AgroSchooling TK di TK Aisyiyah Banyudono, Boyolali, pada Mei 2026 ini.
Pada awalnya, suasana halaman sekolah dasar tersebut mendadak berubah menjadi area perkebunan mini yang ramai. Anak-anak tampak asyik memegang tanah subur dan memilah aneka jenis bibit sayuran. Oleh karena itu, skema belajar ini menjadi angin segar untuk mengusir kejenuhan pola pengajaran klasikal di dalam ruangan.
Sebab, ketua tim pengabdian, Dinda Safitri Ramadhani, S.T., M.Eng., sengaja merancang agenda ini demi menguatkan kecintaan anak terhadap bumi. Pihak kampus menginginkan para siswa memiliki pemahaman yang utuh mengenai asal-usul makanan sehat mereka. Melalui kedekatan emosional inilah, nilai-nilai kebaikan alam dapat tertanam kokoh dalam memori kolektif anak.
Praktik Mandiri Semai Benih dan Rawat Tanaman
“Ide ini lahir dari keinginan untuk memperkuat literasi hijau anak-anak melalui metode pembelajaran yang lebih nyata dan aktif,” ujar Dinda pada Sabtu (23/5). Terkait teknis pelaksanaan, tim UMS mengemas seluruh materi lingkungan ke dalam rangkaian aktivitas permainan berkelompok yang sangat seru.
Mula-mula, para instruktur membimbing anak-anak untuk memasukkan media tanam berkualitas ke dalam pot-pot kecil. Selanjutnya, para petani cilik tersebut berlatih menyemai benih sayuran unggul ke dalam wadah tray semai secara mandiri. Tidak hanya berhenti pada proses menanam, siswa juga menerima tugas harian untuk menyiram tanaman agar tumbuh optimal.
Kenyataannya, pendekatan belajar berbasis praktik langsung (learning by doing) ini terbukti sangat efektif untuk melatih rasa tanggung jawab anak. Anak-anak menjadi lebih menghargai proses pertumbuhan tanaman yang membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi. Dampaknya, muncul rasa bangga yang luar biasa di dalam diri siswa saat mereka melihat daun-daun hijau mulai tumbuh besar.
Kolaborasi Keberlanjutan Bersama Guru dan Orang Tua
Melihat antusiasme yang tinggi, perwakilan pihak sekolah, Nunik Isnawati, memberikan apresiasi yang sangat besar atas inovasi ini. Sebab, pemilihan tema dunia tumbuhan sangat selaras dengan kebutuhan kurikulum merdeka usia dini. “Sangat bagus sekali bagi anak-anak untuk pembelajaran,” ungkap Nunik dengan nada penuh kepuasan.
Lebih lanjut, keberlanjutan program ini tidak hanya bertumpu pada keaktifan para murid semata. Oleh karena itu, tim RisetMu UMS juga memberikan pembekalan materi khusus kepada para guru kelas. Pelatihan internal ini berfungsi agar pihak sekolah mampu mengelola kebun edukasi tersebut secara mandiri setelah masa pengabdian kampus selesai.
Sebagai langkah jangka panjang, pihak yayasan berkomitmen penuh untuk mematenkan Metode AgroSchooling TK sebagai agenda rutin mingguan. Bahkan, mereka telah merancang agenda penutup bertajuk “Green Sharing Day”. Alhasil, momen memanen bersama nantinya akan menjadi ajang pembagian sayur organik gratis kepada wali murid sebagai simbol nyata edukasi ketahanan pangan anak
Kontributor: Maysali
Editor: ayma



