Bukan Sekadar Mengajar: Cara ‘Aisyiyah Ciptakan Sekolah yang ‘Memanusiakan’ Semua Anak
PWMJATENG.COM, BANDUNG – Di tengah tantangan keberagaman, ribuan pendidik PAUD di Indonesia kini bergerak serentak. Mereka mengadopsi pola pendidikan inklusif untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak belajar yang setara.
Gerakan ini menunjukkan tingginya atensi praktisi pendidikan terhadap isu kesetaraan. Tercatat 1.518 peserta dari berbagai provinsi mengikuti webinar untuk menyimak strategi menciptakan ruang kelas yang ramah. Antusiasme yang besar ini membuktikan bahwa pendidikan inklusif telah menjadi prioritas utama bagi guru, kepala TK, hingga pengelola kelompok bermain di seluruh Indonesia.
Menjadikan Sekolah Ruang yang Ramah
Prof. Herwina Bahar menekankan bahwa pendidikan inklusif harus melampaui sekadar bentuk rasa kasihan. Sekolah wajib memberdayakan setiap anak agar mereka mampu berkembang sesuai dengan potensi uniknya masing-masing.
“Pendidikan inklusif tidak cukup dipahami sebagai bentuk kepedulian atau belas kasih semata. Pendidikan inklusif harus kita wujudkan dalam bentuk pemberdayaan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki,” ujar Prof. Herwina Bahar.
Selanjutnya, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menggerakkan Program GembiraMu untuk membangun ekosistem yang ramah anak, disabilitas, hingga gender. Mereka melakukan penyesuaian kurikulum serta menyediakan sarana prasarana yang aksesibel. Selain itu, para guru kini memperdalam keterampilan empati agar mampu melayani kebutuhan peserta didik yang beragam di dalam kelas.
Nilai Islam sebagai Fondasi Inklusivitas
Upaya tersebut mencerminkan wujud nyata dakwah Islam Berkemajuan. Melalui tindakan konkret di dunia pendidikan, masyarakat melihat bahwa nilai-nilai Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin. Lembaga pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pun menolak keras segala bentuk diskriminasi.
“Sekolah atau madrasah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua anak. Oleh karena itu, jangan biarkan satu pun peserta didik merasa terpinggirkan hanya karena perbedaan kemampuan, kondisi fisik, atau latar belakangnya,” tegas Prof. Herwina.
Setiap anak memiliki martabat yang sama di hadapan Allah SWT. Keyakinan inilah yang mendorong ribuan pendidik untuk terus berikhtiar menciptakan sekolah yang membahagiakan. Lingkungan sekolah yang inklusif, pada akhirnya, mampu mendorong tumbuh kembang anak secara optimal.
Membangun Masa Depan Indonesia Emas
Gerakan ini merupakan bagian krusial dalam menyongsong Indonesia Emas. Pendidik terus berupaya bekerja sama menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi seluruh anak Indonesia.
Di akhir paparannya, Prof. Herwina menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Ia meyakini bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus kita rayakan bersama, bukan penghalang bagi kemajuan bangsa.
“Pendidikan inklusif untuk semua anak, tiada yang tertinggal, tiada yang rapuh. Semua anak harus merasa aman, nyaman, gembira dan menggembirakan saat menyambut Indonesia emas,” tutupnya.
Kontributor: Hendra Apriyadi
Editor: Alafasy



